Posted in blog, cerita hari ini, me

Cetut’s 2014

Hari keenam di tahun 2015. How are you, pretty people? Semoga tahun yang baru juga membawa semangat baru buat kalian, ya!๐Ÿ˜€

This time I wanna make a wrap-up about my 2014. In general, bagi saya 2014 merupakan tahun yang penuh tantangan dan penuh perubahan bagi saya. Mendadak saya sadar setelah menulis postingan tentang 20-facts-about-me disini, and I could see myself.. changing. Better,ย hopefully.

My side as a student, a learner. Saya sebenarnya tipikal yang seneng belajar. Alias kelainan๐Ÿ˜† Tapiiiiiiii.. sebenarnya saya nggak suka banget sama IPS, terutama geografi. Dari SD. Suka serem kalo ujian peta buta. Hubungan saya dan peta sejak jaman baheula hanya sebatas saling menatap selama beberapa detik. No more. Belajar buat ulangan umum cukup sejam. Kalo ditanyaย Ibu, saya jawab, โ€œudah cukup belajarnya, cukup, besok udah dapet 7โ€. Xixixi. Bandel banget. Jadi sebenarnya saya tau kalo belajar lebih saya pasti dapat nilai lebih. But I donโ€™t like it at all, sampe tau nilai 7 udah cukup buat saya #maapkeun-ya-mak. But now, Iโ€™m a geographist. I can make maps. And I like it.๐Ÿ˜‰

Confidence. Di sini, saya belajar menjadi percaya diri. Untuk bertanya ketika saya tak mengerti. Mengatakan tak setuju dan menjelaskan argumen saya. Menjawab pertanyaan dosen saya. Berdiskusi dan berdebat habis-habisan withย my groupmates. Danย percaya bahwa nilai-nilai saya menunjukkan sesuatu dan bukan sekedar โ€œIโ€™m just luckyโ€ like I always tell my friends. Bahwa saya memang cukup cepat dalam belajar dan memahami halย baru. Bahwa tanpa belajar kebut semalam pun, saya bisa lulus ujian, karena saya “paham”.

Kuliah di universitas internesyenal mengubah saya. I cannot describe it in a good way, but I do feel something is changing in me. In my mind terutama. Entah karena disini dilatih mulai dari understanding the concept and assumption behind, dasar teoritical yang kuat, practiceย and learning yang bagus, serta critical thinking supayaย dapat membuatย analisis yang tajam. Dan belajarย obyektif meski karya sendiri sedang diโ€cercaโ€.

My role as a housewife and a full-time mom. Setahun kemarin benar-benar fase hidup baru, tanggung jawab penuh terhadap suami &ย anak saya. Loh kok? Habis, sejak menikah Juli 2009 sayaย tak lepas dari peran keluarga (terutama ortu saya dan mertua), bantuan ART, pengasuh anak, warung makan (beli lauk saat males masak), laundry (kalo cape nyelesain urusan cucian), dan berbagai privilege lainnya. Hidup saya seperti dimulai dari awal lagi ketika saya tinggal di Belanda. Segala kerjaan rumah mesti dikerjakan sendiri (atau berbagi sama suami). Itu saya lakukan sambil ngambil Master study yang jadwal kuliahnya super padat. But Iโ€™m really grateful, that in one way, Allah telah menunjukkan bahwa saya mampu dan bisa menjalaninya. Trus, capek enggak? Ya capek lah. Tapi masih bearable. Bisa diatasi dengan istirahat dan banyak bersyukur, jadi hati ikut senang (meski kangen berat pijat refleksi di Djemari atau spa seharian :D)

Here, I really learn how to cook. Dan bikin masakan yang enak. Yang bikin suami dan anak saya nambah nasi berulang kali๐Ÿ˜† Saya jiper banget kalo disuruh ke dapur. Dulu. Tapi sekarang, sudah berani terima rikues menu dari suami *halah* Bahkan beberapa kali saya udah mencoba baking. So scary.

My indescribable gratefulness for a wonderful husband and an adorable son. Suami saya tidak pernah keberatan berbagi tugas domestik dan merawat anak. Salut. Disinilah saya merasakan indahnya memiliki soulmate (yang jones, maap yee :p) dan memaknai pernikahan yang tidak semata-mata komitmen tapi juga komunikasi, kompromi dan kerjasama.

My adorable son. Duaย jempol buat si bocil. Baru 3 tahun usianya, sudah digeret kesana kemari ikut bapak ibuknya, lintas samudra, jauh dari uti-kakung-dan-keluargabesar-nya dan hidup susah disini. Tapi Alhamdulillah, anak itu benar-benar menceriakan hari-hari saya. Dia juga selalu jadi penyemangat dan penghibur saya di kala susah. I love him to the moon and back banget deh.

