Posted in me, office

Sebuah renungan tentang Kebahagiaan (i)

Enschede, March 27th 2016

 

Tulisan kali ini akan sedikit berbeda dengan postingan lainnya. *halah* Hal ini disebabkan karena, once in a while, topik ini akan muncul dengan sendirinya di benak saya. Macam automatic update-nya si laptop ini yang suka muncul trus saya postpone aja terus sampai saat ini. #eeaaaa

Masih ingat waktu saya cerita tentang pengajuan cuti CLTN saya disini? Well, to be honest, tulisan itu saya buat ketika “masalah” sudah teratasi, kepala sudah dingin, hati saya sudah semeleh, dan jiwa raga saya sudah bermil-mil jauhnya dari tempat kerja. Ada beberapa yang mampir nanya pertanyaan seperti berikut ini.

Apakah keputusan untuk CLTN terasa mudah dan saya mantap menjalaninya?

>> Mudah, tidak. Mantap, iya.

Apakah ada orang-orang yang menakut-nakuti memperingatkan akan konsekuensi atau kesulitan yang mungkin timbul karena keputusan tersebut?

>> Banyak.

>> Mulai dari nasehat halus (seperti, “nanti susah lho pas mo balik, belum tentu ada formasinya” atau “prosesnya nggak bisa diprediksi lho, jadi nggak bisa diburu-buru“) sampai ke komentar pedas (seperti, “mbok ya disini aja, cuman tinggal dua tahun to.. ehtapi Astuti anaknya manja sih ya, nggak bisa jauhan sama suaminya” atau, “nanti kalo belum selesai dan udah nggak disini, dihitung absen per harinya lho. Tau kan artinya, kalau sampai sekian hari berarti disiplin berat. Nanti bisa dikeluarkan.

Lalu, apakah saya merasa berat?

>> Waktu itu, iya.

Kenapa?

>> 1. Proses yang jalan di tempat. (Misalnya, draft ngendon di  meja selama berminggu-minggu. Hanya untuk menanyakan informasi: syarat umum adalah sudah bekerja selama lima tahun.)

>>2. Alasan yang nggak masuk akal, seperti petugasnya baru di bagian kerjaan ini, atau baru pengalaman pertama mengurus kasus begini. Atau alasan klasik, lagi banyak kerjaan lain. Yang akhirnya kembali lagi ke poin 1.

>>3. Kalau saya maju (untuk mengurus berkas saya sendiri, yang mana saya juga nggak keberatan sama sekali), dibilang melangkahi wewenang. Kalau saya pasrah sama prosesnya, (lagi-lagi) kembali ke poin 1.

………………………

Ngerti kan rasanya.

Tipping point atau titik baliknya adalah hari kemerdekaan tahun lalu. Ingat betul saya, selepas upacara saya dipanggil dan diberitahu dengan kasar tentang pengajuan cuti saya. Bukan, bukan sama big boss, dia mah halus kalo ngasih tau ke saya. Pokoknya bikin sakit hati cara ngomong si orang tersebut. Di jalan waktu saya naik motor pulang, air mata saya sudah mengucur deras. Tidak terbendung. Sampai ke rumah, mendapati suami saya duduk di meja makan pun saya masih menangis. Ditanya suami saya hanya diam sambil menangis tersedu-sedu, entah untuk berapa lama. Suami hanya duduk, diam, sambil menatap dan menunggui saya.

Akhirnya saya buka suara, dan saya ceritakan ke suami semuanya. Kesulitan, perlakuan, peringatan sampai kata-kata pedas semua saya tumpahkan ke suami. (Iya, sebelumnya saya diam. Emang tabiat jelek saya, tidak mau bikin orang-orang terdekat saya khawatir, jadi saya akan berusaha menyelesaikan dulu masalahnya. Biasanya saya cerita kalau masalahnya sudah teratasi).

Lalu, suami saya berkata seperti ini,

“Kalau begitu, ini waktu yang baik, bukan? Untuk memikirkan tentang satu hal. Kebahagiaanmu. Apakah kamu bahagia seperti ini? Dengan kondisi kerjamu yang seperti ini? Justru aku mau nanya, gimana sebenarnya perasaanmu selama ini? Dan apa yang kamu tangisi sekarang? Apakah memang seberharga itu sampai harus ditangisi?”

Dan saya terdiam. Merenung lama. Sampai sekarang.

(bersambung)

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

3 thoughts on “Sebuah renungan tentang Kebahagiaan (i)

    1. Iya, udah saya reply ya, pls cek inbox.
      For review writing and proofreading, I need quite some time to read and think about it. Saya nggak sembarangan ngasih masukan, jadi saya perlu waktu🙂

      Cutinya masih beberapa tahun lagi kok, hehe.
      Sukses ya🙂

      1. Waaa makasih banyak mb cetut.
        Udah saya cek, tp klo dr hp g kluar komen2nya. Will check asap as I get home. Makasih byk ya mb cetut🙂

        Akupun udah sudah “cuti” jd org kantoran. Hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s