Posted in family, master, persiapan

Persiapan Kuliah Ke Belanda: Membawa Keluarga

Setelah seri postingan saya (yang terlambat setahun, astaghfirullah >.<) mengenai kuliah ke luar negeri disini, persiapan kuliah ke Belanda antara lain: TOEFL-IBT disini, Admission Letter disini, Pre-Departure Briefing disini, Barang Bawaan disini, Dokumen: Kontrak, Visa dan Tiket disini, serta Persiapan Ijin Tugas Belajar dan Paspor Dinas disini (banyak juga ya ternyata :D). Maka langkah selanjutnya adalah persiapan tinggal di Belanda, khususnya bagi yang membawa keluarga. Dimana kasus saya agak khusus, karena seperti yang saya jelaskan sebelumnya, suami saya juga melanjutkan studi sebagai PhD student sehingga kami pun berangkat bertiga bersama putra kami.

Hal-hal teknis yang dibutuhkan untuk persiapan tinggal di Belanda, ada tiga hal utama (postingan ini berasal dari ide dan sumber informasi dari rekan saya si N dan saya sendiri yang merupakan para master student yang membawa keluarga), yaitu:

1. Housing

Buat saya, ini termasuk yang paling penting.

Berdasarkan informasi dari N, ada dua penyedia housing di Wageningen, yaitu Idealis (www.idealis.nl) dan Woningstichting (www.de-woningstichting.nl). Sisanya adalah private housing yg bisa dicontact langsung ke penyewa (klo ada yang kenal, biasanya kenalan dari temen2 PPI yg sudah berada di kota tujuan) atau dgn jasa makelaar (bisa di-google, coba search dg keyword “family housing wageningen”).

Untuk Idealis, mereka tidak menyediakan family housing untuk Master students, jadi hanya untuk PhD students. Student building dari idealis, tidak bisa membawa anak, hanya tersedia untuk single room atau combi room yaitu untuk suami-istri saja, tanpa anak2.

Sedangkan utk Woningstichting, dia berdasarkan sistem lottery, jadi yg di-undi itu adalah urutan kita mendapatkan housing. Tetapi dua jalur ini lama prosesnya, bahkan woningstichting bisa tahunan antrinya. Selain itu, skrg juga ada pilihan INfacilities, yaitu family housing yang disediakan oleh kampus di Bennekom (di luar Wageningen, tapi cuma kira2 3-4 km dr kampus). klo udh bisa akses website kampus, silakan liat langsung di SSC ikutin link yang “housing”.

Sementara untuk di Enschede, normalnya master student (terutama untuk ITC Faculty) harus menempati student housing yang disediakan (ITC International Hotel). Namun untuk kasus saya, karena ITC tidak didesain bagi keluarga dengan anak, maka pihak universitas menyarankan kami untuk mengajukan form untuk menyewa apartemen yang dikelola oleh student housing.

Kami dibantu sepenuhnya oleh pihak International Office Housing of the University of Twente, dan ada banyak pilihan seperti apartemen di lingkungan kampus UT atau yang berada dekat city centre (centrum). Kami memilih untuk apartemen di daerah city centre, yang lebih dekat dengan kampus saya, hanya berjarak 5-10 menit bersepeda ke ITC Faculty.

Harga apartemen ini bervariasi tergantung fasilitas (seperti full furnished, electricity/gas), lokasi dan tentunya luasan. Kami meminta apartemen dua kamar, namun karena apartemen tipe tersebut semua full-booked maka kami mendapatkan apartemen satu kamar (one bedroom) dengan luasan sekitar 60m2, half-furnished, termasuk electricity/gas/wifi, berlokasi di city centre dan setiap bulannya kami membayar €749 (apartemen ini akan ada di postingan terpisah).

Yang perlu diperhatikan ketika mengisi dan mengirim form apartemen adalah tanggal apartemen mulai digunakan. Kami berbuat kesalahan karena diinformasikan bahwa mencari apartemen perlu jauh-jauh hari (6 bulan sebelumnya), jadi tanggal kedatangan di Enschede masih berupa perkiraan. Ternyata tanggal ini tidak bisa diubah karena bagian dari kontrak, dan kami harus “membuang” uang sewa sekitar satu setengah bulan *nangis*

Informasi untuk housing di Enschede ini bisa dilihat di www.acasa.nl . Selain acasa, seperti di Wageningen, ada juga berdasarkan sistem lottery yaitu yang paling sering dipakai adalah www.de-woonplaats.nl atau www.domijn.nl, dan beberapa yang lain bisa di google. (ini juga akan diceritakan di postingan terpisah :D)

Kenapa susah-susah cari housing yang dengan sistem lottery? Karena ini menunjukkan housing yang dikelola untuk pemerintah. Sehingga, bisa apply untuk housing benefit (toeslag) atau lebih familiar kita sebut, subsidi😆, yang besarannya sekitar 30% dari basic rent per bulan. Syarat utama adalah penghasilan tahunan dibawah €34000 dan basic rent (di luar service cost, water and electricity) tidak lebih besar dari (sekitar) €680 euro per bulan.

2. Kelengkapan Dokumen

Banyak kesimpangsiuran dalam hal ini. Berdasarkan informasi dari N, menurut Kedutaan, dokumen seperti akte kelahiran dan akte nikah harus ditranslate ke bahasa Inggris, dan dilegalisir di Kemkumham dan Kemlu (untuk akte nikah, ditambah Kemenag) sebelum dilegalisir oleh kedutaan Belanda.

Saya sendiri sudah bertanya ke pihak Neso dan mereka memberi informasi bahwa dokumen tersebut dibutuhkan (bisa juga diminta oleh pihak Gemente atau pemerintah kota dimana kita tinggal) ketika kita mengurus verblijf atau residence permit. Tetapi ada juga yang bilang tidak perlu legalisir ke Kementerian, cukup di Pemda setempat. Ada yang bilang juga kalau tidak diminta oleh pihak Gementee.

Saya karena tidak ingin gambling, daripada dari, maka segala akte kelahiran (suami, saya dan anak), akte nikah dan kartu keluarga kami urus semua translate dan legalisirnya. Dan ternyata pihak uni memang meminta akte nikah dan akte kelahiran Arga yang sudah ditranslate dan dilegalisir (untuk mereka mengurus MVV di IND).

Rekan saya yang ada di Jakarta kebanyakan mengurus sendiri surat-surat ini. Karena kami  berdomisili di Jogja, maka kami menggunakan jasa agen-agen khusus pengurusan surat-surat ini (dengan biaya yang cukup mahal). Rangenya sekitar 750ribu-1.5 juta per dokumen. Untuk jasa translatornya sendiri tidak mahal, sekitar 75ribu per halaman. Namun untuk legalisir memang agak mahal (bisa dicek di website masing2 Kementerian untuk legalisir).

