Posted in anak, cerita hari ini, me

About Respect

Saya gatal. Gatal ingin menulis dan membagi ke medsos, terutama fb. Namun sekali lagi saya mampu menahan diri (untuk nggak mengupload di fb). Kalau untuk menulis dan share di blog saya nggak mampu. Menahan diri, maksudnya๐Ÿ˜€

Itu loh, sedang marak pemberitahuan tentang foto selfie yang merusak kebun bunga Amarilis di Jogja. Miris lihat gambar kebun bunga before & after-nya. Lebih miris lagi ketika melihat fotoย para selfie-ers yang berkunjung ke sana, menginjak-injak bunga dengan sembarangan demiย upload foto kerenย ke fb dan ig. Paling miris membaca caption mereka. Ada yang bilang bayar 5000 rupiah, jadi berhak lah harga segitu bunganya keinjek sedikit. Ada yang bilang (dengan bahasa kasar) intinya udah tau lah foto nggak nginjek bunga kok, nyari jalan kok untuk berada di tengah-tengah bunga itu. Kenyataanya? Kebun bunganya hancur berantakan.

Sedangkan pemiliknya meminta maaf ke pengunjung karena bunganya tak seindah kemarin-kemarin. Termasuk karena tidak siap taman bunga pribadinya dikunjungi beribu-ribu orang, jadi tidak cukup fasilitas yang memadai, seperti jalan dan lain sebagainya. *kasihan*

Benarkah ini masalah ketidaksiapan fasilitas dan pemberitahuan yang tidak memadai? Atau ini soal etika, sopan santun, budaya atau pendidikan?

Lalu saya berkaca pada diri saya sendiri.

Kembali ke ingatan masa kecil saya. Pernah, ketika saya kecil dan saya menangis karena sesuatu, lalu saya dihibur dengan diberi sebuah bunga, “cup cup, udah nangisnya, nih lihat bunganya indah, nih bunga buat kamu”. Pernah nggak kamu? Waktu itu sih ya saya terima aja bunganya.

Ketika saya sudah dewasa dan menjadi seorang ibu, pernahkah anak saya beritahu untuk tidakย memetik bunga sembarangan? Pernah, kalau itu bunga di halaman orang. Kalau di halaman sendiri, rumah eyangnya, atau bunga liar, saya biarkan saja. *maaf*

Lalu saya menemukan buku ini dan saya baca kembali. Rasanya makjleb.

20151201_090301
taken from the book “Respect and Take Care of Things” by Cheri J. Meiners

Ketika saya membaca kalimat diย buku ini bersama anak saya, lalu saya meminta anak sayaย menjelaskan apa yang dia lihat disini, terutama gambar gadis yang sedang berdiri di dekat rumpun bunga. Saya bertanya ke anak, ย pernah nggak kamu memetik bunga?

Arga : “Yes. But that’s wild flower, mommy.”

Me : “I know.”

Arga : “I want to pick it because it’s beautiful, and I want to give it to you because I love you.” *sambil menunduk* *merasa bersalah*

So sweet banget kanย bocah ini! (>o<)/

#abaikan๐Ÿ˜†

Me : “So now we’ll talk about choices. What do you think will beย the good choice and what can be the bad one?”

Arga : “The good choice is to leave them.” *suaranya lirih*

Me : “I agree.

The bad choice is when you pick them, because you know why? we can only see it’s beautiful for few minutes and then the flower will die.

Next time, why don’t you just tell and show me all beautiful flowers you find. All the beautiful things you want me to see and share with me. Then we can take pictures to remember how beautiful they are. Can you do that?”

Arga : “Okay.”

Mari kita berpikir, ada keindahan alam di dunia ini yang akan lebih baik atau cukup dinikmati dengan dilihat saja. Diambil gambarnya tentunya boleh, tapi dengan hati-hati. Dengan begitu, the beauty will stay longer, hopefully for next time, for future.

Kemudian, mari memulai dari diri sendiri. Lalu ajarkanย rasa hormat, respect, kepada anak-anak, the future generations.ย They should really know how toย be respectful. Respect others, things, including nature.

Pictures8
Keukenhof, 2014

Author:

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ in ๐Ÿ‡ณ๐Ÿ‡ฑ โ€ข wife&mom ๐Ÿ‘ช โ€ข parent teacher ๐Ÿซ โ€ข seasonal shopaholic ๐Ÿ‘œ๐Ÿ‘  โ€ข bookworm ๐Ÿ“– โ€ข dramafreak ๐ŸŽฌโ€ข bigeater ๐Ÿ๐Ÿฃ๐Ÿฐ โ€ข aspiring blogger ๐Ÿ“

4 thoughts on “About Respect

    1. Itu di Keukenhof, sering disebut The Garden of Europe mas.. Bukanya juga cuma bulan Maret-Mei, pas spring aja, mas.. Tiket masuknya bisa sekitar 200-300 ribuan kalo dirupiahin. Belum tiket kereta dan bus kesananya. Disana juga umpel-umpelan saking banyaknya turis yang berkunjung. Tapi nggak ada tuh, yang metik atau foto sampai nginjak-injak bunganya. Kalaupun ada spot favorit, semuanya ngantri buat foto disitu.. makanya saya miris juga baca berita yang di Jogja itu.

      1. katanya salah satu hal yang harus dibiasain kalo hidup disini mas, apa-apa jangan dirupiahin, nanti bikin sakit hati, hahaha.. Iya yang paling murah kalo masuk grup 20 org, per orangnya bayar 13.5 euro atau sekitar 190ribu mas. Kalo di Indonesia masuk taman safari yang di bali aja nggak sampai segitu ya? Tapi memang worth it untuk dilihat sih, walau sekali sajah๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s