Posted in Bantul, culinary, family

Cerita Lebaran Day 5: Bantul Projo Tamansari

Bantul adalah tempat kelahiran Ibu saya. Waktu kecil, biasanya kami sekeluarga menghabiskan waktu menginap 2 malam saat lebaran. Namun sejak semuanya membesar (maksudnya udah pada gede, gitu), jadi sesek penuh deh rumah Nenek. Jadi kami yang notabene punya rumah di Jogja enggak nginep lagi, biar yang luar kota aja lah yang tinggal di sana. Nenekย sudah meninggal beberapa waktuย yang lalu, namun kami tetap kesana. Kebetulan kakak dari Bandung juga punya rencana ke sini di hari yang sama.

Kami ketemu di sana sekitar pukul 11:00, menuju rumah Bulik. Dan kecele. Saya hanya ketemu sepupu saya (dan bayinya :D). Lalu saya lanjut ke rumah Nenek, yang sekarang ditempati Pakdhe dan putrinya yang juga punya bayi. Lucu deh bayinya. Dan yang lucu lagi anak saya, yang jadi rewel karena kayanya ribut gegara lihat ibunya gendong bocah lain. Jealous kali ya.๐Ÿ˜€

Sehabis dari rumah Nenek, tentu saja saya kuliner lagi!๐Ÿ˜† Kali ini tujuannya adalah Bebek Goreng Pak Umar Plentheng, Jl. Samas. Lokasinya sekitar 3 km sebelum pantai samas. Ada plang kecil sih di sebelah kiri jalan. Lokasinya memang agak nylempit, di desa, tengah sawah pula. Tapi dijamin worth it!๐Ÿ˜€

Ada bebek dan menthog di menunya. Bebeknya diungkep (sepertinya juga dipresto) karena dagingnya lembut sekali. Bebeknya gemuk, lembut, gurih asin sedikit manis. Disajikan pakai dua macam sambal, sambal korek sama sambal terasi. Pelengkapnya oseng godhong telo kaspo pait. Juga enak. Nasinya juga porsi gede. Enak lah pokoknya. Si bocah aja sampe hampir habis satu porsi. Dan ketika pesan, saya sekalian order 2 ingkung buat dibungkus, satu buat mertua satu buat ortu.

Pulang dari sana, di tengah jalan saya mampir ke Geplak Mbok Tumpuk Bantul. Mau beli peyek tumpuk yang kondang itu. Kenapa disebut peyek tumpuk? Karena tidak seperti umumnya peyek yang berbentuk lembaran, peyek yang ini bertumpuk-tumpuk menggerumbul. Enak deh buat dikerikitin. *apasik* Geplaknya juga khas, namun saya ga gitu suka karena terlalu manis. Peyek tumpuknya 22k IDR, remukannya 6k IDR. Saya beli beberapa karena Bapak Mertua, Kakak Ipar n kakak saya suka peyek kacang semua. Habis itu ga kemana-mana lagi kok. Pulang๐Ÿ˜€

Bebek Pak Umar Plentheng dan Peyek Mbok Tumpuk, kuliner/oleh-oleh khas Bantul favorit saya :D
Bebek Pak Umar Plentheng dan Peyek Mbok Tumpuk, kuliner/oleh-oleh khas Bantul favorit saya๐Ÿ˜€

Alhamdulillah, lebaran tahun ini diisi dengan banyak silaturahmi. Something that I longed for when I was far far away from a place I called home. Alhamdulillah. Selamat Idul Fitri, teman-teman, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Semoga lebaran kalian juga sama menggembirakannya sebagaimana lebaran saya๐Ÿ™‚

Author:

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ in ๐Ÿ‡ณ๐Ÿ‡ฑ โ€ข wife&mom ๐Ÿ‘ช โ€ข parent teacher ๐Ÿซ โ€ข seasonal shopaholic ๐Ÿ‘œ๐Ÿ‘  โ€ข bookworm ๐Ÿ“– โ€ข dramafreak ๐ŸŽฌโ€ข bigeater ๐Ÿ๐Ÿฃ๐Ÿฐ โ€ข aspiring blogger ๐Ÿ“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s