Posted in misc

untuk seorang teman

Cerita ini berawal pada zaman saya masih duduk di bangku SMA. Ketika saya masih culun dan unyu-unyu. Kala itu, jarang sekali ada anak sekolah bawa HP apalagi laptop. Apalagi kenal sama skincare, behel, nongkrong di cafe, rambut di bonding (eh ini udah ding😉 ), dan sebagainya. Masih alami🙂

Saya bersekolah di salah satu SMA Negeri di Jogjakarta, SMA 3B. Selama tiga tahun disana, saya mengalami ‘pindah’ kelas selama 3 kali. Waktu kelas 1 saya berada di kelas I-3, lalu II-4 dan III-IPA2. Biasanya bila siswa mengambil jurusan IPA, mestinya saya tetap berada di kelas yang sama ketika kelas satu (kelas yang sama dengan kekasih pada waktu itu, sekarang suami ^^). Kenyataan yang saat itu saya terima dengan sangat berat. Kenapa?

  1. Pindah kelas baru berarti lingkungan baru, suasana baru dan semua teman baru. Sungguh nggak praktis banget bagi siswa kelas 3 yang perlu konsentrasi belajar untuk persiapan UMPTN.
  2. Nggak sekelas sama kekasih dan sahabat2 saya di IPA3. *sedih*
  3. Di kelas baru ini banyak teman yang belum kenal. Coret. Kelas ini penuh para berandal (sebenarnya teman satu genk kekasih saya) tapi tetap saja, membayangkan setahun penuh bersama para bandit itu cukup bikin saya bersusah hati.

Saya sampai menghubungi kepala sekolah, bagian kesiswaan dan lain-lain. Mau bikin protes petisi yang ditandatangani teman-teman saya segala. Namun apa mau dikata, keputusan sudah jadi keputusan. Saya harus menghabiskan tahun ketiga di kelas baru, kelas IPA2.

Hari pertama masuk kelas, saya melangkah masuk kelas IPA2 dengan hati-hati. Baru sejengkal sampai di pintu, saya disambut dengan gelegar membahana para berandal, “HORREEEEEEE!!!!” dan saya pun tertunduk malu. Musnahlah niat saya menghabiskan hari-hari terakhir di SMA dengan damai.

Hari demi hari saya lalui, kadang suka, kadang duka, kadang damai, seringkali tidak damai.😆

Pernah satu ketika saya masuk kelas, dan anak Pak Bon (penjaga sekolah) sedang disandera di dalam kelas.

Ketika saya diumumkan mendapat nilai terbaik di ulangan Kimia dan Biologi, langsung disambut teriakan, “ya ampun Tut, balik saja lah kamu ke IPA3, gara-gara kamu disini, aku yang biasanya ranking 37 pasti jadi 38! Ibuku bakal tambah ngamuk!” Dan seisi kelas ketawa berjamaah.

Ada lagi, nggak ada hujan nggak ada angin, tiba-tiba nama saya dipanggil, “Tut, menurutku kamu cantik! Aku suka sama kamu!” Kemudian yang bersangkutan langsung ngomong ke teman disebelahnya, “Tuh, aku berani ngomong. Sekarang kamu berani nggak?!!” Dan mereka asik ngobrol tanpa melihat ke saya lagi. Lah trus yang tadi ngapain coba?! Memang sarap teman-teman saya ini.

Kalau saya lagi datang telat, sudah pasti dapat bangku paling belakang (malas lah ya duduk paling depan) dan so pasti duduk sama kepala geng bandit ini. YW panggilannya. Dia salah satu sahabat kekasih saya juga. Dan yang paling sering godain saya sejak saya kelas 2. Bukan macam godain gebetan ya. Tapi ngebecandain bikin nangis gitu lah.

