Posted in me

Belajar antara budaya Timur dan Barat

Saya orang Indonesia asli. Dan meskipun tampang (kata sebagian orang) nggak ada Jawa-jawanya, tapi saya 100% dari Jawa. Wong Jogja. Dan saya menghabiskan 30 tahun hidup saya di sana. Lalu sekarang, tahun ketiga saya tinggal di Benua Eropa, di negara Belanda. Banyak sekali perbedaan (dan tentu saja kesamaan) antara budaya timur dan barat yang saya amati selama saya berada disini.

Terus, bedanya apa? Bagusan mana? Dua-duanya bagus. *jawaban-standar* Keduanya dibentuk oleh kondisi alam, waktu, lingkungan dan orang-orangnya. Lalu apa yang bisa dipelajari dari kedua budaya tersebut? Berikut hasil renungan saya pagi ini.

  1. Saya ingin menghargai kecantikan dan keindahan orang lain sebagai pribadi yang berbeda dengan saya. Menghormati orang lain dengan gaya pakaian berbeda. Selera bisa lain, pendapat bisa lain. Menyimpan pendapat saya untuk diri sendiri, kecuali bila ditanya. Dan disampaikan dengan kesantunan. Memuji orang lain dari hati, seperti “bagus sekali sweatermu cocok banget sama warna matamu”. Atau “kulitmu cantik ya, pakai warna apa saja masuk”. Atau, “kamu ramping banget ya, enak banget pakai baju model apa aja pantas dilihatnya”. Sedikit pujian tidak akan menyakitkan kok. Asal pujiannya dari hati, dari kekaguman kita dan bukan sekedar basa basi.
  2. Belajar hidup hemat dan sederhana, sesuai keperluan dan kebutuhan. Saya merefleksi 30 tahun tinggal di Indo, banyak sekali hal yang terlalu ngombro-ombro. Berlebihan. Hidup sederhana bukan berarti pelit atau itungan loh ya. (misal teman datang jauh-jauh disuguhi air putih doang. Atau pergi makan sama sodara dan nyuruh bayar sendiri-sendiri. Atau nggak nyumbang makanan pas pertemuan potluck. Bagi saya itu pelit mah namanya.) Hemat dan sederhana, ex: jangan sampai membuang bahan makanan dari kulkas dan dapur. Jangan karena harganya murah, merasa sumber daya berlimpah, duit banyak, trus jor-joran beli ini itu. Karena SDA ini terbatas, bumi kita juga terbatas, sadar lingkungan dikit biar nggak banyak sampah terbuang.
  3. Belajar untuk mandiri dan me-mandiri-kan anak. Ini penting. Saya merasakan tugas sebagai orang tua bukan cuma ngasih makan, ngeladenin, beliin mainan, bikin anak hepi, lalu merasa sudah mensejahterakan anak. Anak perlu dididik untuk mandiri dan survive for life, karena orang tua kan nggak akan mendampingi anak selamanya.. Well, we wish, but who knows..
  4. Belajar tepat waktu, menepati janji dan menghargai waktu orang lain. Waktu semua orang itu berharga. Tidak pada tempatnya saya meminta ketemu dengan orang lain semau saya, mendadak tanpa konfirmasi, telat waktu janjian, atau membatalkan secara sepihak, ketemu ngomong ngalor ngidul juga dikurangi.. (minimal nanya kalo masih ada yang dikerjain, nggak papa obrolan ini disudahi dulu).
  5. Belajar menghargai usaha orang lain. Anak kita yang berusaha bantuin beberes mainan. Suami yang ikut bantu bersihin rumah. Istri yang masak tiap hari dan memastikan semuanya beres. Orang tua yang kita titipin si bocah. Si mbak yang kita pasrahin rumah dan anak kita. Tukang parkir yang ngerapiin motor, sekuriti yang bukain pintu, ob yang kita suruh kesana kemari biar kita bisa ngerjain yang lain….
  6. Belajar percaya diri untuk mengungkapkan pendapat. Dengan sopan santun. Walau tidak sependapat, misalnya “Maaf, saya tidak setuju”, atau, “menurut saya tidak demikian, karena… “