Kami menggunakan dua macam jasa, dari Jakarta dan Jogja. Yang di Jakarta namanya Pak Suryono, sering diminta bantuan kok, dan lumayan cepet ngurusnya (toh habisnya juga 11-12 sama yang di Jogja), sekitar 3 minggu dari dokumen diterima beliau. Yang pihak Jogja, ternyata dokumen kami juga dikirim ke kantor biro jasa mereka di Jakarta, dan rampungnya jauh lebih lama. Agak nggak enak pengalaman kami dengan biro jasa di Jogja ini, karena translasi akte kelahiran saya ada yang keliru, jadi butuh waktu lama lagi untuk memperbaikinya. Lalu waktu saya lapor ke Gemente Enschede, ternyata ada lagi yang keliru *nangislagi*

3. Persiapan dana.

Ini sangat case by case. Bagi penerima beasiswa tunggal (khususnya master student) yang membawa keluarga, tentu saja tidak cukup allowance tiap bulan. Bagi PhD student, allowance atau salary (bagi yang dianggap sebagai employer di universitas) juga bisa digunakan.

Ada yang menginformasikan persyaratan kondisi keluangan yang harus dipenuhi untuk hidup bersama keluarga di Belanda dan bahwa diperlukan surat keterangan saldo tabungan yang sudah ditransfer ke euro, sekitar €1500 dikali 12 bulan (cek di www.ind.nl , karena biasanya tiap tahun ada perubahan/kenaikan) untuk pengurusan MVV di IND. Surat keterangan ini bisa diminta ke pihak bank.

Lagi-lagi karena tidak mau gambling, kami mengurus surat dari bank ini (dan juga menyiapkan salinan/scan surat kontrak dengan pemberi beasiswa). Namun pada kasus kami, dimana pengurusan MVV dibantu pihak universitas dan mereka pula yang “mengundang” anak saya untuk tinggal, maka dokumen ini tidak diminta.

Selain itu, ada juga biaya visa long-stay, sekitar 760ribu perorang. Nanti begitu sampai di Belanda, dalam waktu 6 bulan tersebut harus mengajukan Residence Permit ke IND tadi, dan klo sdh di-approve, biayanya 350 euro lagi perorang (klo belum berubah). Biaya lainnya adalah untuk tiket pesawat, tiket kereta ke kota tujuan dan cash money untuk hari2 pertama di Belanda karena membutuhkan waktu sampai bisa buka bank account disini. Perlu diingat, ada batasan untuk membawa uang cash saat bepergian  maksimum €10.000. Mungkin ada baiknya buka online banking sehingga uang di rekening di Indo bisa ditransfer ke bank disini.

4. Insurance

Satu hal yg penting juga, adalah insurance untuk keluarga yang akan dibawa. Bagi student, health insurance sudah dicover oleh penyedia beasiswa. Kalau dari Neso sudah terima beres. Tapi suami saya yang penerima Dikti harus mengurus sendiri di Belanda.

Oia, untuk health insurance bagi anak-anak (<15 tahun) akan mengikuti health insurance orang tua (jadi gratis). Ada juga insurance perjalanan yg diperlukan untuk apply visa dan teman saya ada yang memilih ACA krn paling murah. Selain itu ada juga health insurance, yg dibutuhkan utk apply residence permit. Untuk ITC Faculty bekerjasama dengan AON (polis basic untuk student). Sedangkan suami, walaupun penerima beasiswa, tapi PhD student disini dianggap employer sehingga apply untuk basic health insurance untuk employer. Informasi bisa buka www.aon.nl atau www.menzis.nl. Banyak juga sih yang lain, bisa di googling juga.

Demikian penjelasan panjang saya. Semoga bisa sedikit memberi informasi bagi sesama. Impian sudah makin dekat. Salam sukses!

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

84 thoughts on “Persiapan Kuliah Ke Belanda: Membawa Keluarga

  1. Assalammu’alaikum mbak,
    Salam kenal. Nama saya Ajeng, alhamdulillah saya memperoleh beasiswa stuned ke Wageningen Uni bulan september ini. Kebetulan saat sedang galau bagaimana caranya membawa anak saya yg berusia 13 bulan ke belanda, saya menemukan blog anda ini. Senang sekali bisa memperoleh pencerahan. Namun saya masih bingung, apakah anak saya harus diundang oleh universitas dahulu agar dapat mengurus MVV? bagaimana cara memperolehnya? Jika berkenan, saya ingin dapat berkomunikasi melalui e-mail je.brahmanti@gmail.com dengan mbak. Mohon bantuannya. Terima kasih banyak sebelumnya.

    1. Waalaikumsalam Ajeng,
      salam kenal juga, selamat bergabung menjadi StuNed Awardee🙂 Pada prinsipnya, setahu saya, baik membawa maupun mengundang keluarga sebaiknya terlebih dahulu ditanyakan informasi ke pihak universitas (kalau di kami di bagian Student Affairs, atau bisa ditanyakan ke contact person seperti di Admission Letter, seperti Course Director atau Course Secretary).
      Kalau saya, karena anak ikut bersama kami (suami saya PhD employee), jadi dari pihak universitas yang membantu menguruskan MVV di Kantor Imigrasi Belanda IND. Jadi yang diminta kepada kami adalah berkas2 seperti paspor dsb, lalu kami terima undangan untuk mengambil Visa di Kedutaan.
      Ada juga rekan saya yang putranya datang untuk short stay 3 bulan, tapi undangan untuk putranya dari saudaranya yang ada di Belanda.
      Ada lagi rekan saya Nila, yang master student di Wageningen (yang lebih mirip kondisinya dengan Ajeng) dan membawa keluarga (suami dan 3 orang anak) namun berdasarkan informasi dari Nila, pengurusan visa (termasuk besaran jaminan bank) bisa dilihat di website IND (www.ind.nl). Tapi untuk lebih jelasnya kalau dikehendaki nanti saya kenalkan ke Nila🙂

  2. Assalamualaikum mba, salam kenal mba,, Rara Insya Allah September ini saya bersekolah di Rotterdam Univ dengan beasiswa StuNed. Saya sedang mencari info bagaimana cara membawa keluarga (suami) ke Belanda dan kebetulan saya ketemu blognya mbak🙂. Saya juga masih bingung apakah jika suami ikut dapat juga diundang oleh universitas untuk membuat MVV? Semoga mbak berkenan untuk sharing dan berkomunikasi via email ke noor.fajrina @gmail.com. Terima kasih banyak mbak:)

