Posted in Bapak Ibu

Bapak

Aku ingat… kenangan tentang Bapak ketika aku masih kecil, adalah bersepeda ke lembah UGM setiap hari minggu untuk berolahraga, dilanjut makan bakso atau es teler sekeluarga. Aku dan Bapak, jalan-jalan sore keliling beberapa blok untuk melihat-lihat dan membeli majalah dan komik yang aku suka. Memanggulku di pundak ketika nonton Sekaten. Melarang jajan makanan yang aneh-aneh, yang kotor tidak diplastik dsb. Atau saat aku selalu lari mengadu padanya bila aku dimarahi Ibu. Dan setiap malamnya, ketika Bapak membacakan buku cerita atau mendongengkan aku dengan cerita buatannya sampai Bapak ketiduran karena kecapekan sepulang kerja. Dan hanya absen bila Bapak dinas keluar kota.

Bapak yang mengajari aku untuk mencintai buku, selalu membaca dan belajar sebanyak-banyaknya ketika aku memiliki waktu dan kesempatan, yang tidak dimiliki Beliau. Berpesan ketika aku menginjak remaja, untuk menjaga diri, menjadi anak perempuan yang baik hingga aku menikah, karena menjaga kehormatan anak perempuannya adalah salah satu tiket Bapak ke surga nanti, begitu penjelasan sederhananya.

Bapak, menjelaskan namaku yang sangat njawani, kenapa menamaiku Padma yang berarti bunga teratai pink, yang tetap bersih walau hidup di lingkungan air yang kotor. Menjadi Padma tidak secantik Mawar, tidak seanggun Lily, tidak sewangi Melati; tapi bagi Beliau, aku adalah anak perempuannya yang cantik dan unik dengan caranya sendiri, yang diharapkannya dapat hidup dengan baik walau berada di lingkungan seperti apapun.

Bapak yang selalu ada, menjadi yang pertama berbangga dengan keberhasilanku, berada di sisiku dan memelukku ketika aku gagal dan sedih, tidak pernah marah ketika aku mengecewakan Beliau. Selalu mengusahakan yang terbaik untukku dan percaya padaku bahkan ketika aku kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri.

Bapak yang mengisahkan cerita-cerita wayang, salah satu kisah favorit Bapak adalah tentang kisah Resi Brajapati (semoga tidak salah). Seorang Resi/Pandito berwujud raksasa. Punya anak perempuan cantik jelita yang jatuh cinta pada seorang lelaki. Tapi lelaki ini malu membayangkan punya mertua raksasa, jadi meminta syarat pada si Resi, bahwa dia mau menikahi anak perempuan ini asalkan si Resi mati bunuh diri. Akhir cerita, Resi memilih untuk mati asal anak perempuannya bisa menikah dengan lelaki yang dicintainya. Bahkan Resi tersebut menghadiahkan senjata pada si menantu-malin-kundang ini. Kesimpulan dari Bapak, bagi seorang Ayah, jangankan harta, nyawa saja diberikan untuk anak-anaknya.

Bapak, ketika menganggap aku cukup dewasa dan menjelaskan banyak hal. Membangun mindset dengan mengajakku ke UGM setiap minggu pada waktu aku kecil, agar ketika dewasa nanti aku punya tujuan kuliah yang jelas. Mendongengkan bacaan setiap malam agar aku tertarik untuk belajar membaca sejak dini, sehingga Ibu berhasil mengajari aku membaca di usia 3 tahun. Mengenalkan aku pada budaya leluhurku, budaya Jawa yang indah. Mengatakan padaku untuk sungguh-sungguh mengamalkan setidaknya satu ayat Al-Qurโ€™an dalam hidupku, dan aku mencoba memahami dedikasi dan pengorbanannya yang sangat besar untuk keluarganya, anak-anak dan istrinya, orangtua dan adik-adiknya, serta semua orang yang dikenalnya.

Kilasan-kilasan itu, kembali muncul pada saat aku bersiap-siap untuk Sungkeman di upacara Siraman. Sambil memegang teks siraman yang mengungkapkan terima kasihku dan permohonan maaf atas kesalahanku saat aku ikut Bapak Ibu dari kecil hingga dewasa. Serta permohonan doa restu untuk menikah dengan lelaki yang aku cintai. Rasanya teks itu terlalu sederhana ketika aku ingat lagi, apa yang telah Bapak berikan untukku selama ini.

Tapi, ketika aku sampaikan kepada Bapak Ibu pada saat sungkeman, bahkan beliau meminta maaf bila dalam membesarkan aku, banyak keinginanku yang tidak dapat beliau penuhi. Pesan-pesan yang dibisikkannya ketika aku sungkem, pelukan dan air matanya ketika sah ijab kabul, desah leganya telah menyelesaikan tugasnya sebagai orang tua.
Bapak, yang dikenal orang lain, saudara, tetangga, teman sejawat, siapapun sebagai โ€œorang yang baikโ€, orang yang apa adanya, tidak aneh-aneh dan selalu membantu siapapun, tulus ikhlas, tanpa pamrih. Bapak yang memilih hidup sederhana. Betapa aku mencintai dan menghormati Bapak. Dan sangat bersyukur bahwa hingga detik ini, Allah masih mengizinkan Bapak untuk menemani dan membimbing langkahku. Dan aku percaya, ridho Allah adalah ridho orangtua, sehingga setiap pencapaian dan keberhasilan yang telah aku raih, tidak lepas dari doa-doanya yang tidak pernah putus.

Doaku selalu untuk Bapak, karena hanya doa yang aku punya; semoga Allah senantiasa melimpahinya dengan kesehatan, kekuatan, kesabaran, rezeki yang cukup dan apapun yang terbaik baginya. Aku telah menepati janjiku untuk menjadi anak dan perempuan baik-baik sampai aku menikah, Ya Allah, maka bila saatnya tiba nanti, bukakanlah pintu surgaMu untuk Bapak dan terimalah Bapak di tempat terbaik disisiMu. Amin.

Untuk Bapak Suwardi, ayahku yang paling hebat di dunia, doa dan cinta dari gadis kecilmu selalu..

i love my dad ^^
*re-post dari catatan saya di facebook, ditulis 13 Agustus 2009

Author:

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ in ๐Ÿ‡ณ๐Ÿ‡ฑ โ€ข wife&mom ๐Ÿ‘ช โ€ข parent teacher ๐Ÿซ โ€ข seasonal shopaholic ๐Ÿ‘œ๐Ÿ‘  โ€ข bookworm ๐Ÿ“– โ€ข dramafreak ๐ŸŽฌโ€ข bigeater ๐Ÿ๐Ÿฃ๐Ÿฐ โ€ข aspiring blogger ๐Ÿ“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s