  7. Belajar untuk nggak kepo dan comel ke orang lain. Kepo = sok tau, mau tau urusan orang. Kepo itu nggak sopan. Kepo itu melanggar privasi orang lain. Comel = apa-apa dikomentarin, asal komentar biar lucu, biar gaul, biar keliatan keren, padahal menyinggung perasaan orang yang dikomentari.
  8. Belajar menikmati hidup. Di Indo punya rumah besar, halaman luas, banyak pohon, buah tinggal petik, masakan tinggal beli, keluar tinggal ngidupin motor. Di Belanda, rumah mini (syukurlah nggak repot beberes krn semua dikerjain sendiri). Di sini dingin tapi udara bersih, jadi paru-paru saya lebih sehat (dan biar nggak dikit-dikit ke mall😀 ). Kemana2 musti naik sepeda (syukurlah, dipaksa berolahraga). Apa-apa mahal? Makanya belajar hemat. Nikmati saja. Hidup ini indah. La vita e bella.
  9. Belajar menjadi individualis yang berempati. Toh saya dah gede, dah dewasa, nggak perlu kan setiap saat kemana-mana bareng layaknya anak SMA nge-genk ? I am an adult now. Sendiri it’s very okay, asal mau mengakui kesulitan ketika tak mampu saya tanggung sendiri, dan minta bantuan. Dan memastikan I will be there saat orang lain membutuhkan saya.
  10. Belajar tersenyum melihat kebahagiaan orang lain, dan berempati ketika orang lain kesusahan. Dan menghormati ketika orang lain nggak ingin, nggak mau, atau nggak bisa cerita tentang kondisinya.
  11. Belajar membuka hati dan pikiran terhadap perubahan dan hal baru.
  12. Belajar sabar dan mengajarkan kepada anak untuk belajar sabar.
  13. Belajar dan mengajarkan indahnya perbedaan dan persamaan kepada anak.
  14. Belajar menghargai privasi diri sendiri dan orang lain.
  15. Belajar untuk menjadi maju seperti perilaku orang di negara maju. Ubah pola pikir dan perilaku. Keren adalah bangga pada budaya dan tradisi negara sendiri. Keren adalah naik sepeda walau di rumah ada mobil, karena lebih efisien, sehat, ramah lingkungan. Keren adalah mampu memasak dari A to Z walaupun di luar banyak restoran tinggal pesan. Keren adalah belajar percaya diri dan percaya bisa menjadi yang terbaik.
  16. Belajar berbagai hal dari hal kecil sampai hal besar dari negara kecil yang maju dan begitu teratur ini, agar kemudian berguna ketika saya kembali ke tanah air dan mampu membuat perubahan ke arah yang lebih baik.
  17. Belajar untuk tetap mesra dan menjaga hubungan dan kepercayaan dengan suami. Suami sendiri ini. Bukan suami orang lain😀
  18. Belajar mengenal orang dan karakter mereka, dan kebiasaan orang dan budaya dari seluruh penjuru dunia. Luar biasa.
  19. Belajar everyone is equal, termasuk anak. Pendapat mereka harus dihargai.
  20. (Tetap) Belajar untuk makin mendekatkan diri sama Yang Kuasa dan berbuat baik kepada sesama. Mengingat bahwa Allah SWT Maha Pengampun, seberat apapun dosa kalau bertaubat dan mohon ampun insha Allah akan dimaafkan. Sedangkan bila saya berbuat salah atau menyinggung sesama manusia? Ya kalau ybs memaafkan. Atau memaafkan tapi tetap ada setitik saja rasa kesal di hatinya, apa nggak bakal memberatkan timbangan kita nanti di hari akhir? Seperti misalnya menanyakan apakah masakan atau makanan yang dibuat saudara kita halal atau tidak. Itu contoh pertanyaan sederhana. Tapi rasa ragu kita yang ada dalam pertanyaan itu bisa menyakiti hati saudara kita, lho. Beneran.

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

2 thoughts on “Belajar antara budaya Timur dan Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s