Posted in friends, hidup di belanda

Hidup di Belanda: Etika ketika diundang ke rumah orang

Hi, apa kabar semuanyaaa.. Sudah lama ya sejak update yang terakhir, biar bagaimanapun saya kaget lihat statistik blog saya yang (alhamdulillah) lumayan stabil.

Kali ini, saya mau share tentang bersosialisasi di kancah internasyenel *halah* Walaupun pengalaman saya seuprit dan teman saya dikit, boleh lah ya saya bagi sedikit pengalaman saya ketika diundang oleh teman saya yang berasal dari dunia negara lain, baik untuk sekedar a cup of coffee, lunch atau dinner, atau undangan ulang tahun. 

1. Selama saya bergaul dengan buibu internasional, saya belajar bahwa kedekatan itu alami dan nggak bisa dipaksakan. Saya nggak bisa berharap diundang minum teh oleh seseorang yang saya kenal di satu lingkup pergaulan cuma karena teman saya yang lain diundang. Bingung? Iya saya juga bingung jelasinnya. Maksudnya gini. Misal di lingkup sekolah anak saya, ada ibu-ibu yang anaknya di kelas yang sama dengan saya. Tapi kalau kami (antara saya dan ibu yang lain) punya hubungan yang tidak terlalu dekat, ya nggak usah berharap diajak nge-teh atau kongkow-kongkow bareng. Most of them are honest and straight-forward people.

2. Undangan itu bisa disampaikan langsung, lewat email, text, whatsap, dsb. Dan yang agak lain, they will ask about your RSVP. Yes. Anda harus konfirm ke si pengundang apakah anda bisa datang atau tidak. Kalaupun enggak, simply say ‘No, I am sorry, I have another appointment that day’ is enough. Anda juga nggak harus jawab saat itu juga, ada teman yang bilangnya ‘I will confirm after I meet my dentist tomorrow’ atau ‘I’ll confirm by the end of this week’. Cek agenda anda dulu, sob.

3. Apakah undangan itu untuk minum atau makan, if you have any restrictions, tell themOr answer honestly when they asked. Misalnya teman-teman saya tahu bahwa I don’t drink and eat no pork, only helal meat. Kalau emang menu beratnya ada dagingnya, mereka akan beli daging di toko Turki langganan saya. Baik banget, ya. I have a very considerate friends, though. Lucky me. Ini berlaku juga kalau anda vegan, atau punya riwayat alergi misalnya kacang, susu, gluten, atau yang lain. Jadi menu yang disiapkan sesuai dengan tamunya dan sesuai dengan porsi anda. And because these people don’t like wasting food.🙂 Agak lain habit dengan di Indonesia ya, dimana untuk menjamu tamu biasanya kita siapkan melimpah ruah, mbanyu mili gitu😀

4. Whether in Indonesia or other place of the world, nasihat ibu selalu yang terbaik. “Jangan datang dengan tangan kosong”. Di sini, masakan atau snack buatan rumah yang sederhana bisa jadi buah tangan yang istimewa. Wine, juga salah satu opsi, namun teman saya yang orang sini bilang kalau anda sendiri bukan peminum wine dan anda nggak tau selera si tuan rumah, mending lupakan. Mau yang praktis? Bawakan bunga untuk si tuan rumah, beli di supermarket banyak dan harganya nggak mahal. Bawa jus satu kotak, kerupuk kemasan, buah (anggur, jeruk, pear) satu pack, atau gelas/piring plastik buat pesta, seharga hanya sekitar 1 euro juga bisa! Praktis, murah dan menjaga martabat.😆

5. Ini berlaku sama ketika anda menyaguhi (opo iki) undangan untuk acara potluck. Kalau anda anti sosial sebelumnya, kagak gahol, baru denger istilah ini, maka potluck berarti, anda datang dan anda bawa sesuatu, setelah semua ngumpul kita makan sama-sama. Tuan rumah biasanya menyediakan menu utama. Tapi ya itu tadi, kita selalu bisa bawa sesuatu, misalnya minum, buah, puding, kerupuk, tempe mendoan, atau apa lah. Saya agak “heran” pada beberapa kali acara (kebetulan dengan teman2 Indo), sudah diumumkan konsumsinya potluck but most of the people bring nothing. Ya nggak bakalan ada yang marahin juga, sih. But still. Where did you get your manners from? *frown*

