Posted in office

junior dan kader

However, this is my personal diary. Dan maaf kalo ada yang tidak nyaman karena saya mo marah-marah kali ini. Silakan postingan ini di-skip saja dan tidak usah dibaca.

Saya punya beberapa “junior” di kantor. Dan maaf, saya mesti jujur bahwa masuknya mereka pun atas rekomendasi saya. Saya diberi tugas untuk meng-kader mereka, yang sangat saya nikmati. Karena pada dasarnya saya percaya bahwa ilmu mesti disebarkan seluas-luasnya. Kedua, selain itu saya tidak setuju konsep one man show di kantor. Mesti ada back-up supaya ketika terjadi sesuatu pada si penanggungjawab, kegiatan bisa tetap jalan ada second man-nya. Ketiga, secara personal ini sangat menggembirakan saya karena berasa punya adik baru.

Secara substansial tidak ada masalah berarti. Mereka pada dasarnya cerdas, cepat menangkap hal baru, dan cepat belajar. Salah satunya bahkan sudah menjadi kader saya dan dia yang akan meneruskan pekerjaan saya ketika saya tugas belajar nantinya. Secara personal, saya punya kedekatan emosi juga. Kalau kadang ada perdebatan, konflik atau friksi masih saya anggap di batas yang lumrah. Kalau dia pernah ngeyel, saya juga. Kalau dia pernah nyebelin, saya juga. Jadi timbal balik lah. Yang penting saya berpesan, sebagai senior dan kakaknya, silakan belajar dari saya apa aja, tapi kalau yang jelek tidak usah ditiru. Itu pesan saya.

Yang sekarang terasa jadi masalah adalah yang satunya lagi. Secara substansi saya kuatir karena arah pembelajarannya jadi melenceng dari kompetensi dia. Dipikir-pikir dulu selain substansi, saya juga handle masalah perencanaan sih. Tapi tidak menghilangkan unsur teknis yang merupakan kompetensi saya. Kalau saya berpendapat, staf yang punya kompetensi teknis biarlah urusan kerjaan utamanya teknis juga. Tapi rupanya kondisi yang menjadikan seperti itu.

Hal lain disebabkan karena cukup muda, rupanya junior satu ini cukup labil emosinya. Ini agak repot, karena masih gampang terpengaruh lingkungan sekitarnya. Kalau lagi ‘kumat’, bisa sinis banget sampai njaprut sepanjang hari. Kalo lagi emosi, bisa nangis bercucuran air mata. Hey, saya juga gak sempurna. Saya pun kadang emosi. Cuma yang saya sayangkan, berkali-kali saya sampaikan, kerja di kantor mesti professional. Kalau tidak setuju atau ada keberatan pun, sampaikan dengan etika. Supaya tidak terasa ‘nranyak’ ke senior atau pimpinan. Ini pendapat saya lho, yang menurut saya baik, tapi bisa saja benar bisa saja salah.

Yang ketiga, sikap dengan orang luar. Karakter orang sangat berbeda-beda dan menjadikan kehidupan sosial menarik. Namun dalam kapasitas pekerjaan, lagi-lagi dituntut professional. Apalagi ketika misalnya kita berhubungan dengan instansi lain, sector lain, orang lain. Walaupun kita dirumah anak manja, dengan teman kita manja, dengan pacar juga manja, tapi kalau kerja gak mungkin dong kita manja-manjaan. Apalagi ketemu relasi. Haduh.

Kalo terkait kerjaan atau substansi, saya mah oke oke aja. Ayolah kita berdiskusi dan berdebat, sepanjang yang kita diskusikan adalah pengetahuan, pengalaman dengan koridor logika. Tapi ini masalah non teknis. Yang justru banyak banget tantangannya >.<

Saya menyayangkan hal ini. Akhirnya saya harus melepas dan mengikhlaskan dia. Bukan, bukan saya berhenti peduli. Tapi akhirnya semua hal kembali menjadi tanggungjawab masing-masing pribadi. Apakah akan tumbuh baik, pintar dan dewasa. Atau larut dalam ego, malas belajar dan tetap childish. Saya cukup memberi masukan dan peringatan, sejauh saya bisa. Ikhlas.

 

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s