Posted in persiapan, toefl

TOEFL-IBT

Pertama, tulisan saya kali ini hanya bermaksud untuk share pengalaman saja. Kalau tentang definisi, perbedaan TOEFL, dan lain sebagainya, sudah banyak ulasan tentang hal tsb. Saya pilih TOEFL-IBT karena persyaratan dari Universitas (Uni) yang saya tuju di Eropa (Belanda) mensyaratkan begitu. Yang kedua terkait biaya test TOEFL IBT lebih murah dari IELTS. Ketiga, skornya gelondongan jadi satu, tidak sendiri2 seperti IELTS yang kadang mensyaratkan Writing sekian atau Speaking sekian.

1. Mendaftar TOEFL-IBT
Saya orangnya takut salah atau keliru, walau sudah banyak banget blogger yang menjelaskan prosedur mendaftar (sendiri) online untuk tes TOEFL IBT (bahkan sampe STEP by STEP), namun saya memilih untuk ke salah satu lembaga di Yogyakarta biar terima beres. Konsekuensi : membayar tambahan untuk biaya pendaftaran. sekedar info: Tesnya sendiri $165 dan ditambah pendaftaran 200k IDR. Yuk mariii :D).

SARAN PERTAMA : KALO GA PUNYA DUIT MO HEMAT JANGAN CEMEN

๐Ÿ˜†

Lalu saya ke kompleks Real English di ION Building (dekat Mirota Kampus UGM) dan disana saya menyampaikan maksud untuk mengikuti tes TOEFL. Isu penting adalah tanggal tesnya, dan ini erat kaitannya dengan ketersediaan hasil tes TOEFL. Untuk kasus saya, saya ikut tes tanggal 16 Februari 2013. Hasil tes keluar (bisa dilihat online di web) tanggal 28 Februari. Hasil tes nyampe ke rumah (student copy) sekitar akhir Maret. Jadi sekitar 1,5 bulan. Padahal, batas masuk dokumen beasiswa yang saya tuju tanggal 15 Maret. Cukup bikin jantungan. Trus pigimana? Saya telp pihak beasiswa dan menjelaskan situasinya, alhamdulillah wa syukurilah mereka mau menerima versi web printnya. *sujud-syukur* Oia, di Jogja lokasi tes ada dua ya teman, di Real English dan di CILACS UII Jl Ring Road Utara (dekat UPN).

SARAN KEDUA : ย KEBIASAAN JELEK MESTI DIBUANG; JANGAN SUKA MEPET KALO GA MO JANTUNGAN๐Ÿ˜† AMBIL TES TOEFL JAUH-JAUH HARI, SEKITAR 3-4 BULAN SEBELUM TANGGAL DEADLINE BEASISWA

Persiapan substansi. Ini mutlak perlu karena pertama, bagi saya biaya tesnya amit-amit mahalnya tidak murah. Kedua, ini satu-satunya kesempatan (bagi saya untuk daftar beasiswa tahun ini). Persyaratan dari Uni/Beasiswa yang saya tuju minimum score IBT nya adalah 80 atau sekitar 560 untuk ITP/PBT TOEFL (bisa cek google, ketik toefl score comparison). Saya ikut kursus persiapan, tapi karena lagi-lagi biaya kursus IBTnya mahal (sekitar 3 jutaan) maka saya ikut kursus ITP. Di Jogja pilih yang paling murah, di PPB UGM. Kursusnya sekitar 30 hari, dari Senin sampe Jumat… *ngantuk* Biayanya sekitar 1350k IDR. Gak nyambung? Biarlah. Saya kencengin aja dengan beli buku ibt dari ETS dan minjem barron ibt yang dilengkapi cd buat latihan.

SARAN KETIGA : NABUNG YANG BANYAK *derita-orang-boros*๐Ÿ˜†

Persiapan Fisik. Kenapa saya bilang ini perlu, karena, setelah perjalanan panjang les di malam hari selama sekitar sebulan, belajar pake cd ets dan barron di siang hari, ternyata.. di hari H saya kena flu, sodara-sodara. Dan bukan sembarang flu karena rasanya kayak mau mati luar biasa sakit. Yang saya rasain pas mo reading, mata berair. Mo listening, kuping budeg bunyi nging ngiiiing.. Mo speaking, idung mampet. Mo writing, tangan gemeteran karena kedinginan. Alamakjaan. Dan suasana ruangan super dingin tidak mendukung akika yang lagi atit. Akhirnya gimana? Ya udah kerjakan aja sebisa-bisanya dan pake metode cheetah yakni sekenceng-kencengnya, biar cepet rampung. Trus berdoa yang banyak, minta restu suami, ayah dan bunda๐Ÿ˜†

