Posted in friends, me, office

understanding

Percakapan ini terjadi di sebuah taksi yang membawa saya, rekan saya dan seorang ‘kolega’ yang dulunya (sampai sekarang ding) adalah ‘guru’ saya. Taksi itu membawa kami dari bandara Soekarno-Hatta menuju JCC, lokasi Pekan Lingkungan Indonesia yang diadakan kantor saya dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup.

E : Kapan berangkat Tut? (lanjut kuliah ke Belanda-red)

A : Mungkin akhir Agustus atau awal September, Pak.. (dalam hati: kok bisa tau: tau saya mo kuliah lagi, tau mau ke belanda, tau udah keterima beasiswanya)

E : Pesan saya nomor satu, Tut, ingat, jangan pulang kalau belum doktor. (S3-red)

A : Iya Pak, maunya begitu. Tapi selesai S2 mesti pulang dan lapor dulu. (dalam hati : kok tau saya pengen lanjut sampe S3?)

E : Lapor itu pasti. Tapi disana sekalian cari promotor untuk lanjut S3. Saya dulu 6 tahun di Perancis, 1 tahun belajar bahasa, 2 tahun S2 dan 3 tahun S3.

A : Iya Pak. Tapi untuk sementara goal saya lulus S2 dulu saja, hehe..

E : Kalo sudah doktor nanti pindah jadi dosen aja, itu pesan saya nomor dua.

A : (???) Kok.. Bapak tau isi hati saya, hehe. Emang pingin pindah Pak, kepikiran apa mau ke Kopertis aja..

E : Ngapain? Dosen negeri banyak kok.

A : Bapak kok tau ya keinginan saya?

E : Ya, saya kan kenal kamu. Kalo orang yang punya keinginan kedepan untuk menjabat, pasti bahagia di birokrasi. Kamu kan tidak, makanya saya sarankan mending jadi dosen saja. Sepertinya lebih cocok untuk kamu.

Sampai sini saya terharu banget. Guru saya ini, walaupun masih sering ketemu di berbagai acara karena beliau masih rutin jadi narasumber kantor saya, sebenarnya tidak banyak kesempatan untuk saya ‘curhat’ ke beliau. Tapi dia begitu mengerti saya. Ini orang yang mengenal saya luar dalam, pikir saya. Padahal begitu banyak yang sudah beliau lakukan dan berikan untuk saya. Logika, pertimbangan dan wejangan-wejangan seperti ini lah yang paling saya rindukan dari beliau. Semoga sehat selalu ya Pak dan semoga saya dapat kesempatan untuk tukar pikiran lagi dengan beliau secara panjang lebar, karena selalu ada rasa tidak puas ketika percakapan (terpaksa) selesai :’)

Author:

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ in ๐Ÿ‡ณ๐Ÿ‡ฑ โ€ข wife&mom ๐Ÿ‘ช โ€ข parent teacher ๐Ÿซ โ€ข seasonal shopaholic ๐Ÿ‘œ๐Ÿ‘  โ€ข bookworm ๐Ÿ“– โ€ข dramafreak ๐ŸŽฌโ€ข bigeater ๐Ÿ๐Ÿฃ๐Ÿฐ โ€ข aspiring blogger ๐Ÿ“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s