Posted in Brussels

Brussels: My first impression

Sebenarnya saya sudah menyusun itenary keliling Eropa, dan Brussels tentunya adalah salah satu kota yang wajib dikunjungi ketika saya nanti ke Belgia. Ternyata pas bulan Mei, kakak ipar saya ada pelatihan di SNCF Paris dan sempat main ke Belanda sehari semalam. Paginya, kami mengantar kakak ke stasiun di Brussels untuk dia kembali ke Paris. Ternyata perjalanan ke Brussels kali ini banyak serunya.

Untuk ke Brussels kita pakai google map terus kita ketik alamat tujuan di GPS mobil kita si Tomtom. Rute yang dipilih Tomtom adalah:

Source: maps.google.com
Source: maps.google.com

Dengan jarak 310 km (hampir sama Jogja-Bandung), naik mobil diperkirakan sampai 3 jam 10 menit kemudian (bandingkan dengan Jogja-Bandung yang perkiraannya 9 jam *wow*). Keseruan pertama waktu kami akan memasuki wilayah Utrecht. Jalur mobil berubah menjadi satu jalur. Waduh, kemungkinan ada kecelakaan dan jalur dialihkan atau ditutup nih. Pindah jalan sih gak masalah, tapi ketika jadi satu jalur begitu bakal pelaan dan buang waktu. Dan benar aja, disini udah molor sejam lebih. Disini eyke mulai kuatir.

Setelah sejam merangkak di Utrecht, kami lanjut. Sebelum melewati perbatasan NL-Belgium, suami bilang, “siap-siap, ya”. Saya pikir apaan. Ternyata jalannya gronjal-gronjal, sodara. Sampe Tomtom kami copot berkali-kali dari dashboard. I can not believe di Eropa kok ada jalanan macam begindang. Kan saya jadi inget Indonesya. Eh. Saya jadi inget trus nanya ke suami, “ke Paris dulu tahun 2005 bukan? Kok masih ingat jalanannya begini? Berarti ini ga ada perubahan dong selama 10 tahun?” *takjub*

Kejutan ketiga, sewaktu kami masuk ke wilayah kota Brussels. Suami akhirnya bilang bahwa di Belgia tidak ada alamat yang ter-detect sama Tomtom. Lah trus? “Angka doang”, katanya, “tapi bukan kode pos juga”. Disini eyke mulai mules. Dan bener aja, sistem navigasi kami ga beres di Brussels (padahal selama dipake di Belanda dan Jerman baik-baik aja). Entah banyak jalan baru, atau emang semrawut, tapi kami muter-muter aja di sekitar situ sekian lama. Kakak saya udah mulai panik. Suami saya senewen karena GPSnya kumat. Anak saya rewel. Saya udah pingin nangis rasanya.

Jalanan di Brussels yang kami lalui. Yang bikin bingung Tomtom, GPS andalan kami.
Jalanan di Brussels yang kami lalui. Yang bikin bingung Tomtom, GPS andalan kami.

Akhirnya kami berhenti di satu lokasi, asal bisa parkir dan bayar meteran. Kakak udah loncat duluan dan nanya arah ke stasiun sama satu orang di halte bis. Orangnya baik, ditunjukkan sekitar 50 meter ada tangga kebawah, dia bilang stasiun utama cuma 1 stasiun jaraknya. Udah lumayan lega lah. Mobil diparkir, meteran dibayar sampe jam 4 sore, dan larilah kami ke stasiun kecil di bawah tangga tersebut.

Dan menjumpai mesin tiket kereta. Yang untungnya ada bahasa Inggrisnya. Saya bilang sama suami, pilih sekali jalan, satu kali naik kereta untuk bertiga. Karcis keluar, syukurlah. Lalu suami masukin tiket pertama ke mesin agar bisa masuk. Ehbusettt, pintunya nutup cepet banget! Akhirnya kakak minta tolong ke orang lewat, dan dia dengan baik hati membukakan pintu masuk dengan kartu keretanya, untuk dia keluar lagi. Huff!

