Posted in anak, me

Perasaan saya..

(tulisan ini sudah ada di draft sejak 17 januari 2014) 

Ketika suami saya hampir sembuh dari cidera ankle selama 3 minggu, dengan kaki selutut mesti di bandage, jalan dengan kruk, seharian dirumah dan anak saya terus menerus masuk angin, flu batuk berselang seling.

Fase hidup yang ini tidak mudah. Bagi saya untuk mengepak hidup saya, barang-barang saya, rumah saya yang nyaman di Jogja, dalam dua koper. Hampir sebulan saya menyiapkan koper kampret besar itu untuk dibawa ke tempat baru yang beda benua, beda bahasa, beda cuaca, beda kondisi dan beda segalanya.

Disini, saya hanya berusaha ikhlas dan sabar, karena saya sudah berjanji mendampingi pria ini dimanapun dia berada, bagaimanapun kondisinya.

Saya terharu, melihat bagaimana suami saya bersabar, mengorbankan kepentingannya, tidak ke kantor, setiap hari kerja beliaulah yang memandikan, menyuapi, mengantar jemput dan menunggui putra saya sampai saya kembali dari kampus. Beliau mulai bekerja setelah putra saya tidur, atau di malam hari, untuk mengejar deadline proposal disertasinya.

Saya terharu, melihat putra saya, yang baru 3,5 tahun, bersabar dengan kehidupannya di sini, tanpa kemudahan dan segala fasilitas yang dimilikinya di Jogja. Dia bersabar ketika pindah dari rumah dan halaman 400m2 ke ruangan satu kotak bernama apartemen kecil tanpa halaman belakang. Sabar menerima cuaca yang sangat dingin, bahkan suhu dibawah nol, segalanya sungguh repot setiap kali mau keluar rumah, dibandingkan di Indonesia setiap hari bisa melihat matahari dengan suhu >20 derajat celcius. Bersabar dengan lingkungan pre-school nya yang berbahasa belanda, dan akhirnya dia bicara dengan bahasa gado-gado: bahasa Jawa, Indonesia, Inggris dan Belanda. Bersabar tanpa privileges nya which are para eyang, tantenya yang tidak ada disini, dia main sendiri setiap hari karena bapak ibunya sibuk belajar sendiri. Sungguh saya mau nangis, dan sungguh bersyukur Alhamdulillah putra saya begitu pengertian, begitu dewasa.

Ini adalah mimpi yang dikabulkan oleh Allah SWT, ketika suami saya berkata tentang impiannya untuk menempuh jenjang S3 sebelum usianya 35, saya sendiri ingin lanjut S2 dan tetap bersama-sama sekeluarga. Ternyata Allah SWT memberikan jalan yang terbaik pada kami. Namun jalan itu tak akan indah, mimpi yang dikabulkan tidak akan menjadi indah tanpa usaha dan doa. Maka disinilah kami, berusaha hidup, menjadi orangtua yang lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya, namun kami juga tetap berdoa, menaruh harapan kepada Allah untuk memudahkan, melancarkan, meridhoi dan memberi berkah bagi jalan yang kami tempuh, dan menjadikan kami yang terbaik, bukan terhadap orang lain namun yang terbaik dari kualitas diri kami. semoga kami bisa menjalankan amanahNya untuk terus belajar, memahami ilmu pengetahuan dan ilmu agama sebagai salah satu ibadah kami kepadaNya. Amin.

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

3 thoughts on “Perasaan saya..

  1. Hiks… ikutan sedih.. samaaa mbak hidup di j*t malah lbh berat dan sulit, hedonisme tingkat dewa, kesombongan, macet, cuaca panas, penuh dgn org2 stress, kemiskinan, kejahatan, dll really like a nightmare here *curcol*😛 Love bdg, love europe sangaaatt tungguu kami menyusul kesana ya mbak amiin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s