6. Datanglah tepat waktu. Be punctual, people.

7. Sudah sampai di lokasi? Ring the bell and wait for 20 seconds. Kalau kebetulan tinggal di apartemen biasanya pakai interkom, jadi ditekan dulu nomer apartemennya trus nunggu tuan rumah ngomong, abis itu baru sebutkan siapa anda. Setelah dibukain pintu, dan diijinin masuk baru kita masuk. *yaiyalaaah* *dikampak*😆😆 I did have a nice impressions once when I got invited by another Indonesian friend living in NL and she married a very nice Dutch guy. Waktu kami datang, karena teman saya masih nyiapin hidangan, maka suaminya yang bukain pintu, nanya kabar kami dengan ramah, mempersilakan masuk sambil menahan pintu agar terbuka, setelah saya buka coat maka dia yang menaruh coat tersebut ke hanger, dan menyiapkan sandal rumah buat kami para tamunya. Gentleman sekali, ya😀

8. Sampaikan buah tangan anda ke tuan rumah. Setelah dipersilakan duduk, biasanya tamu akan ditawari minum. Dan biasanya kalau undangan tea time, sudah ada snack yang tersedia di meja. Kalau ditawarin, nggak perlu tolak 3x sambil malu malu ala di Indo. Sok atuh makan. Sambil ngobrol ya tentunya, jangan datang makan doang😆

9. Kalau diundang untuk tea time, artinya kunjungan singkat ya pemirsa. Sekitar sejam dua jam udah cukup. Kalau yang punya rumah sudah menunjukkan gelagat mau ada kerjaan lain atau ngomong langsung aku harus jemput anak jam segini, then it’s time to cabcus. Pamit, sambil bilang, ‘Thanks for inviting me, this is a lovely afternoon‘ atau ‘the food is really nice, can you share the recipe‘ atau basa-basi dikit lainnya. Atau undang balik ke rumah anda, someday.

10. Kalau undangan ulang tahun gimana? Ya bawain kado atuh. Kartu ucapan sama bunga juga bisa. Kadang orang sini nanya langsung kamu sukanya apa (biasanya ke anak sih) ataupun cari clue barang yang disukai dengan halus. Oh, gift card juga bisa jadi ide kalo bingung kasih kado. Gift card, misalnya dari toko baju/aksesoris (Esprit, Primark, Lucardi dll) atau perawatan tubuh (TBS, deTuinen) atau toko mainan anak (Intertoys, BartSmit) atau perlengkapan rumah (Blokker, Ikea) bisa jadi opsi. Dan kita bisa kasih mulai dari 5euro. Well, kalo kata beberapa blogger sih sekitar 15 euro pun kasih cash juga gapapa. Atau patungan juga bisa.

11. Oh iya, kalau dapat undangan ultah di satu tempat makan, ehm, jangan kaget ya, biasanya kita pesan dan bayar sendiri pesanan kita.

Segitu dulu ah. Nanti ditambah lagi kalo ada yang terlupa. Mo mamam trus jemput si bocah di sekolah. Tot ziens!🙂

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

6 thoughts on “Hidup di Belanda: Etika ketika diundang ke rumah orang

    1. Eh bukaaaan kalau kemarin kan kami yang ngunduh pengajian mas Aden. Ini remarks aja kok nanti kalau dapat undangan dari teman yang Dutch atau teman kampus😀

  1. “maka suaminya yang bukain pintu, nanya kabar kami dengan ramah, mempersilakan masuk sambil menahan pintu agar terbuka, setelah saya buka coat maka dia yang menaruh coat tersebut ke hanger, dan menyiapkan sandal rumah buat kami para tamunya.” terus kaya di kartun2, langsung matanya berbinar menatap si suami dengan genggaman tangan di dada, oooh you’re so kind….

    trus bilang cinta..

    trus dikampak istrinya..

    ^^, edisi imajinasi laper belum maksi

    1. iya betuuuul…

      tapi baru bilang you’re so kind…

      ditendang istrinya, trus pintu dibanting. brak.

      selesay. hahahah *edisi-maksi-pake-ramyun-masih-laper*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s