Kami berhasil masuk. Nah ini problemnya. Kereta yang kemana, jalur berapa untuk ke stasiun. Lagi-lagi nanya ke orang yang duduk di bangku peron. Dia bilang naik aja sekali langsung turun di Bruxelles Midi, katanya. Dan akhirnya kami naik kesana. Turun langsung di Bruxelles Midi, stasiun utama. Huffffh. *legaaaaaa*

Cek waktu, masih sekitar sejam-dua jam sampe kereta kakak datang. Trus kami keliling aja gitu di stasiunnya, dan nemu toko-toko coklat. Belgian chocolate, emak! Tentu saja saya beli!!! :lol:😆😆 (setelah nanya ke penjualnya coklat yang tanpa liquor ya). Ada Godiva, Leonidas dan sebagainya. Sampai sini saya udah lumayan ceria lagi :D

Belanja coklat di stasiun Bruxelles midi dan foto di depan mural Tintin :)
Belanja coklat di stasiun Bruxelles midi dan foto di depan mural Tintin🙂

Lalu kami sempat keluar sebentar dan poto poto di area stasiun. Makan di Subway. Pas duduk saya baru ingat, “eh, tadi parkir mobil di wilayah mana, ya? saking paniknya aku gak perhatiin nama jalannya..” *glek* *kakakdiem* *suamidiem* *argasibukngunyah* Kakak bilang itu daerah Hol Hol atau Chapel apa gitu. Waktu coba browsing, wifi stasiunnya naik turun. Ya udah deh, ntar aja dicarinya daripada kakak ikutan panik, ya kan. Trus kami antar ke kereta Thalys di bagian atas stasiun.

Rampung dadah dadah sama kakak, kami turun lagi. Coba nyari peta di stasiun, ketmu sih, tapi hmm. Bahasanya Perancis, cinta. Dan yang saya ngerti sebatas Je’t aime doang. Mo beli tiket di mesin, kok ga ada stasiun yang berbau-bau Hol Hol atau Chapel gitu. Gimana nih ya.

Alternatifnya, kami coba keluar dari stasiun mo nyoba jalan kaki, mestinya ga jauh kan. Ternyata diluar pemandangannya sama sekali beda dengan tempat parkir mobil kami. Duh Gusti. Jadi kami masuk lagi, coba baca peta sekali lagi. Nyerah. Nanya ke petugas aja lah. Dan dikasih tau arahnya. Saya coba merunut dari toko coklat yang tadi saya beli satu demi satu. Dan ketemu lah tempat kami turun tadi. #legasesaat

Udah beres, ceritanya? Belum bos, masih panjang. Sabar ye😀

Trus kami beli tiket lagi sekali jalan untuk dua orang. Kali ini Arga di paling depan bersama saya. Suami pakai tiketnya sendiri. Begitu pintu buka, anak saya masuk duluan. Daaaan… pintu langsung nutup. Jebret. Sebelum saya ikut masuk.

AAAAAAAAAKKKKK ANAKKKKKUUUU!!!! *panicfrantic*

Dan Arga pun bingung, “mommy, mommy”, katanya. Sambil menenangkan diri, saya bilang ke dia, stay there, I’m coming, just stay. Dan suami akhirnya beli tiket satu lagi. Berkat kebodohan saya. Haaahhh.

Kami bisa naik kereta jalur 3 atau 4, makanya begitu ada yang datang, kami naik. Dan turun setelah 1 stasiun. Pas kami keluar, ntar dulu kok rasanya ada yang aneh nih. Kok beda sama stasiun yang pertama tadi. Omaigatttt, KAMI SALAH ARAH dong!!! *ketawamiris* *sungguhtakadaakhirnya*

Hadeeehhh. Maka kami pindah jalur, naik kereta lagi (no 3 atau 4) dan turun setelah 2 stasiun. Akhirnya kembali ke stasiun pertama dekat kami parkir mobil tadi. Dan namanya Hallepoortlaan. Tak ada hubungannya sama sekali dengan kata Chapel yang diucapkan kakak saya tadi. *ish*

