Posted in love

How We (First) Met

Saat itu sekitar tahun 1997, waktu masih kelas 3 SMP dan kisah ini (idiih bahasanya) berlokasi di salah satu bimbel di Jogja. Kebetulan saya mesti pindah kelas, karena di kelas lama jadwalnya tabrakan dengan jadwal les lain. Jadi, masuklah saya ke salah satu kelas yang ada sohib-sohib saya. And guess what? Jreng jreeng, ternyata baru masuk kelas langsung dikerjai dan dijodoh-jodohin sama salah satu cowok (maklum masa SMP, mau apa lagi?), let’s say namanya si Jerawat.

Saya iiiinget betul yang demen ngerjain dan jodoh-jodohin saya adalah Gerombolan Siberat yang mana terdiri dari 3 orang yaitu Si Jerapah Jangkung, Si Ceking Jutek dan Si Gendut Jail. Mereka ini bandelnya kayak setan bukan kepalang. Pada satu ketika, saya dan teman-teman naik ke lantai 2. Di tangga kami papasan sama Gerombolan ini. Lagi-lagi si Gendut Jail godain saya dan karena sempet berhenti lama, makanya baru kali ini dapat kesempatan mengamati mereka (kalo hari biasa mana mungkin, noleh aja panjang urusannya) terutama si Ceking Jutek, yang saya inget dari dia adalah matanya. Tajam menusuk saya.. #eaaa

Lalu tak lama kemudian, saya membuka lembaran baru di SMA, yang mana kalau diibaratkan antara SMP dan SMA saya itu macam tas peralihan dari KW ke Authentic. Bukan sombong, tapi kenyataannya memang SMA ini termasuk favorit dan yang terbaik di Kota Pelajar ini. Makanya kebanyakan teman saya di sana kenal dari bimbel, karena dari SMP saya aja cuma 10 orang yang berhasil lolos.

Nah waktu masa orientasi, di kelas baru dimana saya masih jaga image malu-malu kucing, tiba-tiba ada yang teriak, “Looh, pacarnya si Jerawaaaaattt!!!” sambil nunjuk saya. Sontak seisi kelas menoleh ke arah suara dan kembali ke saya. MASYAALLOH.. Itu si Ceking Jutek baru ketemu lagi sudah ngajak berantem. Dan dimulailah hari-hari penuh keributan dan pertengkaran canda tawa antara saya dan si Ceking Jutek (kapan belajarnya? ini sekolah woiii.. Btw, Ibuku, maaf beribu maaf ya). Di kemudian hari inilah baru saya sadar bahwa bukan tatapannya tajam menusuk hati, tapi ternyata oh ternyata memang dasarnya mata si Ceking Jutek sipit khas Oriental/Asia jadi bawaannya ngincer terus, hihihi..

Momen yang paling saya ingat adalah waktu lustrum SMA, dimana malam itu saya dikejar-kejar beberapa orang tak dikenal dan akhirnya si Ceking Jutek (omg drama banget sih ;p) melindungi dan menemani saya. Di tenda kelas kami itu dia mendudukkan saya disampingnya sambil main gitar dan menyanyikan lagunya Dewa19 :”) Namun saat itu hanya sampai situ saja, karena saya sedang bersama dekat dengan kakak kelas yang akhirnya go away juga kok (kalo ybs baca; maaf ya, sebenarnya ku tak bermaksud, eh ya bermaksud ding) dan si Ceking Jutek juga sedang dekat dengan seorang gadis di sekolah kami (aku tau aku tau lho Ayah ;p).

Singkat cerita (udah ngantuk belum bacanya sis?) godaan tiada henti yang menguras jiwa raga itu berakhir di suatu Jumat dimana saya jadi nangis & ngambek seminggu lebih karena becandanya bikin emosi jiwa sudah kelewat batas. Dan atas komporisasi dorongan teman-teman kami, akhirnya dia minta maaf ke saya. Sambil ngejar-ngejar ke seantero sekolah tentunya, persis kayak drama Korea yang saya gila-gilai di kemudian hari itu, hihi.

Dan yang lebih ajaib lagi, setelah hari maaf sedunia itu, tiba-tiba kami di kelas duduk bareng, ketawa-ketiwi bareng dan jadi kompak. Godain masih, jail tetep, tapi lebih sopan kali ini. Bahkan ada momen tiba-tiba si Ceking Jutek gak masuk kurang lebih sebulan lamanya. Mana yang Ceking Jutek? Sakit apa? Kapan masuk? Saat itu, barulah nyadar kalau saya (sedikiiiiiiit) suka sama si Ceking Jutek. Apalagi saat ketemu pas belum sehat betul, melihat dia masih pucat tapi memaksakan diri masuk dan bilang, “nanti yang balikin bukumu, gimana? kan penting ini” padahal itu catatan biasa, tapi ternyata ada tulisan “ti amo” didalamnya.. huaaaaaa langsung terbang ke langit ketujuh (ya silakan muntah sodara-sodara).

Terus, akhirnya sebelum liburan natal, saya ditembak sama si Ceking Jutek. Dan proses menjawabnya lumayan lama lo, doski teraniaya selama sebulan lebih. Habisnya galau galau galau, iya enggak iya enggak.. padahal udah ditagih tiap hari dan tiap ketemu. Tega ya, hehehe. Trus akhirnya jadian? Iya lah. Dari yang “kita jalanin aja” ternyata sampai 11 tahun hingga akhirnya menikah. Lewat pasang surut, pasti. Putus nyambung, pernah. Berantem dan ngambek, sering. Godaan, iya. Tapi ya itu mungkin indahnya proses pengenalan yang lama. Jadi istimewa karena kami tumbuh dewasa bersama, benar-benar saling mengenal satu sama lain. Ketika cinta sudah terasa sangat natural seperti bernapas, apa lagi yang bisa diceritakan?😀

Namun ada hal yang saya tidak akan pernah lupakan. Dan justru yang mengingatkan saya adalah salah seorang sahabat yang sudah seperti kakak sendiri. Pernah teman-teman di lingkungan kerja bertanya, calonnya Cetut itu orang yang bagaimana? Dan sahabat sekaligus kakak saya menjawab; Dia pintar, simpatik, membuat orang nyaman dan saaaangat mencintai Cetut.. Dan kalau saya ingat kata-kata ini, saya ingat lagi betapa besar “pengorbanan” si Ceking Jutek itu agar kami bisa bersama-sama :”)

Terkadang kita lupa kalau cinta itu perjuangan. Saya berdoa saja, agar dipertemukan dan dipersatukan dengan jodoh kita yang terbaik, agar bisa saling menerima apa adanya, agar tetap saling mencintai, menghormati dan menyayangi satu sama lain, agar selalu menjadi sahabat terdekat dan terbaik sehingga bisa saling mendukung untuk meraih impian, saling menguatkan di kala susah dan saling mengingatkan untuk bersyukur di kala senang.. untuk seumur hidup bahkan selamanya.

Begitu kan Ayah? ^.^

I don’t know but I believe

That some things are meant to be

And that you’ll make a better me

Every day I love you

 

I never thought that dreams came true

But you showed me that they do

You know that I learn something new

Every day I love you

 

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

One thought on “How We (First) Met

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s