SARAN KEEMPAT : JAGA KONDISI FISIK TERUTAMA MENJELANG HARI H, KALAU BADAN RINGKIH KAYAK AKIKA PERLU MINUMLAH VITAMIN ย 

(anyway, ini kayak saran buat orang mo nikahan yak)

๐Ÿ˜†

๐Ÿ˜†

๐Ÿ˜†

Trus berapa skornya? Alhamdulillah cukup buat daftar, skor IBTnya dapat 89. (Segitu bangga :lol:) Bener-bener semata-mata ridho Yang Di Atas ini, karena kalau pake logika, dengan kondisi badan begitu, dengan kondisi tanggal yang mepet itu, kayaknya kok gak nyampe.. (Terimakasih Ya Rabb *sujud-syukur-lagi* Terimakasih yang kedua untuk keluarga terutama suami, anak dan orangtua saya. Terimakasih selanjutnya untuk.. ย *malah-pidato* *dikemplang-yang-baca*)

Yah, sampe segitu aja sharingnya. Ini udah panjang postingan, udah cape ngetiknya, juga udah banyak lupanya *pikun* ntar kalo ada yang penting ditambahin lagi. Silakan kalo ada yang mo sharing. Good luck to you all!

(kayak ada yang baca aja)๐Ÿ˜†

Author:

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ in ๐Ÿ‡ณ๐Ÿ‡ฑ โ€ข wife&mom ๐Ÿ‘ช โ€ข parent teacher ๐Ÿซ โ€ข seasonal shopaholic ๐Ÿ‘œ๐Ÿ‘  โ€ข bookworm ๐Ÿ“– โ€ข dramafreak ๐ŸŽฌโ€ข bigeater ๐Ÿ๐Ÿฃ๐Ÿฐ โ€ข aspiring blogger ๐Ÿ“

13 thoughts on “TOEFL-IBT

  1. Salam. Mbak (atau Ibu ya?), kalau persiapan untuk iBT itu lebih mahal atau murah dari persiapan IELTS? Oh ya, untuk di Jogja persiapan iBT yang bagus di mana, bagus kualitas dan bagus harga tentunya, yang paling bersahabat lah. Trims, cerita pengalamannya bermanfaat.

    1. Salam kenal Anomsarieta..
      Silakan mau panggil mba atau ibu atau cetut juga boleh๐Ÿ™‚ kalau toefl sendiri punya website resmi di http://www.ets.org/toefl, disana ada jadwal tes dan lokasinya. Untuk Jogja, setau saya di REAL sebagai penyelenggara tes resminya (ETS iBT TOEFL Official Test Center & Offsite IELTS Test Venue) juga ada persiapan baik iBT dan IELTS.

      Kalau pertimbangan dari saya yang pertama adalah universitas yang dituju, minimal mau ambil di negara mana dan dari sana bisa dicari informasi persyaratan yang diminta apakah harus iBT atau IELTS atau boleh salah satu. Di Belanda, misalnya, seperti kasus saya, bisa dua-duanya. Jadi buat saya, pertimbangan yang kedua adalah dari segi biaya. Untuk tesnya iBT sekitar $175 dan IELTS $220. Biaya kursus nya bervariasi, tergantung misalnya skor awal, pilih lecture yang lokal atau native (beneran ini) dsb, selain Real banyak juga kok lembaga kursus Inggris di Jogja yang menawarkan kursus serupa, tinggal di browse saja.

      Kalau dari pengalaman saya (dan teman2 yang “senior”) biasanya dimulai dengan tes TOEFL dulu bisa semacam TOEFL-like (sekitar 75rb) atau TOEFL-ITP (sekitar 300rb) sekedar tau pada kisaran berapa skor kita (dan berapa jauh dari target :D). Skor awal TOEFL-like saya sekitar 540 kalau tidak salah dan targetnya sih sekitar 580 sudah cukup (makanya milih kursus yang murah, trus sisanya latihan sendiri #ngirit). Nah, dari sana tinggal pilih strategi. Ada juga lho, teman2 saya yang milih belajar sendiri, dengan buku dari Barron (atau yang lainnya) atau practising online..
      Sekian dulu infonya ya (ini juga panjang banget), ditunggu progress selanjutnya๐Ÿ˜€

