Posted in Enschede, learn from the Dutch

Episode learn from the Dutch: Be Punctual!

Gambar diambil dari sini
Gambar diambil dari sini

Kali ini saya buat kategori baru berjudul learn from the Dutch. Iya, posts di dalam kategori ini (bakalan) mengenai apa saja yang saya pelajari, termasuk kebiasaan dsb (non akademik tentunya) selama saya tinggal di Belanda. Tentunya yang berbeda dengan kebiasaan di tanah air.

Perbedaan yang mencolok pertama adalah kebiasaan tepat waktu. Kalau mau googling sebentar, sudah ada banyak sekali artikel atau blog yang mengulas tentang hal ini. But let me explain what I experienced here.

Di Indonesia, budaya (saya) yang saya alami terkait waktu adalah jam karet. Diundang rapat di kantor jam 9, orang pada berdatangan jam 9.30 atau 10.00. Janjian sama teman makan di luar, kalau kita datang tepat waktu malahan biasanya nunggu karena yang lain masih pada di jalan. Dihubungi, “iya ini lima menit lagi nyampe!” Padahal kenyataannya baru nyalain mobil atau motor (to be honest ini saya loh, no offense ya!). Yang paling heboh adalah pengalaman ketika saya kuliah kerja nyata atau KKN. Waktu itu saya ingat betul bahwa kalau bikin acara dan mengundang orang-orang mesti dua jam sebelumnya! Kali pertama, karena ketidaktahuan, sampe garing gigi kami menanti para undangan yang tak kunjung tiba.😀

Begitu sampe Belanda, berkat sesi predep (dan hasil gugling tentang jam besi di Belanda), maka akik tak berani telat sekalipun. #sayamahgituanaknya😆 Pernah sekali ada sesi statistik dan ada 5 kandidat terpilih untuk presentasi. Nah, satu orang tak muncul saat dipanggil. Datengnya setelah semua kelar dan para juri pergi untuk rapat. Pas ditanya ke para jury, they said NO. Tak boleh dibantah.

Momen lain ketika berangkat fieldwork. Telah disepakati jam sekian. Kelompok saya berempat, dan ada satu tukang ngaret. Kami sekelompok udah ketar ketir karena dosen kami waktu itu termasuk killer. Dan bener aja pas jamnya berangkat, teng. Dosen tsb langsung bilang pak supir bis untuk berangkat. Teman saya ditinggal, dong. Padahal dia telat berapa 4 menit sajah! Ckckck #unbelievable

Saat lain, saking takutnya saya telat (terutama ketika ada janjian), saat itu saya nyampe ruangan dosen lebih awal. Waaw you’re 2 minutes earlier, katanya. Indaaaaaannnggg😆😆 Jadilah kebiasaan saya sekarang kalau ada janjian, berangkat 10 menit lebih awal. Kalo dah sampe tempatnya, nunggu deh, sembari duduk atur napas atau ambil kopi. Biar ketemu orangnya pas!😀

Jadwal kereta lebih disiplin lagi. (telat pun paling tiga – lima menit doang) Percayalah kami sudah melalui berkali lari-lari biar gak ketinggalan kereta. Apa gak ada kereta berikutnya? Ya ada, entah 15 atau 30 menit atau sejam kemudian. Tapi kok rasanya sayang waktunya gitu ya kalo sampe telat.

Nah. Yang ngehek lainnya adalah pengalaman jemput anak sekolah. Saya alami sekali waktu hari pertama jemput sekolah Arga. Kami telat 10 menit karena ada meeting. Si bocah sudah menanti di sekolah sambil ditungguin gurunya di hall. Terus, wanita yang duduk di reception memanggil saya, trus saya dinasehati. Demiapah ya Allah umur segini masih dinasehati guru, hahahah.😆

Dia bilang mesti menghargai waktu, karena waktu setiap orang itu berharga. Pun kasihan si anak kalau melihat teman2nya sudah pulang dan dia nunggu sendirian. Dan anak < 6 tahun itu masih dibawah pengawasan guru, jadi bakalan ditungguin sampai semuanya dijemput. Dan beliau menjelaskan apabila lain kali datang telat, kami akan didenda 15 euro tiap 15 menit. Itulah sekali-kalinya kami telat. #kapok

Ini bagian curhatnya. (lah yang bertele-tele diatas apaan?😆 ) Karena ternyata, di negeri jam besi ini, tetep adaaa aja loh yang masih hobby suka telat jemput anak. Dari negara mana coba?😉 Kadang saya diminta menunggui (dan saya gak keberatan). Walau kadang menghubunginya ketika saya udah dijalan, nyepeda pula, kan mana kedengaran.. tapi tetep saya tungguin kok.

Dan it happens over and over again. Sampai satu ketika, para guru bertanya sama saya, apakah kamu selalu menunggu sampai mereka dijemput? And I say yes, they’re with me, it’s okay, I don’t mind. Tapi gurunya berkata, that’s not it. Everyone should be responsible for their own children. By come to class and pick up on time. You said, you’re okay. But I think your time is also precious and I’m sure you have something important to do too. Intinya semua orang waktunya berharga, gitu.

Sampai disini saya berpikir keras. Apa iya yang saya lakukan (dengan menunggui) itu benar membantu atau malah gak membantu? On the one hand, dia teman saya. Anaknya teman main anak saya juga, kasihan pan kalo nunggu sendirian apalagi kalo sampe didenda karena telat jemput. But on the other hand, bener banget yang disampein sama guru di sekolah tadi. Tanggung jawab anak itu ada pada orang tua nya. Kesannya malah jadi saya yang nggak menghargai waktu dan urusan saya sendiri. Gimana sik. Pusing pala berbie.😆😆😆

Akhirnya diskusi sama suami. Beliau bilang santai aja lah. Kalau emang lagi ga ada urusan lain, dan si bocah masih mo main di sekolah, ya temenin aja. Tapi kalau emang lagi ada perlu, ya langsung pulang aja. Toh ga ada permintaan khusus (misalnya dihubungi atau di sms) untuk menunggui anak2 itu kan. Hah, dengan begitu jadi lega deh saya sekarang #gitudoang😆

Kok ini jadi malah nyampah deh! Hahah😆😆😆

Back to topic, orang Belanda itu menghargai waktu banget. Rata-rata mereka punya agenda harian (dan tiap jamnya mereka mau ngapain) termasuk ketemu siapa. Teratur dan well-organized sekali. Jadi selain di jam yang sudah mereka tentukan, akan sulit “mencuri” waktu mereka. Except for something urgent, of course.

Saya jadi belajar banget ini dalam mengatur waktu saya. Beda banget ya dengan di Indo. Misalnya ada teman mendadak datang dari luar kota, walau kita ada acara, biasanya tetep disempetin ketemu. Kalo disini mah (guyonan mereka) akan bilang, “Let me check my agenda. Yak, let’s meet in two weeks.”😆 Jadi mak, kalo ada apa-apa, kabarilah jauh-jauh hari!

Pesan moril dari saya: hargailah waktumu dan waktu orang lain, bertanggung jawab lah atas waktu yang kamu miliki dan usahakanlah tepat waktu selalu! Salam super!😀

Gambar diambil dari sini
Gambar diambil dari sini

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s