  3. selamat pagi . salam. saya Albert.
    saya tertarik dengan Blog anda.
    saya mau tanya, untuk kuliah kedokteran itu bagaimana? maksud saya kelanjutannya. saya sudah lulus Kedokteran . sudah lulus dokter. mau lanjut kuliah baik S2 atau Spesialis di belanda. langkah2 apa yang harus saya lakukan? mohon pencerahannya. saya bener2 ingin ke Belanda. trims

    1. Hai Albert, salam kenal🙂
      Kebetulan saya ada teman dokter yang sudah beberapa tahun tinggal disini, saya sampaikan bahwa ada yang perlu informasi, tapi sampai saat ini belum ada jawaban dari ybs. Lalu saya ketemu teman penerima beasiswa lpdp, ternyata ada juga untuk dokter spesialis, mungkin bisa dicoba di websitenya lpdp. Maaf belum bisa memberi informasi lain. Sukses selalu😀

  4. Hai mbaa… Senengnya ketemu blognya mba, soalnya lagi bingung mau bawa anak ke Belanda. Saya insyaAllah berangkat akhir agustus ini ke Den Haag. Oh ya mba, saya boleh minta contactnya mba nila ga mba, kayanya situasinya mirip sama saya, sama2 ambil master… Makasih ya mbaaaa….😉

    1. Hai Dina, salam kenal🙂
      Saya mencoba kontak ybs tapi belum ada jawaban.
      Kalau ada pertanyaan saya akan coba bantu jawab, kalau tidak mampu nanti saya teruskan ke teman2 lain yang lebih pengalaman ya..
      Sama2, sukses selalu yaa😀

  5. ass mbak, salam kenal, boleh minta sharing ilmu utk aplikasi toeslag nya? kebetulan saya mau apply, tapi bingung ada 2 website; toeslag.nl dan toeslagen.nl. hehehhe.. bisa minta saranya mbak? trimakasih.. wass

    1. wass. salam kenal mas eko, maaf untuk late reply nya.
      kebetulan saya juga masih belajar tentang toeslag.
      Untuk toeslag rumah kami ke kantor belastingdienst, sedangkan untuk anak kami direkomendasikan ke sociale verzekeringsbank (svb).
      terimakasih kembali, sukses selalu🙂

  6. Salam kenal mbak, perkenalkan saya Arif mahasiswa master di Univ of Amsterdam. Saya juga berencana akan membawa istri ke Belanda. Kalau boleh sharing via email mbak ke arif.qodari@gmail.com. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Terima kasih.

  7. Salam kenal Mbak, suami saya memperoleh beasiswa untuk dapat melanjutkan study ke UK atau Australia.. Mohon dapat diinfokan apa yang harus kami lakukan agar saya dan putri saya (7month) dapat ikut serta stay selama suami belajar, melalui email desviaasmarini@yahoo.com

    Nuhun Mbak..🙂

  8. Halo mbak, saya sudah berada di Belanda sekarang, master student. Income dari pemberi beasiswa seharusnya memenuhi syarat untuk mengundang keluarga. Yang mau saya tanyakan untuk mengurus MVV mereka apakah harus udah ada kontrak rumah terlebih dahulu?

    1. Halo mba Reni, salam kenal. Saya coba bantu, ya. Ini saya masuk ke website http://www.ind.nl trus mengikuti opsi yang ada disana sesuai kondisi mba, bisa dipilih opsi “I want to live with my husband/partner” trus diikuti saja. Ini contohnya, https://kdw.ind.nl/KnowledgeSessie.aspx?knowledge_id=MWOToegangEnVerblijf. Tapi opsi paling mudah bisa ditanyakan ke pihak kampus mba, apakah bagian Student Affairs atau yang lain untuk mencari informasi awal. Tentunya kalau sudah jelas di awal keluarga akan datang kapan, tentunya housing pun harus dipersiapkan ya. Mungkin saya share untuk mencari rumah tinggal di Enschede saya perlu sekitar 2 bulan. Opsi lain bisa di apartemen sih, dan lewat agen juga, bisa lebih cepat.

  9. Hallo Mba Cetut, salam kenal🙂
    Saya rencana mau studi PhD ke Belanda dengan beasiswa LPDP. Rencana suami mau ikut juga. Boleh tau ya berapa ya dana yang harus ditunjukkan di rekening?
    Saya ada baca 240juta. Tapi apakah tetap harus ada 240juta walaupun saya ditanggung beasiswa LPDP? Mohon informasinya kalau boleh email saya ke: therez_the_mango@yahoo.com.. Nuhun..

    1. Halo Theresia, salam kenal😀
      maaf ya baru dibaca, maklum lagi detik detik thesis submission😉

      Selamat bergabung yaa di Belanda.. Studinya di kota mana?
      Mungkin penjelasan saya kurang clear atau nyelip ya, setahu saya untuk PhD skema nya berbeda. Karena di Belanda, PhD adalah (atau dianggap) sebagai employer dan allowance biasanya cukup untuk menanggung keluarga (apalagi LPDP kan ada tunjangan untuk suami/istri/anak).

      Saran saya, coba ditanyakan dulu ke pihak universitas siapa tahu mereka bisa bantu menguruskan residence permit ke pihak IND (seperti Utwente). Kalau tidak, bisa dilihat di website ind.nl, karena setahu saya besaran rekening yang dibutuhkan tiap tahun naik (ini semacam standar biaya hidup), terakhir saya cek perlu sekitar 1500 euro dikali 12 bulan. Baru di kurs kan ke rupiah. Dan terakhir minta surat ke bank. Waktu itu saya menyiapkan, buat jaga-jaga, tapi tidak kepakai🙂

      Semoga sukses ya.. kalau masih ada yang mo didiskusikan silakan mampir lagi. Nanti saya infokan via email kalo perlu penjelasan yang lebih detil😀

  10. Halo mbak cetut, wah infonya komplit sip, mohon bantuannya untuk kasus saya. saya berencana menempuh s3 (penawaran dari instansi), dengan membawa keluarga, yang saya bingungkan adalah anak saya sudah usia 5 tahun,untuk pendidikan anak saya seperti apa(biaya,bahasa dll)?mungkin minta ijin lewat japri, ini email saya ubaydillah_em@yahoo.co.id

    1. Halo salam kenal🙂
      Maaf balasnya lama ya.. kebetulan topik sekolah anak ini mo saya angkat jadi postingan, tapi ngendon aja di draft belum di post, hehe. Untuk informasi awal, setahu saya di Belanda bila anak sudah lebih dari 4 tahun maka wajib masuk basisschool (TK&SD). Disini basisschool ada Dutch school (sekolah negri, bahasa pengantar bahasa Belanda) dan International School (swasta, bahasa pengantar bahasa Inggris). Kalau Dutch school setahu saya free.. cmiiw. Tentunya kalau sekolah swasta maka biaya sekolahnya juga ada… karena kebetulan anak saya masuk di International School Twente (IST)..

