Posted in Enschede, master

Kuliah di Belanda: Education System

Ada beberapa hal tentang sistem pendidikan yang cukup berbeda berdasarkan pengalaman saya antara perkuliahan di Indonesia (S1 di Jogja) dan di Belanda (S2 di ITC). Berikut catatan saya.

1. Sistem perkuliahan

Kuliah saya di Indo berdasarkan sistem sistem kredit semester (sks), jadi dalam satu periode semester yaitu selama enam bulan bisa diambil sekitar 20-24 sks atau sekitar 10 mata kuliah, dengan satu kali ujian mid di bulan ketiga dan ujian akhir di bulan keenam untuk semua mata kuliah yang kita ambil.

Disini, sistem perkuliahan dengan sistem block dan module. Ada 4 block: Core, Course, Research Profiles dan Individual MSc Research. Setiap Block berisi beberapa module sesuai tema Block, misalnya dalam Core Block berisi 3 Module yaitu Remote Sensing, GIScience dan Earth Observation. Setiap module berisi satu mata kuliah selama 3 minggu, biasanya dengan assignment dan exam.

Image

source: http://www.itc.nl/study

Keuntungan dari sistem perkuliahan block-module ini adalah yang saya alami saya bisa belajar secara mendalam dan fokus pada satu topic sampai betul-betul mengerti, sedangkan keuntungan dari sistem perkuliahan semester adalah banyak variasi bahan pembelajaran dalam satu waktu.

Kerugian dalam sistem perkuliahan block-module ini, terutama dari sisi jadwal yang padat sehingga rasanya seperti lari marathon, break singkat 2 hari antar module dan bersiap untuk module berikutnya. Sangat sulit terutama apabila *amit-amit* kita fail dalam satu exam dan harus mengulang, karena mengganggu konsentrasi dan fokus karena kita sudah berada di module berikutnya. Sedangkan dalam sistem sks, banyak sekali yang dipelajari sehingga kadang ilmu hanya terasa seperti “lewat”, dan pada akhir term akan ada banyak sekali exam yang harus dipelajari sehingga seperti masa-masa stress.

In my opinion, saya lebih suka sistem Block-Module ini, karena belajar bisa meluas dan mendalam, jad ilmu yang didapat juga lebih “ketangkap”.

2. Sistem Ajar

Berbagai metode pengajaran yang saya dapat disini antara lain adalah lecture/kuliah, group discussion, fieldwork, role game, quiz, case studies, group works. Juga ada self study, dimana biasanya sesi siang di hari Rabu adalah selfstudy dengan berbagai exercise atau reading assignment yang bisa dilakukan dimana saja, tidak harus di kampus. Disini juga mengutamakan student center learning, jadi student dituntut untuk benar-benar berpartisipasi secara aktif baik dari berdiskusi, bertanya, menjawab dan lain sebagainya. Berdasarkan pengalaman saya, dosen sangat terbuka untuk berdiskusi baik during lecture, after, atau kapan saja (selama mereka punya waktu). Kita juga diperbolehkan untuk mengungkapkan pendapat, kesetujuan maupun ketidaksetujuan baik dalam lecture, nilai dan sebagainya. Student juga dituntut untuk understanding, instead of just knowing or remembering. Pertanyaan favorit disini adalah “why” dan kita diminta untuk “think, think more, think critically”. Ini sangat berbeda dengan yang saya alami di Indonesia.

3. Teori dan practical

Di Indo maupun di Belanda, sama2 ada kuliah (teori) dan practical/praktikum. Bedanya, waktu di Indo kedua hal ini dipisah menjadi 2 mata kuliah yang berbeda dengan nilai masing-masing, jadi bisa saja untuk kuliah Kimia Organik saya dapat A tapi praktikum Kimia Organik saya dapat C.

Disini, practical digunakan untuk menunjang teori dalam perkuliahan sehingga nilai keduanya digabung. Karena exam adalah untuk menunjukkan level of understanding sedangkan practical akan menunjukkan skills/kemampuan. Misalnya untuk module GIScience, komposisi exam (pemahaman teori) adalah 70% dan assignment (praktek, exercise) 30%. Kedua nilai ini kemudian digabung menjadi nilai akhir module.

4. Passing grade

Di Indonesia, yang saya alami, nilai ujian yang didapat adalah nilai angka yang di convert menjadi nilai huruf. Misalnya, ujian 81 berarti dapat A. A bernilai 4 untuk kemudian dihitung dalam Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Kalau saya tidak salah, fail apabila kita mendapatkan nilai E (0-20 dari 100).

