Posted in me, parenting

Konseling dan Edukasi ASI Eksklusif (ASIX) bagi Ibu Bekerja

Ini adalah pertama kalinya saya mendapat undangan menjadi narasumber Sukses ASIX (ASI Eksklusif). Acaranya berjudul Konseling dan Edukasi ASIX untuk Ibu Bekerja. Pada awalnya sempat bingung juga, apanya yang mau disampein dan gimana caranya. Apalagi target grupnya adalah ibu-ibu di wilayah tempat tinggal saya, yang notabene adalah full-time mom.

Melalui polling singkat ke teman-teman terdekat, saya menyadari bahwa ternyata tidak semuanya tahu informasi mengenai ASIX. Lagi-lagi, saya bersyukur dengan beruntungnya saya memiliki akses informasi yang luar biasa untuk belajar tentang Laktasi (ASIX, ASIP dsb). Informasi itu berasal mulai dari Ibu saya sendiri (beliau kader kesehatan), teman yang lebih senior, seorang sahabat yang juga dokter, dan referensi baik buku maupun mbah google yang siap di klik kapan saja ^^

Acara diawali oleh psikolog Dinas Kesehatan (dari Puskesmas) mengenai Metode Konseling Sederhana untuk Ibu-ibu Kader. Intinya dalam proses konseling adalah menjalin komunikasi dua arah, mendengarkan dan mempelajari kesulitan yang dihadapi. Lalu mendukung, memberikan informasi yang relevan dan memberikan solusi.

Dilanjutkan oleh seorang dokter muda dari instansi yang sama, yang menjelaskan mengenai fisiologi laktasi, anatomi payudara, reproduksi ASI, Hormon Prolaktin, Hormon Oksitosin dan sebagainya.

Lalu tiba giliran saya untuk sharing pengalaman saya. Saya awali dengan mengatakan bahwa bagi saya, tidak harus bekerja kantoran untuk disebut sebagai ibu bekerja. Berwirausaha dimanapun, termasuk di rumah membuka warung maupun menjadi full-time mom yang memiliki kesibukan sehari-hari adalah bekerja. Bahkan di luar negeri, seorang full time mom disebut professional mother. Tuh, kan?😀

Saya juga mengungkapkan bahwa sebagai seorang ibu, saya ini masih ‘anak bawang’. Baru beberapa saat yang lalu saya menikah, (alhamdulillah) langsung hamil, dan melahirkan seorang anak. Sempat merasa takut dan cemas karena merasa tidak tahu apa-apa dan saya merasa belum memiliki keberanian yang cukup untuk bertanggungjawab atas seorang anak. Namun saya menghapus jauh-jauh pikiran itu ketika saya hampir kehilangan bayi saya sewaktu masih hamil, dan saya ingat betul bahwa saya berdoa dan meminta kepada-Nya bahwa saya menginginkan anak ini, karena anak ini sudah ada di dalam rahim saya dan berhak lahir ke dunia dan dibesarkan dengan kebahagiaan.

*malah-curhat😆😆😆

Lanjut!

Saya ingat melalui diskusi panjang antara saya dan ibu, saya dan suami, saya dan teman-teman, bahwa saya memutuskan untuk menyusui secara eksklusif. Lalu mulai mencari referensi tentang ASIX, setiap hari googling tentang ASIX untuk Ibu Bekerja. Saya membaca banyak sekali ketentuan yang mendukung Ibu Bekerja untuk tetap memberikan ASI, diantaranya rekomendasi dari WHO, peraturan dari UUD, UU Ketenagakerjaan, UU Perlindungan Anak, UU Kesehatan dan Hak Asasi Manusia. Semua berujung pada satu kesimpulan bahwa bagi Ibu Bekerja yang masih menyusui, mereka berhak atas istirahat lebih dari sekali sehari untuk menyusui anaknya/memerah/memompa.

Pun saya meminjam buku berjudul “One day symposium; Lactation: A Comprehensive Management to Optimalized Its Process and Gain More Benefits” dari sahabat saya yang seorang dokter. Berbagai artikel dari website AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) dan mencari kelas Edukasi di Jogja (sayangnya tidak ketemu).

Dan bahkan setelah dibekali banyak ilmu, ternyata bayi saya lahir dua minggu lebih cepat. Apakah dengan mengetahui segala teori lalu segalanya berjalan lancar? NO. Masalah pertama, ASI saya belum keluar saat bayi saya lahir. Kedua, bayi saya harus tinggal di RS selama 2 hari untuk terapi sehingga harus disiapkan ASIP (ASI perah) untuk diminumnya (padahal ASI saya belum lancar). Belum lagi penyesuaian perlekatan dan sakit yang luar biasa pada saat menyusui, sampai berdarah dsb. Tantangan produksi ASI yang naik turun. Dan masih banyak lagi.

Persiapan untuk kembali bekerja saya mulai sebulan setelah melahirkan. Saya mulai menghitung berapa banyak asupan ASI yang diminum bayi saya dari pagi sampai sore, volume dan frekuensinya (selama jam kerja). Setelah selesai menyusui, saya mulai memerah ASI yang tersisa, yang berarti setiap 2-3 jam sekali, terutama di malam hari karena di malam hari produksi ASI justru melimpah. Malam sebelum tidur, tengah malam, subuh, sebelum berangkat kerja, saat makan siang, pulang kerja dan setelah maghrib adalah jadwal sehari-hari untuk menyiapkan ASIP.