  11. Halo Mbak,

    Salam kenal. Aku seneng bgt bs nemu blog mbak. Aku lg galau bgt mba. Bingung harus mulai drmn. Suamiku Juli tahun ini insya Allah akan berangkat sekolah s2 ke Leiden Universiteit. Karena aku sedang s2 di Indonesia, rencananya aku akan nyusul dia setelah selesai s2 ku yg insya Allah Agustus ini. Karena satu dan lain hal, kemarin aku tidak ikut mengurus visa untuk ikut menyusul dan stay disana yg ditawarkan Leiden. Jd suamiku mengurus visa kuliah nya sendiri. Pihak Leiden bilang aku bisa mengurus visa ku sendiri dr Indo, tp mereka tidak menjelaskan detail apa saja dokumen dan langkah2 yg harus ditempuh. Pertanyaanku, kalau aku kondisinya adalah menyusul suami (aku gak akan stay sampai 1 tahun, kemungkinan 6-9 bln) apakah aku jg harus menyediakan dana sebesar 1500 euro/bulan untuk 1 tahun? Padahal aku tidak akan stay 1 tahun disana.

    Dan kalau boleh, aku minta kontak agen yg bisa bantu aku mengurus visa seperti ini di Jakarta. Mohon info dan bantuannya yah Mbak untuk diinfokan ke emailku. Matur nuhun Mbak. Maaf aku banyak tanya.

    Terima kasih.

    1. Hai Via, salam kenal🙂

      Waduh lagi galau ya.. semoga dengan reply ini saya bisa ngurangin galaunya sedikit ya😉 Sebelumnya selamat ya buat Via dan suaminya berdua bisa s2 barengan. Saya coba bantu jawab sebisa dan setahu saya, ya. Sebelumnya mungkin bisa dishare, suami s2 ke Leiden apakah ada fellowship atau biaya sendiri?

      Pertama, rencana untuk stay 6-9 bulan. Bisa dilihat melalui website Kedutaan Belanda di sini (http://indonesia-in.nlembassy.org/organization/bagian-dalam-kedutaan/konsuler/visa-schengen/visa-schengen.html) bahwa untuk tinggal lebih dari 90 hari perlu Izin Tinggal Sementara atau MVV.

      Kedua, informasi tentang pengajuan MVV melalui 3 cara bisa dilihat di website yang sama disini (http://indonesia-in.nlembassy.org/organization/bagian-dalam-kedutaan/konsuler/visa-schengen/izin-tinggal-sementara-mvv.html). Banyak kasus yang berbeda, namun setahu saya untuk mengikuti/mendampingi suami (spouse) yang sekolah di Belanda, biasanya melalui prosedur pendek (nomer 3), yaitu “Permohonan diajukan oleh perusahaan atau institusi yang mensponsori pemohon ke Belanda”.

      Ketiga, saya coba kasih link dari website Kantor Imigrasi dan Naturalisasi Belanda untuk persyaratan bagi spouse/partner : (https://kdw.ind.nl/Dialog.aspx?knowledge_id=%2fdialoogreferent%3finit%3dtrue%26prefill%3dtrue%26knowledge_id%3d%252fdialoogreferentinit%253dtrue%26WensKlant%3dNaarNederlandKomen%26DuurVerblijf%3dDuurVanVerblijfIsLangerDan3Maanden%26Hoofdintentie%3dn1HuwelijkRelatieGezin%26ContextSubintentieHuwelijkEnGezin%3dHuwelijk_2%26Nationaliteit%3d%26jse%3d1)

      Keempat, informasi tentang biaya pengajuan (cost/fee) dan income requirements bisa diklik disini https://www.ind.nl/particulier/familie-gezin/kosten-inkomenseisen dan https://www.ind.nl/particulier/familie-gezin/kosten-inkomenseisen/Kosten/Paginas/default.aspx

      Sedangkan syarat dokumen (dari website IND):
      Dari suami (yang sekolah):
      – Bukti pendapatan
      – Fotokopi paspor
      – Fotokopi residence permit
      Dari istri/partner yang ingin mengajukan MVV:
      – Fotokopi sertifikat (akta) nikah yang sudah ditranslate (resmi) dan dilegalisir
      – Fotokopi paspor

      Banyak ya, informasinya.. Semoga nggak jadi bingung😀

      1. Informasi tambahan untuk menjawab “Pertanyaanku, kalau aku kondisinya adalah menyusul suami (aku gak akan stay sampai 1 tahun, kemungkinan 6-9 bln) apakah aku jg harus menyediakan dana sebesar 1500 euro/bulan untuk 1 tahun? Padahal aku tidak akan stay 1 tahun disana.”
        Jawabannya Iya. Sesuai yang dipersyaratkan oleh IND di Belanda (mulai Januari 2015 : 1501 euro dikali 12 bulan = sekitar 18.000 euro). Nah. Tambah pusing ya, hehe.

        Ini berdasarkan pengalaman saya, yang tinggal selama 18bulan sebagai student, lalu melanjutkan stay saya di Belanda sebagai spouse dari suami. Untuk pengajuan MVV spouse di IND, kami diminta bukti pendapatan (atau menunjukkan rekening) 18.000 euro. (Mumet deh, duit dari mana coba).

        Makanya saya tanya apakah suaminya Via lanjut S2 ada beasiswa atau tidak. Karena 18.000 itu juga bisa sebagian dari beasiswa (dianggap sebagai pendapatan). Katakanlah misalnya sebulan suami ada beasiswa 1000euro (ini bisa lewat surat keterangan dari pihak beasiswa dan fakultas).

        Jadi, yang diperlukan adalah surat keterangan dari bank (bisa berbentuk jaminan, atau fotokopi rekening, atau mungkin deposito. Di kasus saya, surat jaminan bank yang saya siapkan sebelum kesini tahun 2013, hilang. Bete banget. Akhirnya suami saya meng-print reksadana yang dia punya sebagai bukti. Dan diterima) untuk melengkapi 500 euro x 12 bulan tersebut. Beberapa teman mengisahkan bahwa mereka juga mencari “pinjaman” sementara dari “kanan-kiri” untuk bisa mendapat surat jaminan dari bank.