Quality time with my family. Hidup bertiga disini membuat kami seperti paket “beli-satu-dapat-tiga”. Kemana-mana bertiga (ya iyalah, yang satu mo dikemanain? Wkwkwk) Saya jadi lebih mengenal (terutama) anak saya sebagai satu โ€œpribadiโ€, apa kesukaannya, apa yang membuat dia tertawa dan sedih, bagaimana karakternya. Bersyukur banget saya bisa dampingi di masa pentingnya, his toddlerhood time.

Good friends. Saya sebenarnya tipikal orang yang introvert. Tapi sekalinya deket sama orang, ya gitu deh. Gak banyak, tapi saya bersyukur banget bahkan disini pun saya lagi-lagi ketemu good friends. Yang paling deket dari Kenya, Afrika. She’s such a sweetheart. Selain itu sayaย tetap bisa silaturahmi sama the old good friends๐Ÿ˜€

Hidup sehat. Mak, disini bangun mestiย pagi karena nyiapin sarapan &ย bekal siang untuk suami &ย anak. Setiap hariย masak sendiri, jadi asupan pun diatur sendiri. Tak ada perubahan signifikan dalam porsi makan tapi dipastikan adaย buah-buahan atau jus, setidaknyaย sekali sehari &ย lebih dari dua jenis buah/sayur. Banyak sepedaan dan jalan kaki, jadi aktivitas gak sekedar nyalain motor/mobil trus duduk di kantor sampe sore. Lebih sehat lah pokoknya.

Ngerasain hidup di Eropa. Sudah setahun lebih saya disini, belum pernah pergi jauh-jauh dari Enschede. Tapi bahkan jalan-jalan singkat di kala weekend di seputaran Belanda atau Jerman pun sudah terasa indah. Sungguh pengalaman takย  terkira. Ternyata hidup di Eropa itu enak yaaaa๐Ÿ˜† Enschede juga kota yang indah dan relatif tenang, stabil, lingkungan yang baik dan sehat. Anak saya juga bahagia, banyak teman baik dari Indonesia, Belanda atau di sekolah internasional-nya. Banyak sekali lah pengalaman dan pelajaran hidup selama saya disini.

Oh iya, perubahan terjadi termasuk di blog ini. Yang tadinya blog cuma jadi personal diary, sekarang lebih banyak share. Walaupun random banget dan masih sering posting nyampah (kayak yang ini :lol:). Tapi saya sekarang menikmati membagi informasi, ilmu, pengalaman, apapun itu, yang saya pikir biasa aja, tapi ternyata dibutuhkan sama orang lain. Donโ€™t you think so?

Trus, gak pernah sedih, marah atau berantem, gitu? Yakali idup sempurna kayak di dongeng. Pasti ngalamin lah naik turunnya hidup. Tapi saya berkali-kali inget pesen ibu mertua saya, kata beliau, ngalah bukan berarti kalah. Walau emosi, marah, tapi coba tenangkan hati, dan telan lagi amarah itu. Sabar. Dan ini kejadian berulang-ulang, sepertinya saya memang sedang diuji untuk diberi kesabaran dan kedewasaan lebih sama Yang Di Atas๐Ÿ˜€ Tapi Alhamdulillah, semua bisa dilewati ya, karena kalo enggak, nanti bisa re-sit lagi ujiannya. Jadi ujian hidup itu harus lulus, yakan?

So, 2014, has given me challenge, chance to change myself and had been an amazing year. Semoga tahun 2015 menjadi another wonderful year ahead dan menjadi tahun penuh berkah yang sama (semoga lebih) indahnya dengan tahun 2014. Remember to be positive, mulai dari niat yang baik, pikiran yang baik, ucapan dan tindakan yang baik. Sekian!๐Ÿ˜€

Author:

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ in ๐Ÿ‡ณ๐Ÿ‡ฑ โ€ข wife&mom ๐Ÿ‘ช โ€ข parent teacher ๐Ÿซ โ€ข seasonal shopaholic ๐Ÿ‘œ๐Ÿ‘  โ€ข bookworm ๐Ÿ“– โ€ข dramafreak ๐ŸŽฌโ€ข bigeater ๐Ÿ๐Ÿฃ๐Ÿฐ โ€ข aspiring blogger ๐Ÿ“

2 thoughts on “Cetut’s 2014

    1. Thanks Nadnad.. Indeed, benar2 pengalaman luar biasa selama disini.. Alhamdulillah.. Semoga 2015 juga berkah luar biasa untukmu ya Nad๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s