Kalau pagi-pagi bangku yang tersisa hanyalah di bangku paling belakang, saya akan menghela napas berat. Dan disambut cengiran lebar di mukanya YW. Seharian bersamanya pasti berantem, biasanya diakhiri dengan bentakan guru yang meminta saya pindah ke kursi paling depan. Sayanya protes dong, “Ih ogah bu, saya yang dijailin kenapa saya yang duduk depan”. Eh malah saya jadinya guru saya mengamuk, “Astuti, you come here!!”. And the culprit so pasti ketawain saya, ketawa jahat MUAHAHAHAHA begitu.

Trus seringnya kalau duduk sama dia, pasti pintu penghubung antar kelas yang ada di belakang kursi yang kami tempati ditendang sama dia sampai terbuka lebar. Maksudnya pamer sama kekasih saya di kelas sebelah kalau dia duduk sama saya gitu, sambil pura-pura merangkul saya. Nyebelin tingkat dewa banget kan. Padahal habis itu pasti saya tonjok dia.

Momen yang paling bikin emosi, saya digodain habis-habisan dan dia bilang kalau teman2 kami pada taruhan sampe kapan saya pacaran sama kekasih saya (sekarang udah jadi suami saya, wek! :P). Pernah juga di absensi ujian, di kolom nama saya ditulis, “si kaki item”. Ampun deh jahilnya. Sayanya pastilah ngambek. Dan sejuta lebih kejailan lainnya.

Belum kalau mengundang para bandit itu saat ulang tahun. Setiap bandit itu makannya dobel, terutama kepala gengnya. Kemaruk semua. Dan mereka kayak Kurawa, datangnya pasti rame rame. T-T *bangkrut*

Setahun berlalu, kami lulus SMA. Masuk perguruan tinggi di fakultas masing-masing. Terakhir saya ketemu ketika saya sweet seventeen, sebulan setelah lulus SMA pada September 2000. Saya mengundang teman-teman SMA yang masih berada di Jogja untuk sekedar makan ayam goreng bareng. Berbagi kabar, bertukar cerita.

Then life (must) go on.

09 April 2002. Malam hari, kekasih saya menghubungi, mengajak ke RS karena YW jatuh saat main bola. Ketika kami sampai, sudah banyak sekali teman-teman kami berkumpul di RS. Perasaan saya makin nggak enak. Para bandits itu menyembunyikan wajahnya. Dari mereka, kami diberitahu bahwa YW sudah meninggal. Saya terdiam, shock. Semuanya menangis, termasuk pacar saya. Kami kehilangan seorang sahabat malam itu.

Esoknya ketika pacar mengajak saya untuk melayat, saya minta maaf dan bilang saya nggak bisa datang. Saya nggak mampu. Seeing the picture when he laid down di peti jenazah (saya teringat dia yang berkeras nggak mau pakai jas sampai kapanpun – waktu itu untuk wisuda SMA), terlihat damai mengenakan jas dalam tidur abadinya. Sebuah boneka Olive-nya Popeye dari pacarnya berada di sisinya. Saya meresapi setiap detail foto itu. Saya masih ingat setiap detail foto itu sampai sekarang dan saya masih menangis ketika menuliskan postingan ini.

Saya menangis sendirian di kamar waktu itu. Menangis cukup lama sampai Ibu saya yang khawatir masuk ke dalam kamar dan bertanya, lalu saya bilang teman saya SMA meninggal. Beliau cukup mengerti dan membiarkan saya di kamar saya sendirian. Ketika saya menghibur diri menyalakan TV, pertama kalinya saya melihat video klip ini dirilis dan mendengarkan lagu ini. Slank itu salah satu favoritnya YW. Saya merasa YW sedang menyampaikan pesan terakhirnya pada kami.

Sampai saat itu, saya masih nggak percaya. Dia orang paling sehat yang pernah saya temui. Ketua grup pecinta alam. Penggila olahraga. Makannya pun gila-gilaan. Dan kami bahkan belum genap 20 tahun. How come?