        Kalau di universitas kami di UTwente, sponsor adalah pihak fakultas. Jadi suami menginformasikan ke pihak fakultas bahwa istri saya akan stay sebagai spouse. Lalu pihak fakultas lah yang akan membuat “undangan” sebagai sponsor dan mengurus ini-itunya ke IND. Kami tinggal melengkapi syarat2nya. Kemudian ke Gementee (pemkot) untuk diambil foto dan sidik jari (karena saya di Belanda) atau bisa juga ke Kedutaan Belanda di Jakarta (bagi yang masih tinggal di Indonesia). Saran saya, kalau Via sudah pasti mau nyusul di bulan Agustus atau September, coba ditanyakan lagi ke pihak universitas Leiden. Biasanya kalau ada istri yang menyusul sih minimal menunggu suaminya sudah di Belanda dan sudah menerima residence permit (verblijf) baru mengurus undangan untuk istri.

        Gitu deh sementara. Silakan kalo ada pertanyaan lagi ya. Semoga membantu. Sukses selalu🙂

  12. Mbak,

    Alhamdulillah jawaban dari Mbak sangat jelas. Aku jadi lebih ngerti tahapan-tahapannya aku harus siapkan apa. Aku lupa memberikan informasi bahwa suamiku itu self financed Mbak, huhu, jadi gak dapat beasiswa dari manapun. Aku kesana pun self financed Mbak, makanya langsung was-was banget pas caritau harus sedia uang berapa.
    Soal harus ada dana sekitar kurang lebih 18.000 euro itu, apakah untuk biaya hidup aku saja atau itu untuk aku berdua dengan suami yah Mbak?
    Suami juga sedang coba menghubungi pihak Leiden langsung, kalau saya menyusul nantinya apakah Leiden bisa bantu untuk urus “undangan” nya.

    Terima kasih banyak lho Mbak sudah capek-capek meluangkan waktu untuk jawab pertanyaan-pertanyaanku.

    Sukses dan bahagia selalu yah Mbak🙂

    1. Hi Via,

      Alhamdulillah kalau bisa membantu🙂
      Omaigaatt keluar negeri self-financed, kereeennn!!

      Anyway, kalau aku coba mencerna bagian income requirements dan syarat2nya (dan dari pengalaman aku mengajukan sebagai spouse) yang diminta adalah bukti pendapatan suami (yang sekolah disana dan menanggung spouse-nya). Sebagaimana yang kuceritakan, waktu kami minta bantuan pihak uni untuk membuat undangan dan mengurus ke IND, kami diminta bukti pendapatan suami 1400euro per bulan selama setahun. Dan surat jaminan bank yang kami urus di Indonesia raib tak ketemu -_-‘ Akhirnya suami berinisiatif melampirkan laporan reksadana bulanan miliknya (dan surat keterangan beasiswa perbulan) jadi bisa diterima, diproses dan dalam waktu kurang dari sebulan residence permit/verblijf saya sudah jadi.

      Tapi waktu kami kesini tahun 2013, status suami saya PhD student, saya Master student, dan waktu itu kami bawa anak kami juga bareng. Dan dia juga diundang dari pihak uni, mereka yang menguruskan semuanya di pihak IND. Suami dan anak saya tinggal melanjutkan proses ke Kedutaan di Jakarta..

      Sukses selalu untukmu juga ya, semoga bisa lancar pengurusannya, bisa nyusul dan segera mendampingi suami di Belanda :*

  13. Salam kenal mbak…
    Saya alhamdulillah menerima beasiswa StuNed utk perkuliahan september ini di Wageningen University jurusan Nutrition and Health, hanya saja saya sedikit worried apakah StuNed memang meng-cover semua biayanya?
    Saya belum berpengalaman dan takut terkatung katung di negeri orang
    Hehee…

    Kalau boleh saya minta kontak mbak utk sharing
    Thanks in advance

  14. Salam kenal mbak…
    Saya alhamdulillah mendapat beasiswa Stunned utk perkuliahan di Wageningen University jurusan Nutrition and Health utk taun ini, yang ingin saya tanyakan apakah beasiswa StuNed memang mengcover semua kebutuhan kita mbak?
    Saya akan menempuh jenjang master dan bisa dibilang masih fresh graduate jadi belum ada tabungan yg cukup kalau ada apa2.
    Atau apa mungkin bisa bekerja part time jika diperlukan disana?

    Saya juga masih agak bingung dengan mekanisme MVV dan lain2
    Mohon share nya, dan kalau boleh saya meminta kontak mbak supaya lebih leluasa dalam mengobrol, hehee…

    Thanks in advance mbak

    1. Hai Novi, salam kenal🙂
      Alhamdulillah, selamat ya, selamat bergabung di Belanda dan sebagai sesama StuNed Awardees.. Hebaaattt, fresh graduate langsung lanjut S2!😀

      Hehe, memang ya kalo baru pertama banyak yang bikin kuatir.
      Anyway, StuNed mengcover semua yang dibutuhkan untuk hidup dan sekolah di luar negeri, mencakup tuition fee, asuransi, perjalanan sampai tempat tujuan, biaya hidup sesuai standar dari IND dll. Dan yang saya lihat dari teman2 saya, beasiswanya cukup banget sampe pada liburan keliling Eropa gitu😉 Dan allowance bulanan yang saya terima tidak pernah terlambat. Karena dari awal segala biaya sudah dibayarkan oleh pihak StuNed ke pihak universitas, jadi pihak uni-lah yang mendistribusikan ke student setiap bulannya… (cmiiw)

      Kalau dana jaga-jaga mungkin perlu untuk beberapa hari pertama. Karena biasanya walau pihak uni membantu juga untuk mengurus account di bank, butuh beberapa waktu sampai jadi. Kalo di fakultas saya sih sudah dikasih advance sampai kartu bank siap. Bekerja part time, coba di cek di rules and regulations dari StuNed, ya. Setahu saya sih boleh, tapi jam nya dibatasi per minggu nya. Kalau bagi saya, fokus sekolah saja sih sudah cukup. Toh uang beasiswa cukup kok buat hidup dan lain-lain.

      Untuk MVV, saya sudah pernah posting di bagian persiapan ke belanda: mengurus visa sepertinya. Dicek dulu ya. Kalau ada pertanyaan lagi, feel free to ask me. Kalau dibutuhkan nanti saya japri lewat email. Sukses selalu ya😀

  15. Salam kenal Mba,

    Saya Fitri InshaaAllah Agustus ini akan berangkat melanjutkan S2 saya di Belanda dengan beasiswa STUNED. Ada beberapa yang pengen saya tanyakan, boleh minta share alamat emailnya mbak..

    Terimakasih..
    Sukses untuk semua aktivitasnya🙂

  16. Halo Mbak, salam kenal🙂
    Saya Dea, Stuned awardee 2015🙂
    Mau tanya Mbak ttg akte lahir. Di postingan ini Mbak bilang sempat salah translasinya, kesalahannya seperti apa Mbak? Lalu juga di Gementee-nya kan salah lagi, itu juga salahnya seperti apa? Dan apakah menghambat pembuatan residence permit?

