Posted in friends, me

life learn

Bertemu saya dengan seseorang yang istimewa. Saya sebut istimewa, karena selama 30 tahun hidup saya, dan bertemu ratusan teman, namun baru kali ini, saya mengalami hal seperti ini. Saya dimintai tolong, lalu saya bantu, saya pinjami uang, saya buka pintu rumah saya, saya berbagi makanan dan rezeki, saya hibur ketika susah. Coba tebak yang saya dapatkan ketika menasehati dengan DUA kata, “cobalah menabung”. Yang saya dapat adalah bentakan, bahkan hardikan di depan orang banyak. Bahkan setelah itu saya minta maaf kalau ada kata-kata saya yang menyinggung. Setelah itu saya saking khawatirnya berbuat kesalahan yang sama, maka saya diam dan bicara seperlunya.

Tidak lama berselang, datanglah orang-orang dan teman-teman lain, bercerita tentang keresahan publik karena ternyata ada masalah besar dan menyangkut orang ybs. Itu adalah masalah hutang yang jumlahnya fantastis dan tersebar ke banyak orang. Orang-orang datang dan bercerita keresahan mereka. Mereka melihat bukti di depan mata mereka bahwa hutang itu tidak diperuntukkan sebagaimana diceritakan ybs dan justru dipergunakan untuk bersenang-senang. Mereka mau melaporkan ini ke pihak yang berwenang. Sebenarnya saya sungguh tidak mau ketika diminta membantu menyelesaikan masalah ini. Saya kapok. Tapi hati kecil saya bicara. Akhirnya saya sarankan, pastikan keluarganya tau masalah ini. Pastikan ybs sudah diberi nasehat. Sebelum akhirnya ini diperkarakan.

Lalu, salah seorang teman memutuskan untuk menasehati ke ybs -untuk yang terakhir kalinya mungkin, karena sebenarnya dia pun sudah tidak mau ikut campur karena kapok setiap nasehatin selalu diteriakin seperti orang gila- pada satu malam. Berkata teman saya, bahwa ybs bilang malu, tolong jangan ceritakan sama teman-teman internasional. Sudah begini masih peduli pencitraan, kata teman saya. Besoknya, saya tidak lagi melihat dia di satu sosmed. Kaget saya, apa salah saya, saya di unfriend, pikir saya saat itu, karena ybs ini punya kebiasaan leave group atau unfriend kalau ada yang tak berkenan di hatinya. Saya tidak suka diunfriend, maka saya unfriend balik. Ya sudah, saya ikhlaskan yang satu ini.

Ternyata, malam hari, tak ada angin tak ada hujan, datang dia menyerbu ke apartemen saya. Menangis menjadi-jadi mengatakan saya meninggalkan dia (padahal di fb saja). Tidak, saya tidak kemana-mana, saya disini saja, jawab saya. Dia bilang, tidak mba, kamu tau semua hal tentang saya. Saya bilang, saya tidak tau, kamu berhenti bicara kepada saya. Lalu dia minta maaf, iya salah saya saya yang bentak kamu setelah kamu bantu saya, katanya (alhamdulillah sudah sadar). Kalau memang kamu kesini ada yang mau disampaikan, silakan sampaikan.

Lalu dia bicara. Tentang kesulitan keuangan dan semua uang yang dipinjam ia kirim ke suaminya. Bertanya saya, jadi suamimu tau jumlah hutangmu? Sambil cengengesan dia bilang, tidak semua mba, sebagian saya pakai liburan, buat beli tiket pesawat, blablabla. Hufh. Lalu apa yang kamu inginkan dari saya? Saya tanya, takut salah lagi. Dia bilang saya mesti gimana. Saya jawab, berhenti nangis dan selesaikan masalahmu. Pertama, jujurlah sama suamimu, lalu kalian berdua carilah cara untuk menyelesaikan hutang hutang ini. Yang mana yang mesti saya bayar dulu, tanyanya. Lah, saya tidak tau kamu pinjam ke siapa saja, yang saya tau semua orang punya keperluan, ada yang kepala keluarga, ada istri dan ibu yang menyokong keluarganya, anak yang setiap bulan kirim uang ke ibunya. Semua harus dikembalikan, saya bilang. Itu kamu yang harus selesaikan. Saya pun menyarankan sebagai manusia janganlah bernafsu membuat pencitraan di sosmed, berlagak mampu mentraktir ini itu, main kesini kesitu, dsb, padahal memaksakan diri (=ngutang). Lalu dia bilang lagi bahwa sudah seminggu dia tidak makan. Hmm. Oke, saya bawakan makanan. Pulang, makan dan selesaikan masalahmu, saya bilang. Saya anggap sudah selesai masalah ini (setidaknya dengan saya).

Hari berganti hari. Dia pulang ke Indonesia dan kembali ke sini. Beberapa teman kembali bercerita bahwa uang mereka sudah dikembalikan. Alhamduilllah, saya ikut lega kalau begitu. Semoga saja dia sudah berubah. Tak dinyana, tiba-tiba saya diblokir di sosmed. Ketemu saya di jalan, tidak menyapa lagi. Ada apa lagi ini, pikir saya. Ada indikasi bahwa saya dianggap kepo. Lagi-lagi membuat bingung, siapa yang berkali-kali datang nangis-nangis minta tolong? Kok saya yang dibilang kepo?

Tapi sudahlah.Saya tidak mau lagi ambil pusing, saya sudah ikhlaskan dia di paragraf ketiga tadi. Yah, life learn, seperti kata ibu saya, “ning ndonya uwong yo macem-macem koyongono nduk, ra kabeh apik, nggo pepak-pepak ndonya, nek kabeh apik teneh jenenge surgo” yang artinya “di dunia ini, orang ada bermacam-macam nak, tidak semuanya orang baik, biar dunia ini lengkap, kalau semuanya baik namanya bukan dunia tapi surga”. I think I lost one, but I can see I have more and more friends who care and share a mature friendship with me. Gitu ya mesti ikhlas. Jadi saya pasrahkan saja lah kepada Allah Yang Maha Mengetahui Segalanya. Amin.

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s