Langsung selancar itukah? Cencu tidak. Pertama kali saya hanya mendapat 30 cc setelah kurang lebih setengah jam berusaha keras memerah. Sakit bukan kepalang😀 Tapi alhamdulillah seiring berjalannya waktu semuanya semakin lancar🙂

Setelah masuk kerja, masalah yang timbul adalah seringnya penurunan produksi ASI. Untuk menjaga produksi ASI tersebut, saya makan hampir 2x lebih banyak dari porsi biasa. Buah-buahan jadi cemilan saya di antara waktu makan. Minum sekitar 3 liter air putih per hari. Vitamin dan jamu juga. Namun rasa lelah, banyak pikiran, stress dll adalah sebab utama kesulitan ASIP. Saya tahu bahwa bila Ibu merasa tegang/stress maka hormon oksitosin tidak dapat bekerja untuk diteruskan ke hormon prolaktin yang memproduksi ASI. Otomatis ASI juga akan stop walaupun bahan baku/asupan makanan cukup. Maka harus dipastikan lagi untuk cukup istirahat, rileks dan bahagia juga kunci utama sukses ASIX.

Disinilah peran breastfeeding father (dan breastfeeding grandma) alias suami saya (dan ibu saya). Dukungan dan perannya untuk menggantikan menjaga bayi saat saya butuh istirahat sangat saya rasakan. Begitu juga keluarga (ibu dan ayah) saya serta pengasuh bayi saya, karena merekalah yang menjaga bayi saya saat saya bekerja. Si mbak-lah yang telaten menghangatkan, telaten menyendoki ASI, mencuci dan mensteril botol.

P.S. Si mbak pengasuh yang sudah bertahun-tahun bekerja mengakui bahwa: lebih mudah menghangatkan dan menyendoki ASI untuk bayi saya dibanding menyiapkan susu formula. Katanya kalau susu formula susah mencari komposisi yang pas, kalau terlalu kental bayi bisa sembelit, terlalu encer bayi mencret, terlalu panas bayi bisa sariawan, terlalu dingin perutnya nanti kembung.

Ini salah satu keistimewaan ASI, komposisinya selalu pas ^^

Kemudian saya juga berbagi teknik memerah kepada ibu-ibu disana. Untuk mempersiapkan ASIP saat bekerja, modal saya cuma 4 barang, yaitu:

  1. Botol kaca (yang sudah disteril)
  2. Wadah
  3. Breast Pad yang bisa dicuci (yang juga bisa diganti handuk kecil)
  4. sabun cuci tangan.

Simpel bukan? Lagi murah meriah dan tidak repot. Hanya perlu sabar. Karena tidak ada yang instan. Apalagi mempersiapkan ASIP dengan tangan memerlukan waktu sekitar 15-30 menit. Rekor saya dalam sehari bisa dapat 7 botol ASIP @ 100-120 mL. Kalau dikalikan jumlah hari dalam sekian bulan kira-kira sudah berapa liter ya?🙂

Tetap saja, banyak masalah menyertai perjuangan ASIX. Belum lagi godaan teman2 sekantor setiap melihat saya menenteng cooler bag dan sampai dijuluki sapi perah, belum setiap ada undangan makan siang/ajakan menengok teman mesti saya absen karena saya harus pulang untuk menyusui. Tapi saya sih go on saja..😀

Dengan begini saya dapat membuktikan bahwa, ASI saja cukup untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga berat badan bayi. Saya punya bukti KMS timbangan bayi saya rutin setiap bulan di Posyandu dan di RS dan hasilnya jauh diatas pita tertinggi KMS memuaskan.😀 Sampai saat ini, alhamdulillah anak saya jarang sekali sakit, kalaupun ada paling pilek ringan atau batuk. Kemampuan berkomunikasinya juga baik sekali. Perkembangan fisiknya juga luar biasa.

Kesimpulan saya, menyusui itu tidak mudah. Saya bertahan. Saya berjuang. Saya terus berfikir dan menguatkan tekad bahwa untuk membekali anak saya, tidak hanya semata-mata Tabungan Pendidikan sekian rupiah setiap bulannya, Asuransi Kesehatan dan berbagai fasilitas yang bisa kita (sebagai orangtua) berikan padanya.

Dengan bersabar dan berjuang selama 6 (enam) bulan saja pada bulan-bulan pertama kehidupannya, seorang Ibu dapat memberikan “modal” terbaik bagi anak melalui tubuh yang kuat dengan kekebalan tubuhnya, tingkat kecerdasan yang baik, dan kedekatan emosional dengan kedua orangtuanya. Enam bulan saja, dan bila memungkinkan diteruskan selama dua tahun. Untuk seumur hidup anak kita.

Teruntuk putraku Arga Danadyaksa.

*terharu sendiri bacanya.. so, i’m a fighter and i know i can do it😀

**re-post from my fb notes, written February 14th, 2011

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

2 thoughts on “Konseling dan Edukasi ASI Eksklusif (ASIX) bagi Ibu Bekerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s