Posted in culinary, family, Jogja, Kudus

Cerita Lebaran Day 3. Menjelajah Kota Kudus

Bangun pagi-pagi, mandi dan beberes. Sarapan pagi ini masih khas Demak: lontong segede dosa dengan pindang kerbau, tahu goreng dan sambal ndeso. Yes, no cows here. Tapi sama enaknya. Lebih enak malah. Mungkin suasana desa ditambah makan rame-rame jadi selalu seru dan maem jadi lahap.๐Ÿ˜€

Siangnya siap-siap mo keliling sungkem ke nenek, adiknya nenekย dan budhe (kakaknya Bapak). Dilanjut jalan-jalan ke kota Kudus dengan dua mobil, kebanyakan berisi para anak muda dan krucilsย untuk wisata kuliner. Kami dibawa ke daerah kota Kudus untuk mencicipi mie ayam dan bakso Pak Yoyok. Antrinya alamaaakjaaan. Tapi sepadan. Mie ayam baksonya endeusss. Pakai mi kuning, kuahnya juga agak kuning dan baksonya gede. Enak banget. (prasaan enak semua reviewnya๐Ÿ˜€ ) Baksonya juga apalagi, sayangnya bakso balungan (tulangnya) abis padahal khasnya disini. Yang lucu mi putih disini warnanya biru muda. Walaupun warnanya horor tapi yang penting rasanya kaan. #gampangan๐Ÿ˜†

Kenyang makan bakso, kami lanjut jalan ke arah Pasar Kliwon. (padahal barusan makan!๐Ÿ˜† ) Kata adek, disini ada dawet cendol super enak yang bikin ketagihan. Bukan di area depan pasar yang banyak kaki limanya, tapi muter gitu, deket toko kupu-kupu, dan dia punya warung kecil. Namanya Dawet Cendol Moro Seneng. Astaga, enaknya. Cendolnya itu kenyal banget, kuahnya santan gurih berpadu dengan sirup merah yang manisnya pas. Esnya bikin seger. Cuman 3.5k IDR pulak. Suami sampe nambah jadi dua gelas. Dan bawa pulang juga buat yang dirumah enggak ikut (mertua :D). Ik syukaaaaaa..

20150719_140758
Es Dawet Cendol Moro Seneng Pasar Kliwon, Kudus. Dawet cendolnya dikirim langsung dari surga. Enak bangettttt!!๐Ÿ˜€

Pulangnya mampir beli nasi tahu di area pertokoan apaa gitu. Ini rikuesnya bapak Mertua, jadi kami tak kuasa menolaknya. Meski antrinya ngeri abis dan berjam-jam. Tapi karena semua kenyang, maka semua riang๐Ÿ˜‰

Malamnya, para adik kembali ngajak untuk nongkrong cantik di sekitar kota Kudus. Tapi berhubung si bocil sudah terlelap, maka saya nggak ikut. Suami juga menemani. Jadi akhirnya adik2 pergi cari cemilan yang bisa dibawa pulang. Dan nyarinya berjam-jam, katanya antrinya serba indaaanggg.. Kami makan martabak telur, martabak manis dan entah apa lagi malam itu. Sambil ngobrol di teras dan lihat kembang api yang disulut para anak kecil punya tetangga yang gak ada habisnya. Seru. Seru. Seru.๐Ÿ˜€

Author:

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ in ๐Ÿ‡ณ๐Ÿ‡ฑ โ€ข wife&mom ๐Ÿ‘ช โ€ข parent teacher ๐Ÿซ โ€ข seasonal shopaholic ๐Ÿ‘œ๐Ÿ‘  โ€ข bookworm ๐Ÿ“– โ€ข dramafreak ๐ŸŽฌโ€ข bigeater ๐Ÿ๐Ÿฃ๐Ÿฐ โ€ข aspiring blogger ๐Ÿ“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s