Posted in cerita hari ini, learning, me

the willingness

Topik tentang studi di luar negeri bagi saya dan suami adalah salah satu topik menarik yang tak habis-habisnya untuk didiskusikan.

Dulu ya, duluuuuu.. ketika suami sudah lulus seleksi PhD pada Desember 2012 (see here) maka dimulailah hari-hari penuh kebingungan bagi saya, memikirkan bagaimana caranya agar kami tetap bersama, dan akhirnya keputusan yang diambil adalah saya akan mengikutinya dengan studi S2 di universitas yang sama (see here). Langkah selanjutnya adalah “perburuan mencari TOEFL, LOA dan beasiswa” itu saya lalui dari bulan Januari-Maret (ketika saya mengirim berkas beasiswa saya).

Banyak yang berkomentar bertanya, lancar sekali jalan yang saya ambil, sampai-sampai kami bisa berangkat bersama sekeluarga ke Belanda pada 15 September 2013, dengan program yang berbeda (S2 dan S3), dan dengan sponsor beasiswa yang berbeda pula (StuNed & Dikti). Salah satu pertanyaan yang membuat saya speechless untuk menjawab. Biasanya cukup saya tanggapi dengan, iya, alhamdulillah, kami selalu bersama.

Usaha, upaya dan doa saya agar bisa membarengi suami saya, ya sudahlah ya, biar saya dan Allah SWT saja yang tahu seperti apa. Namun yang jelas, sejak awal suami saya berpesan kepada saya seperti ini. Saya masih ingat betul.

Maka ikhlaskanlah hatimu untuk belajar dari yang berhasil.” (Marhaento, 2013)

Kalau rajin browsing, pasti tau seberapa banyak sih yang sekali cari beasiswa langsung dapat? (No offense, sama sekali saya tidak bermaksud sombong). Susah dan penuh perjuangan, banyak blogger hebat yang sudah share pengalaman serupa.

Jadi, sejak awal, saya sudah mantap untuk merendahkan hati dan kepala saya untuk belajar dari para rekan-rekan yang telah sukses mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Walaupun mereka yang lebih muda, lebih hijau, dsb, mereka yang telah makan asam garam tentang beasiswa ke luar negeri patut untuk dijadikan referensi. Termasuk ketika saya sedang studi master di Belanda. Bagi saya, siapapun atau apapun bisa jadi sumber referensi untuk belajar. Tinggal kita  yang memilah dan mengolah informasinya, kan?

Dan kalau kita membahas tentang berjuang mendapatkan sesuatu, maka hasilnya tetap kemungkinan ada dua, berhasil atau gagal. Belajar dari keberhasilan dan kegagalan (yang tidak sedikit) baik dari saya sendiri dan orang lain, maka ini yang kami simpulkan:

And it’s all coming back to the willingness to listen and learn.” (Marhaento, 2015)

Mo nulis lagi tapi bingung deh.

Udah segini dulu ya.

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s