    Terima kasih ya Mbak🙂

  17. Halo Mbak, salam kenal🙂
    Saya Dea, Stuned awardee 2015🙂
    Mau tanya ttg akte lahir Mbak. Di postingan ini kan Mbak bilang sempet salah translasinya, kesalahannya seperti apa Mbak? Lalu juga di Gementee-nya salah lagi, itu juga salahnya apa ya? Dan apakah menghambat pembuatan residence permit?

    Terima kasih ya Mbak🙂

    1. Hi Dea, salam kenal🙂
      Selamat ya on becoming Stuned Awardee😉

      Iya saya pakai jasa di Jogja untuk translasi dan legalisir akte suami, saya dan anak. Kesalahan pertama adalah, di halaman translasi saya dinyatakan sebagai anak mertua (sepertinya copy paste translasi akte suami), sehingga saya kembalikan ke pihak agen, dan karena sudah kebacut dilegalisir, maka butuh waktu lagi sampe jadi T-T

      Kesalahan kedua, waktu saya lapor di Gementee Enschede. Ternyata di halaman translasi (lagi) saya tertulis lahir sebagai MALE *malu* *dasaragendodol* dan si ibu di Gementee melihat saya dengan geli, kamu ganti kelamin ya, katanya. Trus saya baru nyadar… dan saya tunjukkan akte asli saya, trus ditranslate pake google, dan si ibu bilang kalo ada kesempatan diperbaiki, nanti diperbaiki trus lapor lagi.. karena segala dokumen itu di-scan oleh pihak Gementee sini.

      Gitu deh. Jadi pengalaman, kalaupun pakai jasa agen, telitilah lagi ya.
      Sukses selalu🙂

      1. Ooh gitu. Berarti ga sampai menghambat residence permit ya?

        Ternyata kontennya ya yg salah. Saya jd cukup lega, hehe. Soalnya saya lagi khawatir juga sama akte saya, tapi cuma masalah ngerasa ga tepat aja translasinya dari sisi grammar. Hehehe *ini lebay emang khawatirnya*

        Blognya informatif banget Mbak. Jadi makin terpacu buat nulis jg momen2 sebelum dan sesudah sampai di belanda. Saya follow ya Mbak🙂

        Sukses juga Mbak dan makasih penjelasannya🙂

  18. Residence permitnya lancar, alhamdulillah🙂

    Iya kontennya keliru, sampai dua kali pulak *geram*
    Kalau kesalahan grammar (sepertinya) gapapa sih. Kayanya. Hahah.

    Sama2, saya juga barusan mampir ke blognya Dea. Keren2 banget tulisannya. Saya follow balik, ya. Anyway, novelnya kapan terbit?😉

  19. halo mbak, salam kenal
    rencananya saya akan lanjut studi di kampus mbak😀

    saya mau tanya, jadinya untuk di Enschede apakah butuh akte kelahiran yang sudah dilegalisir?

    terima kasih

  20. halo mbak, salam kenal🙂

    rencananya saya akan lanjut studi di kampus yang sama dengan mbaknya😀

    saya mau tanya, jadinya apakah akte kelahiran yang dilegalisir dibutuhkan di gemente Enschede?

    terima kasih

    1. Hai Arman, salam kenal juga🙂
      Selamat ya, semoga bisa ketemu disana. Berangkat ke Enschede nya kapan?

      Tentang akte kelahiran ini ketidakpastiannya tinggi deh. Saya sempat nanya ke pihak beasiswa, mereka bilang itu urusan ke gementee gitu. Trus saya coba nanya ke pihak kampus, dan kebetulan waktu itu pihak kampus meminta (karena saya apply juga untuk anak). Kalau saya ketika lapor kedatangan ke gementee enschede, disana diminta ditunjukkan akte asli, legalisir untuk kemudian discan.
      Tapi ada juga temen2 yang nggak diminta ketika lapor kedatangan di gementee.

      Jadi saran saya, coba dikonsultasikan ke pihak kampus, biasanya ke bagian student affairs tentang perlu tidaknya akte yang ditranslate & legalisir. Karena kalau saya sarankan mending dilegalisir aja, biayanya juga gak murah (buat saya loh).

      Sekian dulu, kalo masih ada yang bisa saya bantu, feel free ya. Sukses selalu🙂

      1. Berangkat 9 September nanti. Akhirnya saya legalisir juga sih, baru dari kedutaan Belanda, hehe😀. Tadi di perjalanan menuju kemlu buat ambil hasil legalisiran browsing2 dulu perlu ga sebenernya legalisiran akte di Enschede, nemu blognya mbaknya :p

        Terima kasih atas sarannya, lain kali saya ada yang perlu ditanyakan mohon bantuannya ya🙂

  21. Halo mb salam kenal🙂 suamiku bulan dpn alhamdulillah berangkat ke Belanda utk dgn beasiswa master dari IHE Delft. Rencananya pada awal tahun aku n anakku pengen nyusul utk stay dsana sampai sekolahnya selesai. Tp lagi galau soal pengurusan MVVnya. Karna spouse n child tdk ditanggung oleh kampus. Etis gak sih kalo menanyakan ke pihak kampus agar dibantu soal visa MVV ini? Hehehe..pls bantu ibu2 yg lg galau ini..lanjut email y mb..makasii🙂

    1. Hai Rida, salam kenal juga..
      Alhamdulillah ya, ikut senang makin banyak teman di Indonesia yang ke Belanda bareng keluarga. Iya memang setahuku untuk master, pihak kampus biasanya tidak menjadi sponsor bagi spouse dan anak. Tapi menurutku worth to try ya, untuk ditanyakan ke pihak kampus untuk dibantu pengurusan visa stay. Saranku coba ditanyakan saja ke pihak student affair di kampus.. Dan setelah suami stay dan mendapatkan residence permit, bisa ditanyakan ke pihak pemkot/ gementee Delft untuk mengundang istri dan anak ke belanda.. dan bisa juga ke pihak kedutaan Belanda di Jakarta untuk cari informasinya.
      Sekian dulu ya, kalau masih ada yang mau ditanyakan, feel free🙂
      Semoga sukses pengurusan visanya dan secepatnya ngumpul sekeluarga.