Cobaan kembali menerpa saat kami mau melewati pintu keluar. Karcis tak bisa dipakai. APA LAGI INIII… *hrrrghh* *hilangkesabaran*

Syukurlah ada mbak cantik yang lagi-lagi bersedia membukakan (dan menahan) pintu keluar dengan kartu keretanya dia. Kendalanya hanyalah, dia tak bisa berbahasa Inggris. Jadi ketika kami coba ngomong pake kata kunci dasar, help, get out, car, outside, parking. Dia gak ngerti, sodara. Sama sekali. Lama kali saya dan suami berkutat dengan bahasa Tarzan. Sampe akhirnya saya ingat di jalan tadi, dan saya berseru, “TAKSI!” dan muka si mbak cantik langsung ceria. Dengan bahasa tangannya dia mengajak kami keluar dengan kartunya, dan membawa kami ke atas, ke arah luar, dan menunjuk arah pool taksi. Dan kami melihat mobil kami. Alhamdulillah, akhirnyaaaa… *sujudsyukur*

Foto di sekitar stasiun Bruxelles midi dan Hallenpoortlaan
Foto di sekitar stasiun Bruxelles midi dan Hallenpoortlaan

Setelah menarik napas barang beberapa menit, suami saya nanya, masih mau jalan nggak. Tiket parkirnya masih sampe jam 4. Saya bilang, nggak usah, saya pingin pulang ke rumah. Ke Enschede. Udah lemes banget badan ini rasanya😆😆😆

Di perjalanan, kami ketawa mengingat pengalaman luar biasa tadi. Saya iseng nanya, kapan2 mo balik Brussels lagi ga? Dan suami saya bilang, no thanks. Ke tempat lain aja. Yaa, padahal saya belum ngicipin Belgian Waffle yang terkenal itu. Tapi masih banyak kok kota2 di Belgium, seperti Brugge. Dan suami saya bilang, ya one day, kalau udah hilang empet sama Brussels.

Kota Brussels nya sendiri gimana? Sebenarnya cantik, dengan kontur jalan yang sempit dan naik turun dan gedung-gedung tuanya. Namun sebagai ibukota Belgia (dan Eropa, katanya) kotanya kecil dan sederhana. Tidak seglamor Amsterdam. Dan identik dengan problematika ibukota, berantakan. Sedikit kotor. Banyak bangunan yang seperti ga keurus. Banyak mobil parkir sembarangan. Di tengah jalan berhenti tiba-tiba. Kacau deh😆 Kalaupun bawa GPS akan bingung cari jalan dan jalannya gak mulus. Ini my first impression and opinion, lho ya.

What I like, lots of nice and helpful people, although they don’t speak English. Ada dua orang super baik yang bantuin kami masuk/keluar stasiun kereta, karena tiket kereta kami ga bisa buat masuk. Tuh pintu keparat tau-tau nutup aje -_- . Banyak orang yang kami tanyai, rata-rata menjawab dengan sopan walau mereka tidak tahu. Sekian ah.

Favourite place of the day, La Place Apeldoorn :D
Favourite place of the day, La Place Apeldoorn😀

Oh iya waktu perjalanan pulang, sejam sebelum Enschede kira-kira di daerah Apeldoorn, kami singgah di pom bensin yang ada La Place-nya. Menikmati smoothies dan french fries sambil leyeh-leyeh. Malah justru tempat ini yang sangat kami nikmati,😆😆😆 Dan disini baru ketahuanlah penyebab rewel si bocah, karena dia ngibrit ke kamar mandi dan ternyata.. seharian dia ngampet mau ke belakang. Oalah le.. kasian amat pantesan aja rewel di jalan.. hihihi. Abis itu selama sejam perjalanan pulang ke Enschede, kami sudah rileks lagi. Si bocah udah ceria lagi. Suami udah bisa ngelucu dan kami sama-sama ketawa mengingat apa yang terjadi tadi. Hari ini sungguh sesuatu deh😀

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s