Lalu kenangan mengalir. Ketika kami sekelas selama setahun dan sering kali duduk bareng dan ngobrol kesana kemari. Ketika saya curhat tentang kekasih saya dan masalah kami, sedangkan dia cerita tentang mantan pacarnya yang bernama N dan gebetannya si E (adik kelas kami waktu itu).

Saya masih ingat betul, saya bisa cerita tentang apa saja ke dia. Dia yang selalu ngakak ketika saya telat ngerti *oon*. Saya yang lemot ini juga bisa nanya apa saja, termasuk arti istilah jorok, sedangkan teman lain pasti udah kabur kalau saya nanyain.

Dia yang sabar ngajarin saya minum obat-obat maag saya yang segede jempol itu, karena dia prihatin saya minum obat dengan cara dikremus langsung pake gigi. Pahitnya minta ampun. Dia kasih saya permen M&M dan sebotol gede air mineral sampai saya bisa nelen permen tersebut pakai air.

Dia yang ngejagain saya ketika ada teman sekelas (namanya si M) ngejahilin saya kelewat batas dan bikin saya ketakutan, sampai pake korek api segala. Waktu itu saya benar ketakutan. Lalu dia masuk ke kelas, langsung menghalangi saya dari si M. Kemudian (saya tau dari pacar saya) kalau dia yang cerita ke kekasih saya tentang insiden hari itu dan mengajak kekasih saya untuk menghajar si M ini. Dia menjaga saya seperti yang diminta kekasih saya ke dia.

Dialah yang nemenin saya selama setahun terakhir saya di SMA, memastikan saya nggak sendirian dan kesepian di kelas baru. Dengan caranya yang bikin saya jengkel, ngambek, tersenyum, sekaligus ketawa sampai sakit perut.

Dia yang bandel setengah mati, tapi selalu datang awal ke sekolah untuk menyempatkan diri berdoa ke gereja Kotabaru dekat sekolah. Dia yang berkata, “kalau kita seiman dan kamu bukan pacar atau mantan pacar sahabatku, aku pasti sudah naksir kamu”. Yang saya jawab dengan dengusan, tentu saja. So pasti saya dibecandain lagi.

Dia yang nonton paling depan bersama pacar saya ketika saya ngeband dan memberi saya bunga liar, lebih karena mau bikin pacar saya jengkel. Dia yang meminta pas foto saya untuk disimpan di dompetnya, buat kenang-kenangan katanya, sambil tersenyum. Dia yang bilang saya akan baik-baik saja ketika saya kuatir meninggalkan bangku SMA dan lanjut kuliah di tempat baru.

Kadang saya masih suka memimpikan dia. Di mimpi itu kami duduk bareng dan ngobrol seperti biasa.

Ketika saya cerita ke Bapak, Bapak saya selalu bilang, ‘Doain temanmu. Kalau kamu bisa pulang kesini, sempetin ziarah ke makamnya.’

Lalu saya goggling namanya hari ini. I want to see if there’s anything left to remind me to him. And thank goodness, I found a little piece of him, disini.🙂

“My dearest friend, I am very sorry I couldn’t be there to say my last goodbye. I still feel regretful until now. However, I want to say thank you. Thanks for everything, for all the joy and laughter you brought in my days. Rest in peace, my precious friend, and say my hi to Allah. Miss you.”

Untuk seorang teman spesial kami, almarhum Yudho Wasono.

This is a little piece of my heart still remembering you.

20150522_152008after

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

2 thoughts on “untuk seorang teman

    1. Iya aku juga nggak nyangka pas nulis begini jadinya. Udah dipendam lama soalnya🙂

      Mau nambahin cerita tentang pacarnya yang kasih boneka itu, tapi nggak tega.. dan bukan aku juga yang mestinya cerita sik. Dan bakal tambah sedih juga nantinya.

      Mari mengenang bagian lucu dan gembiranya, pasti alm. juga ga senang lihat temannya sedih :’)
      Amiin.. makasih ya Feb😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s