  22. waaaaah.. serunya posting2nya… mba cetut, sy juga akan ke Enschede bulan November *insyaAllah* nunggu visa yg blm jadi2.. ntar ketemuan di centrum yaa, kayanya orangnya seseru blognya, ^^ menginspirasi sy ngisi blog yg sudah uzur karatan krn melompong.. hihihi…

    1. Hai Maureen salam kenal, selamat bergabung di Enschede🙂 *tos*
      Udah gabung grup PPI Enschede sama grup PhD?
      Ayuk ketemuaaan.. kalau hari selasa ada orang Indo yang jual bakso jadi bisa ngobrol sambil ngebakso di centrum, hehe
      Iya aku follow blognya yaa.. let’s keep sharing🙂

      1. tingkyu… jadi malu, blognya melompong, padahal draftnya menggunung.. *seperti pendiam ya*

        belum gabung sm grup PPIE/PhDnya, di fb kah? sy sdh member fb imea aja.. ^^

  23. hello Mba, saya Juned Wibowo. Insya Alloh, saya akan melanjutkan studi di Rotterdam. Saya rencana membawa keluarga, anak saya umur 14 th dan 11 th. Boleh saya tahu tentang sekolah untuk mereka ya? Apakah bisa sekolah di public school atau di SIN ?

    Maaf merepotkan dan terima kasih sebelumnya.

    1. Hi mas Juned, salam kenal..
      Selamat ya atas lanjut studinya, welcome to NL🙂
      Sebenarnya saya sedang bikin draft tentang sekolah anak di Belanda sih mas. Saya jelasin singkatnya aja ya. Kalau di NL itu anak usia 4-12 tahun wajib masuk basisschool (primary). Sedangkan yang diatasnya tentu masuk ke secondary school. Public school (yang bahasa pengantarnya Belanda) ada banyak, tinggal daftar (biasanya yang dekat tempat tinggal) dan free (setahu saya).

      Hanya setahu saya untuk yang sudah gede biasanya dimulai dengan sekolah bahasa dulu 1 tahun (free juga kayaknya). Opsi selain public school, adalah private school seperti International School (anak saya disini) yang menggunakan pengantar bahasa Inggris. Karena private, tentu saja ada biayanya (dan lumayan). Alasannya karena pasti bahasa Inggris ini kepake, dan rencananya setelah saya balik (anak usia 7th) dia akan lanjut ke International School di Jogja.

      Kalau SIN, setahu saya ada teman yang putra2nya di basisschool dan didobeli dengan SIN online, 1 jam setiap harinya via skype. Kabarnya memang raport dari SIN ini bisa diterima oleh Diknas sehingga ketika balik ke Indo raport ini bisa digunakan untuk ‘nyambung’ sekolah di Indo. Begitu mas, kalau masih ada yang bisa saya bantu, silakan. Sukses selalu🙂

      1. Oh okay mba, sy akan coba googling private school. Makasih ya sy tunggu lho utk tulisan sekolah anak di belanda.

  24. Mas Juned, ini ada informasi juga untuk di daerah rotterdam:
    >De Blijberg – International Primary Department*
    Graaf Florisstraat 56, 3021 CJ Rotterdam
    +31 (0)10 448 2266
    http://www.blijberg.nl

    >Rotterdam International Secondary School at Wolfert *
    Bentincklaan 294, 3039 KK Rotterdam
    +31 (0)10 890 7744
    http://www.wolfert.nl

    >American International School of Rotterdam
    Verhulstlaan 21, 3055 WJ Rotterdam
    +31 (0)10 422 5351
    http://www.aisr.nl

    Monggo bisa dicek website-nya, biasanya ada kontaknya untuk bisa tanya-tanya tentang sekolah, kurikulum, biaya, dsb. Sukses🙂

      1. Amiin. Semoga bisa membantu walau hanya sedikit informasi. Sama-sama perantau memang biasa saling bantu, mas. Gak masalah. Silakan kalau ada yang masih bisa dibantu.

    1. Selamat pagi juga🙂
      Saya nggak punya nomor yang lain, hanya nomor itu yang tercatat di hp suami saya.
      Walaupun saya ngga bisa bantu banyak, tapi semoga lancar ya pengurusan visanya.

  25. Selamat pagi.
    Basic Saya sarjana hukum dan saya mau lanjutin master ke belanda.
    Yang jadi masalah.
    Saya masih awam banget.
    Bila berkenan, mohon petunjuk dan penjelasannya mba via email.

    Terima kasih,
    Salam sukses

  26. Salam kenal mba..
    Suami saya awal tahun ini akan melanjutkan master di belanda, dan rencananya saya dan anak akan menyusul (visa mvv saya & anak sdh jd). Hanya ada bbrp hal yg membuat saya super duper galau.

    Kalau tidak keberatan, boleh minta kontak mba nya, mana tau bisa mengurai kegalauan saya.. Heee..

    Terimakasih sebelumnya, sukses selalu mba.. ^^

  27. Salam kenal ya mba…salam dr tugu jogja, angkringan dan gudeg
    sy sangat terbantu sekali dgn blog nya mba ini, informatif dan berguna…
    kebetulan suami juga akan ke Utrecht september depan sbg PhD student mba dgn beasiswa lpdp.
    sy sdg mempelajari apa saja yg harus dipersiapkan a-z supaya bisa berangkat bersama, kebetulan sdh memiliki 2 putra (4 thn dan 2 bulan saat ini, banyak hal yg masih menjadi pertanyaan sy.
    kalau berkenan, bolehkah nyuwun nomer kontak mba? via emal japri ..
    maturnuwun
    salam Datik_jogja

    1. Salam kenal mba Datik, wah sesama wong jogja nih *tos*
      Alhamdulillah kalo blog nya bisa memberi sedikit informasi yang berguna🙂
      Selamat ya mba untuk suami dan keluarganya, selamat bergabung di Belanda.
      Saya kontak via email ya mba. Silakan dicek.

  28. Salam kenal mba..
    Seneng sekali bisa nemu blog mba cetut ini..informatif sekali..🙂
    Alhamdulillah saya mendapat beasiswa master ke NL dan berencana berangkat untuk agustus atau september nanti.
    Yang saya mau tanyakan, apabila saya berencana mengajak anak (september nanti usianya sekitar 3,5 tahun) dan ibu saya, apakah itu memungkinkan? Karena sejauh yang saya baca2 infonya biasanya keluarga yang dibawa adalah spouse dan/atau anak, belum menemukan info kalau membawa orang tua. Kira-kira persyaratannya apa saja ya mba?

    Terima kasih banyak..dan kalau berkenan boleh saya minta kontak email mba?
    Terima kasih sebelumnya dan maaf apabila pertanyaannya ribet🙂

    Salam,

    1. Salam kenal juga Farida. Congratulations, selamat bergabung di Belanda🙂

      Untuk kasus mengajak anak dan ibu. Hmm. Saya ada beberapa teman dengan kasus serupa, tapi orang tua (ibu) biasanya ikut untuk short-stay (3 bulan) saja. Ada yang langsung ikut di awal, ada yang di tengah, ada yang bolak balik (kakek dan nenek gantian datang). Coba saya cari informasi dulu, ya.

