identifikasi limbah b3

Okay, kali ini mau share tentang kerjaan (atau mantan kerjaan?), haha.. Setelah sekian lama posting soal ini itu, baru sekarang kepikiran untuk share hal-hal yang sudah “dipelajari” di kantor. Saya bergelut (cieehh) di bidang limbah B3 ini sekitar 5 tahun siy, belum terlalu lama juga. Tapi yak marilah kita sharing saja, biar saya pribadi ada note seandainya suatu hari nanti lupa soal B3 ini.

Apa itu limbah B3? Apa pula B3 itu?
::: B3 adalah singkatan dari Bahan Berbahaya dan Beracun. Beda antara B3 dan limbah B3, ya jelas beda lah *ditampol* :) Limbah merupakan sisa, sedangkan bahan ya yang bukan sisa (apaan nih). Definisinya, silakan lihat di PP 18 Jo PP 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3 (fyi, PP ini akan direvisi dan saat ini/tahun 2013 sedang dalam proses revisi)

Identifikasi Limbah B3?
::: Ini sering saya sampaikan di pelatihan. Secara komprehensif silakan kembali ke PPnya. Namun secara mudah saya akan list cara mengidentifikasi limbah B3 sebagai berikut:
1. Lihat Tabel 1, 2 dan 3 Lampiran 1 PP 18 Jo PP 85 Tahun 1999
Cara mengidentifikasi pertama adalah dengan mencocokkan jenis kegiatan/usaha/industri.
Tabel 2 menjelaskan Sumber Spesifik, artinya kalau ada jenis industri yang masuk di lampiran ini berarti secara otomatis menghasilkan limbah B3, misal pupuk, pestisida, rumah sakit dsb. Ada 51 usaha/kegiatan yang secara spesifik menghasilkan limbah B3.
Tabel 1 menjelaskan Sumber Tidak Spesifik, merupakan limbah B3 dari kegiatan pendukung di industri, misalnya oli bekas dari maintenance mesin atau aki bekas.
Tabel 3 merupakan daftar bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, sisa produk off-spec dsb.
2. Sifat dan/atau karakteristik
Cara identifikasi kedua adalah melalui sifat dan/atau karakteristik dengan uji/analisis di laboratorium. Jadi bukan sekali lirik tau ye bok. Prinsipnya kalau limbah yang diuji mengandung satu atau lebih karakteristik: mudah terbakar, mudah meledak, reaktif, infeksius, korosif, beracun maka limbah tersebut masuk sebagai limbah B3.
3. Uji Toksikologi
Dilakukan melalui LD50 atau Lethal Dose 50, dinyatakan dalam gr/kg bb. Merupakan cara analisis yang sedikit kejam karena mengukur respon kematian hewan uji. Artinya begindang, misalnya ada 10 ekor mencit, kita cekokin pake limbah dengan dosis X ternyata 50% populasi punah, maka dapatlah konsentrasi LD50 nya sebesar X. Secara otomatis masuk limbah B3 bila LD50 kurang dari atau sama dengan 15 gram per kilogram berat badan.
4. Sifat Kronis
Lolos ketiga identifikasi diatas? Mari kita lanjutkan dengan Sifat Kronis, silakan bukak PPnya sodara. Ada sekitar 11 pertimbangan evaluasi sifat kronis. Sifat kronis itu apasih? Kronis adalah sifat jangka panjang, akumulasi terhadap lingkungan gitu. Jadi dipertimbangkan juga selain tingkat akutnya.

Contohnya, cin?
::: Misalnya:
1. Kegiatan Industri Tekstil — masuk di Tabel 2 Lampiran 1 — limbah B3 dari proses produksi
2. Industri Minuman Bersoda — tidak masuk di Tabel 2 Lampiran 1. Namun punya fasilitas pendukung seperti laboratorium, poliklinik, menggunakan power plant dengan batubara, maintenance mesin — limbah B3 dari fasilitas pendukung (sisa analisis lab, limbah medis, fly ash/bottom ash, oli bekas dsb)
3. Limbah tak teridentifikasi — silakan di uji di lab untuk karakteristik dan toksikologi sesuai penjelasan diatas yah.

Trus kalau tidak termasuk limbah B3?
::: Prinsipnya semua limbah, ketika sudah dihasilkan mesti dikelola. B3 ataupun tidak.

Gitu ya. Penjelasan tentang Pengelolaan Limbah B3nya menyusul, cape nih ngetiknya *duile* ;) Bye.

2 thoughts on “identifikasi limbah b3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s