Posted in beasiswa, master, me, tips-tips

“Instead of work hard, think how you can work smart” (de Bie, 2014)

Setelah perjuangan berdarah-darah *lebay* selama 6 minggu bekerja ekstra untuk proposal writing, submission deadline dan qualifier, syukurlah fase hidup yang ini berbuah manis. Sepenggal kalimat “you may proceed” dan “you are well on your way” terasa laksana permen pelega napas ketika hidung lagi mampet *apasik*

Sambil mengobservasi kondisi saya sendiri dan lingkungan sekitar (alias teman-teman seperjuangan) saya mendapati bahwa hampir rata-rata everyone work hard. Ada beberapa yang work very-very-very hard. Saya sebut demikian karena mereka sampai pada fase sepanjang hari hanya melototin laptop, insomnia dan tidak tidur berhari-hari sampai lupa makan lupa ngapa-ngapain dan akhirnya ambruk karena sakit.

How come? Gak ngerti saya.

Saya juga ngalamin susah tidur karena kepikiran, tapi badan rasanya cape banget, apalagi pikiran, jadi ya dipaksa aja berbaring dan merem barang beberapa jam. Berdasarkan pengalaman, kalau saya forsir badan dan pikiran, yang ada vertigo, kecapean, maag kumat, dan sebagainya. Saya pun mengalami gak ada napsu makan, tapi ya tetep begitu jam makan usahakan masukin makanan ke perut. “just to keep you alive” canda saya ke teman-teman dekat saya disini.

Saya juga mengalami panik. Pikiran ruwet. Hati rasanya nggak kuat. Badan udah gak karu-karuan rasanya. Tapi justru disini, saya mengingat bahwa ketika segala sesuatu sudah diluar kemampuan kita, kembalikan ke Yang Maha Mengatur Segalanya. Setiap kali dapat serangan panik, saatnya pause sejenak semua kegiatan, dan berdoa. Syukurlah dengan berdoa saya benar-benar diberikan ketenangan pikiran, ketenteraman batin, kesehatan dan lancar segala sesuatunya. 

Dan ketika Proposal Qualifier Day, ada satu sesi setelah saya, dan bertanya chairman kami, “This is a lot of work. Are you sure you can do it?” lalu teman saya menjawab, “I will work hard and try my best”. Tersenyum dia dan berkata, “I will not give you an MSc degree because your hard work. You don’t have to do all the complicated things. Just narrow down, focus on that and do more in-depth study, that’s better. So from now on, think not to work hard, but to work smart”.  

Huffh. Sungguh menampar, but it is true. Siapa bilang kampus mau studentnya kerja sampe pada gak tidur, lupa makan dan akhirnya sakit? Some people argue stubbornly, “sudah kerja mati-matian begini aja masih dibilang jelek proposal gue”. Which also true. Tapi saya setuju banget sama si bapak chairman tadi. Dan akhirnya memang, bagaimana kita belajar selama ini, termasuk learning style, manajemen waktu, bisa tercermin (hampir) seutuhnya dalam research project ini.

Dank je wel meneer chairman. Akan selalu kuingat.

 

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s