Disini, semua nilai adalah angka dengan passing grade 60. Kalau nilai akhir module lebih dari 60 berarti pass, kalo kurang dari 60 berarti fail. Jarang diperhitungkan nilai huruf, tapi ada kriteria juga sih, misalnya excellence bila nilai diatas 90 (yang mana sulit sekali dicapai disini). Standard nilai yang berbeda inilah yang terasa kurang adil ketika student dari Eropa pulang ke Indo, karena nilai 60 di Indonesia mungkin “hanya” setara B atau C malah, dan bila dikonversi ke IPK skala 4, akan menjadi 2,40 dengan level yang nyaris unacceptable di Indonesia.

5. Time Schedule

Di awal module, penanggung jawab (module coordinator) akan menginformasikan dan menjelaskan jadwal kuliah selama tiga minggu, beserta bahan ajar (slide, bahan bacaan, exercise) dan output (assignment dan exam). Jadi mereka sudah fix dengan jadwal yang ada. Kalau dosen lupa memberi informasi tentang time schedule atau mengupdate dokumen biasanya dia akan minta maaf. Beneran. Dan dia akan standby selama module berlangsung, jarang (hampir tidak pernah) saya lihat ada dosen skip lecture selama saya di Belanda.

Imagesource: http://www.itc.nl/study

6. Blackboard/BB

Aplikasi ini berisi sistem informasi perkuliahan, disini setiap student punya masing2 account untuk mengakses semua modul yang diikuti. Setiap modul berisi jadwal kuliah, ruangan, group, announcement, document/materi presentasi, assignment, discussion board serta grade). Semua assignment pun disubmit via BB. Discussion board digunakan bila ada topic yang belum jelas, kita membuat satu topic yang akan dikomen, dibahas, dan dijawab sesama student dan para lecturer. Online. Praktis ya?😉

Image

source: utwente.nl

Di Indonesia jaman tahun 2006 masih separo manual, segala informasi mesti dilihat di papan pengumuman. Cuma nilai (KHS, IPK) aja yang kita lihat di komputer.

7. Exam

Disini saya mengalami sistem ujian online, dengan aplikasi bernama Lock Down Browser. Kita tetap datang ke kampus sih, ke ruangan tertentu. Saat menjelang ujian, kita klik aplikasi ini (akan mematikan semua fungsi browsing dan aplikasi lainnya), dan dengan password tertentu kita langsung masuk dan mengerjakan soal yang sudah disediakan. Soal antara satu orang dengan yang lain sama, hanya diacak urutan soal dan urutan jawaban. Jadi jangan harap lirik kanan kiri depan belakang karena kalo lihat doang mah pasti salah karena urutannya semua berbeda.

Re-exam/Remedy/Resit

Setahu saya di Indo, semasa kuliah S1 tahun 2001-2006 (dah lama yak) tidak ada ujian ulang. Kalau dapat nilai C, atau D, atau E, kemudian berniat mengulang maka harus ambil satu matakuliah yang sama di semester berikutnya. Remedy.

Disini, ada yang namanya Re-Sit. Kalau nilai akhir modul <60, maka student bisa mengulang assignment atau exam atau keduanya (tergantung yang nilainya <60 yang mana). Sebagai contoh, assignment (bobot 30%) dapat nilai 90, exam (bobot 70%) dapat 48 sehingga nilai akhir module adalah 60, maka tidak harus mengulang exam, karena yang dilihat adalah nilai akhirnya.

8. Fasilitas: koneksi internet dan ruangan

Disini ada jaringan wifi kampus, bernama Eduroam yang bisa diakses baik dari wilayah kampus universitas, ITC faculty maupun di ITC Hotel. 24 jam sehari, dengan kemampuan download sekitar 200 mega per detik.😀

Selama 3 bulan pertama, perkuliahan saya di ruang auditorium yang sangat besar, nyaman dan efisien yang bisa menampung 170 orang di auditorium. Model kursi dan meja yang terlipat otomatis kalo ndak dipakai *ndeso*, layar gede di depan, sound system prima, serta ada fasilitas yang bernama Live Streaming dan Recorded Lectures. Jadi kalau di pagi hari kita telat bangun, atau cuaca buruk, atau sakit, kita tinggal klik link live streaming dan sama-sama ikut kuliah di auditorium, macam nonton siaran langsung di tipi. Ketiduran? Ada recorded lectures, bisa diakses juga kalo mo ngulang apa yang dosennya bicarakan. Canggih betul dah negara ini yak😀

Setiap departemen berada di lantai yang berbeda dan masing-masing departemen punya lecture room, cluster room, computer room, dan sebagainya. Pun juga dilengkapi dengan coffee machine dan mesin snack. Sedap ya😀

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s