Posted in me

about failure

Pernahkah, di satu titik kehidupan Anda mengalami kegagalan? Gagal = tidak berhasil = tidak tercapai, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kenapa tiba-tiba serius begini? Karena pagi ini, saya barusan mendapat kabar bahwa, salah satu rekan saya, gagal dalam sidang thesis (yang kedua kalinya). I didn’t make it, he said. Selain dia, ada dua orang teman yang sudah pulang duluan karena gagal dalam sidang proposal thesis. How do I feel? Ya menurut ngana. Ya campur aduk antara sedih, ikut prihatin, kesel, mules, gatau mesti gimana..

Saya jadi merefleksi atau memutar balik memori, about what happened in my life. Pernahkah saya mengalami kegagalan? Dan jawabannya adalah, pernah. Lebih dari sekali, malah.

Kali pertama terjadi ketika saya masih SD. Saya ingat betul betapa shock saya ketika mendapat pengumuman berapa nilai ujian akhir saya, sekitar tahun 1994. Sebagai juara kelas berturut2 dari kelas 1 sampai kelas 6, dengan nilai yang jarang kurang dari 9, saya shock abis.

Penyelamat saya waktu itu adalah Bapak. Berdasarkan intuisi, perasaan, atau apapun namanya, beliau mengusut nilai-nilai saya. Dan ternyata benar, terjadi kesalahan dari pengawas dalam mengumpulkan dan mengurutkan lembar jawaban. Saya mendapat nilai esai teman saya karena urutan lembar jawaban kedua terbalik. Sampai dites tulisan saya waktu itu. Dua dari lima lembar jawaban saya sempat dinilai ulang, and guess what? Nilai saya naik 3 poin. Cukup mengejutkan waktu itu. 3 poin yang sangat berarti membawa saya ke SMP negeri yang cukup baik untuk bersaing di kota pelajar ini.

Kali kedua saya adalah saat ujian masuk kuliah. To be honest, saya sungguh tak tau apa yang terjadi. Setelah ujian, saya mengkoreksi nilai sementara saya, dan hasilnya aman-aman saja. Namun saat pengumuman, I failed. My name was not there. Kecewa, sedih dan malu banget saya waktu itu. Apalagi setelah tau nilai beberapa teman (yang mendaftar di fakultas dan prodi yang sama), dengan nilai sementara yang berada di bawah saya, berhasil lulus. Tekanan, terutama dari Ibu, membuat saya down beberapa waktu.

Lagi-lagi penyelamat saya adalah Bapak. Beliau dengan tenang, mengajak saya bicara dari hati ke hati, setelah pengumuman tersebut. Beliau hanya minta saya memikirkan langkah selanjutnya. Ada empat opsi yang beliau tawarkan yang saya masih ingat betul. Satu, lanjut bimbel intensif. Dua, masuk ke universitas swasta yang sudah saya siapkan sebagai cadangan. Tiga, masuk ke universitas negeri dengan tes D3, nanti lanjut ekstensi untuk bisa S2. Empat, opsi kosong. Terserah saya, mau belajar di rumah atau whatever. Mendengar kata-kata Bapak waktu itu membuat perasaan dan pikiran saya terasa ringan. Akhirnya saya memilih opsi ketiga. Dan tahun depannya saya ikut ujian masuk lagi, tanpa belajar. Hanya berdoa saja. And guess what? Saya diterima.

Kali ketiga. Ada dua momen. Ketika saya menghilangkan kamera digital milik suami (dulu pacar) dan dimarahi mertua (dulu calon :D) karena mengganti tanpa bilang dulu ke Bapak mertua. Beliau marah karena tanggung jawab saya cukup bilang bahwa kamera hilang dan minta maaf. Yang diminta Bapak bukan kameranya, tapi tanggung jawabnya. Kebodohan lain lagi ketika saya kehilangan motor saya. Padahal motor sudah masuk garasi kos teman dan saya kunci stang. Ketika keluar sudah raib. Nangis saya waktu itu. Karena saya tahu benar kondisi keluarga kami sedang.. tidak mudah saat itu. Bapak saya pensiunan swasta. Saya masih harus kuliah tahun terakhir. Dan ditambah dimarahin Ibu (tentu saja), tapi kata-kata Ibu sungguh menampar saya. Saya merasa sangat tidak bertanggungjawab.

Namun saya rasa justru momen itu yang menjadi salah satu titik balik hidup saya. Sebenarnya semenjak SMA pun saya sudah belajar mandiri, dengan mencari beasiswa dan bekerja part time kadang-kadang. Namun setelah kejadian tersebut, saya benar-benar bertekad untuk mandiri secara finansial – sebisanya tentusaja – sehingga selain mencari beasiswa kuliah, mencari grant untuk penelitian tugas akhir, menjadi guru les privat, menjadi asisten di tiga laboratorium di kampus, membantu acara/proyek dosen, menerima translasi buku atau paper, menggambar kartun, atau segala kerjaan part time lainnya yang bisa menopang kebutuhan2 saya sampai saya wisuda dan lulus. I worked damn hard at those moments, and I am so proud of it😀

Kilas balik itu mengalir deras hari ini. Saya jadi ingat satu quote bahwa,

“Seorang juara bukanlah seseorang yang tidak pernah jatuh, namun seseorang yang terus bangkit untuk mencoba lagi dan lagi setelah dia jatuh dan gagal”.

Hidup tak selamanya manis, berjalan lurus, semulus rencana atau yang kita mau, bukan? Namun ketika kita mencoba mencari hikmah, dibalik apapun yang terjadi dalam hidup, apakah itu sebentuk kita yang lebih dewasa, bertanggungjawab, atau lebih tenang, kuat dan sabar dalam menjalani hidup, ataupun ketika kita melihat keluar, dan menemukan hal yang indah seperti.. Our best people yang selalu ada dan mensupport disaat kita terpuruk, dan ikut berbahagia atas keberhasilan dan pencapaian kita.. Atau rezeki yang berlipat-lipat indahnya yang-entah-kapan-hanya-Yang-Di-Atas-yang-tahu.. Dan tentunya akan menjadikan kita mengerti akan manisnya “keberhasilan” dan (semoga) menjadikan kita pribadi yang penuh syukur akan nikmat-Nya.

Maafkan atas ocehan saya. Maklum sedang galau thesis.

Sekian.

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s