      Meanwhile, silakan buka website http://www.ind.nl dan coba cari informasi untuk membawa orang tua. Karena saya juga kurang tahu tentang kondisinya mba Farida, ini saya coba browsingkan ke websitenya IND. Dengan catatan Farida sudah punya verblijfstel/Dutch Residence Permit. Kalau dibuka dengan browser Chrome, bisa di translate langsung🙂

      Anak >90 hari, saya masukkan usia anaknya 3.5 tahun
      https://kdw.ind.nl/Dialog.aspx?knowledge_id=%2fdialoogreferent%3finit%3dtrue%26prefill%3dtrue%26knowledge_id%3d%252fdialoogreferentinit%253dtrue%26WensKlant%3dIemandNaarNederlandLatenKomen%26jse%3d1

      Orangtua stay >90 hari
      https://kdw.ind.nl/Dialog.aspx?knowledge_id=%2fdialoogreferent%3finit%3dtrue%26prefill%3dtrue%26knowledge_id%3d%252fdialoogreferentinit%253dtrue%26WensKlant%3dIemandNaarNederlandLatenKomen%26jse%3d1

      Family visit, short-stay <90 hari
      https://kdw.ind.nl/Dialog.aspx?knowledge_id=%2fdialoogreferent%3finit%3dtrue%26prefill%3dtrue%26knowledge_id%3d%252fdialoogreferentinit%253dtrue%26WensKlant%3dIemandNaarNederlandLatenKomen%26jse%3d1

      Sukses!

  29. Dear Mbak Cetut,

    Blog ini sangat menginspirasi dan menambah motivasi teman-teman yang di Indonesia untuk studi ke Belanda. Apabila boleh bertanya, apakah mbak cetut memiliki kontak beberapa teman penerima beasiswa StuNed namun mereka masih fresh graduate, Mbak? Terima kasih sebelumnya mbak, terus menginspirasi🙂

    1. Dear Mei,

      Makasih sudah mampir! Saya coba tanya ke teman2 dulu ya. Soalnya teman2 saya yang fresh graduate, sponsor beasiswanya kebetulan lapak sebelah, hehe.
      You too, sukses selalu ya!🙂

  30. Hallo mba, salam kenal saya Eska. Saya berencana untuk mengikuti shortcourse di KIT, Amsterdam selama 2 minggu di bulan Januari-Feb 2017 mendatang. Di universitasnya insyaAllah saya sudah diterima tinggal cari sponsornya. Saat ini saya sedang menunggu pengumuman beasiswa NFP.

    Nah rencananya saya akan membawa suami dan baby saya (yg insyaAllah saat saya berangkat nanti usianya sekitar 3 bln). Yang ingin saya tanyakan:
    1. Pernahkah ada teman mba yg punya pengalaman membawa infant berusia 3bln ke Belanda?🙂
    2. Apa yg harus saya lakukan/persiapkan untuk membawa suami dan anak saya nantinya? Yg pastinya akan menggunakan dana pribadi, sedangkan saya misalnya dapat NFP.
    3. Pengeluaran apa saja dan berapa besarnya untuk mengcover suami dan baby saya? Saya sedang menghitung perkiraan budget yg akan saya keluarkan nantinya.

    FB saya Eskaning Arum Pawestri, mungkin kita bisa chit chat via messenger. Terimakasih

    1. Dear Eska, salam kenal kembali🙂

      Ada teman saya namanya Feby yang punya pengalaman membawa infant ke Belanda, ceritanya bisa dilihat disini https://azrians.com/ kayaknya dia juga share persiapan dari visa dsb. Saya pernah share tentang perkiraan biaya hidup di Belanda, artikelnya bisa dilihat disini https://padmaningsih.wordpress.com/2015/05/05/hidup-di-belanda-sekilas-tentang-biaya-hidup-untuk-keluarga/
      Kalau lebih nyaman ngobrol di fb, nanti saya add di fb🙂

  31. Salam kenal mba, nama saya qalby. Alhamdulillah dapat rejeki phd di belanda. Saya rencana akan ke sana dengan anak saya umur 1tahun, dengan harapan bisa titip di daycare dan dibantu childcare benefit dari pemerintah belanda.

    Saya baca-baca di euraxess.nl, kalau utk foreign phd student atau foreign researcher/employee, tidak eligible untuk apply childcare benefit karena tidak terhitung student dan dianggap employee, namun tidak memiliki employment contract.
    Apakah mba ada teman dengan masalah yang sama? Atau informasi mengenai ini?
    Mohon sharenya mba, terima kasih sebelumnya.

    1. Hi Qalby, salam kenal kembali🙂
      Selamat ya, selamat bergabung di Belanda.
      Kalau tentang daycare saya ngga ada pengalaman, coba bergabung saja dengan grup PPI Belanda atau PPI Kota setempat dan tanya pengalaman teman-teman PhD di kota tersebut jadi lebih spesifik. Karena saya ada teman yang tinggal di daerah Den Haag/Leiden dan dia (beserta suami) adalah PhD student dan dua anaknya bisa masuk daycare dan dapat childcare benefit. Namun itu bukan pengalaman saya pribadi jadi saya nggak bisa memberi rekomendasi atau saran terkait hal tersebut. Sukses selalu ya.🙂

  32. salam kenal mbak..
    saya maria haryanti, saya rencana mau melanjut kuliah S3 dibelanda dengan beasiswa, namun saya tidak tahu langkah-langkahnya, boleh bantukah mbak bagaimana caranya dan apa yg harus saya lakukan untuk bisa diterima kerja di belanda 2017 nanti,
    terimakasih..

  33. Assalamu’alaikum mbak.. Tulisannya inspiratif sekali.. Saya kok jd ikutan galau.. Hehehe boleh minta kontaknya mba? Sepertinya kalau kasus saya agak berbeda dan saya ingin share terkait mengajak keluarga untuk skolah diluar negeri tp pasangan kita juga ingin lanjut master.. Mohon kontaknya ya…

  34. Ass. Senangnya bisa ketemu sama blog mba yang informatif. perkenalkan saya dita. Mba bisa minta no. kontak pak Suryono kebetulan saya juga ada rencana untuk menyusul suami yang sedang studi di Belanda.
    tks.

  35. Mba saya bs minta alamat emailnya,bulan depan saya berangkat ke den haag.. buanyak yg akan saya tanyakan krna keterbatasan uang beasiswa dan kmi membawa 1 anak. Kmi kesuliyan unt mendapat housing krn berstatus beasiswa s2.
    warm regard,
    mila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s