      1. Wah terima kasih atas penjelasan detailnya. Saya fresh graduate jadi saya justru sangat bersyukur mendapatkan balasan sepanjang ini. Sangat bermanfaat. Untuk toefl-like atau ITP saya tidak terlalu bermasalah karena sudah familiar dan hasilnya juga tidak mengecewakan. Masalahnya, format paper based berbeda dengan iBT, saya sering nervous kalau disuruh bicara seperti dalam tes iBT. Apalagi ielts, saya masih buta dengan format tesnya. Karena itu saya berpikir untuk les, walau ada yang bilang belajar mandiri saja bisa cukup beli bukunya, lebih murah. Mengapa saya bingung untuk iBT atau ielts mungkin karena saya juga masih bingung sebagai seorang fresh graduate mau menjadi scholarship hunter atau bekerja dahulu untuk mencari biaya hidup sekaligus modal untuk “menjual diri” ke universitas. ‘Kan untuk tes bahasa inggris saja biayanya cukup besar, belum lagi proses aplikasinya, jadi bekerja jadi hal wajib untuk saya. Tetapi tetap terima kasih banyak untuk infonya.

      2. wah, mirip kalo gitu. saya juga belajarnya pake ITP, tapi masalahnya nggak pe-de dengan kemampuan speaking saya. Tapi… in my opinion, sebenarnya tes IBT menurut saya lebih mudah, dalam artian lebih realistis sih. Kalau ITP kita harus berpikir untuk “mengerjakan soal” makanya di kursus persiapan (termasuk kursus ITP yang saya ikuti), lebih banyak teori dan kiat-kiat agar bisa naik skor ITPnya. Sedangkan IBT lebih practical, dari reading misalnya lebih ke understanding the story yang ada di dalam soalnya. speakingnya pun tidak mesti terlalu formal atau terlalu fluent. yang saya pelajari dari result and feedback IBT saya, justru aspek seperti clarity (kejelasan) saat bicara itu penting, bicara jangan terlalu cepat atau terlalu lambat. mungkin perlu dicoba dulu browsing, rasanya ada link untuk trial IBT test di websitenya ets, lumayan lho itu bisa memberi gambaran seperti apa tesnya๐Ÿ˜€

        ummm, kalau pilihan antara kerja dulu atau lanjut kuliah memang kembali ke masing2 ya. saya termasuk sama dengan Anom (eh boleh dipanggil Anom ga? :D) yang bertekad mandiri dan mencari biaya sendiri untuk lanjut studi. saya bisa studi setelah.. 7 tahun sejak terima sarjana S1 *malu* Tapiii, dari yang saya lihat disini, teman2 fresh graduate penerima beasiswa juga banyak. Dan keuntungan mereka disini (yang notabene masih muda, belum menikah) adalah tentunya masih fresh sekali untuk belajar, waktu longgar sehingga bisa jalan-jalan kemana saja dan kapan saja, daaan tentunya bisa menabung kalau bisa memanage allowance dengan baik. (psst, disini allowance itu setara gaji pegawai baru loh :D) Memang, TOEFL nya sendiri perlu biaya (mahal), namun bisa dipandang dari sisi investasinya, nanti kembali modal kok ketika dapat beasiswa, hihi๐Ÿ™‚

        Begitu ya, silakan kalo ada yang bisa dibantu, walau sekedar diskusi. Sukses selalu!๐Ÿ™‚

  2. Mbak cetut, mo nanya ibt preparation di real english biayanya brp ya??? Saya masih gak pede untuk sesi speaking pas ibt test nya….hiks

    1. Hai Happy, salam kenal๐Ÿ™‚ Seingat saya biayanya lebih mahal daripada tesnya, dan bervariasi tergantung level (ada pre-test untuk menentukan masuk level mana). Sepertinya sekitar 2-3 jutaan satu level, CMIIW. Bisa diakses kok di website, atau ditelfon ke kantornya langsung.

      Saya kurang tahu detilnya karena gak ngambil les disana. Saya malah ikut kursus Toefl yang ITP trus latihan sendiri pake buku Barron. Sepertinya ada juga kalo buat nyoba latihan di webnya ets (https://www.ets.org/) atau coba di googling.

      Speaking memang bikin keder kalo kita jarang komunikasi pake bahasa inggris ya (padahal yang laen baek2 aja)๐Ÿ˜€ Tapi seinget saya gak terlalu susah kok speaking nya. Aspek yang dinilai penting justru clarity dan fluency. Dan gak harus selesai yang kita omongin (pernah baca dimana gitu tentang ini). Terus, dari feedback sheetnya mereka bilang justru ketika saya ngomong terlalu cepat, jadi kurang jelas karena aksennya. Gitu. Semoga membantu ya, dan sukses!๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s