Posted in anak, basic school, hidup di belanda

Memilih Sekolah Anak di Belanda (part 2)

Setelah tulisan saya tentang mencari sekolah anak di Belanda part 1 disini, sekarang saya lanjut sharing tentang pengalaman saya untuk memilih sekolah bagi anak saya.

Yang sudah baca part 1 pasti sudah tau, ada berbagai pilihan sekolah dan ada konsekuensi dari masing-masing pilihan tersebut. Bagi saya pribadi, ini beberapa pertimbangan saya ketika akhirnya kami memutuskan untuk menyekolahkan anak di International School:

  1. Rekomendasi dari guru peuterspeelzal atau pre-school anak saya yang sudah mengawal masa pertama sekolahnya selama 6 bulan. Bahwa anak saya sudah memiliki kemampuan dasar berkomunikasi dalam bahasa Inggris, untuk anak usia 3.5 tahun sudah lumayan lancar.
  2. Mempertimbangkan waktu kami tinggal di Belanda yaitu selama ± 4 tahun, jadi ketika kami kembali ke Indonesia usia anak saya > 7 tahun, dan sudah waktunya masuk sekolah dasar. Kalau saat ini kami memilih sekolah berbahasa Inggris, maka akan tetap terpakai kedepannya, dan siapa tahu juga bisa bersambung ke International School di Jogja atau di sekolah yang ada kelas internasionalnya untuk mempermudah masa transisinya nanti.
  3. Di sekolah internasional, kurikulum pelajarannya berbasis British Curriculum dan IPC, yang juga sudah umum di Indonesia.
  4. Akan ada banyak sekali kesempatan untuk mempelajari budaya (baik anak saya maupun ibunya :p ) dari berbagai negara di komunitas internasional.
  5. Lokasi sekolah internasional berada dekat centrum (pusat kota). Ini pertimbangan pribadi dari emaknya sih, jadi kalau jemput bisa sekalian belanja (groceries maksudnya!😀 ) gitu.😆
  6. Di sekolah internasional, komunitas tidak hanya untuk anak tapi juga untuk para ibu yang tergabung di IST Moms. Ada banyak kegiatan, kursus dan lain-lain.

Kekurangan (-)

Sekolah di International School berarti ada sejumlah biaya yang harus dikeluarkan, yang biayanya lumayan besar dibandingkan sekolah di public school.

International School Twente

daalweg
source: maps.google.com
  • Kurikulum sekolahnya menggunakan International Primary Curriculum (IPC) dan the British National Standards for Literacy and Numeracy
  • Tahun ini IST menjadi sekolah ke-15 (dari 1900 sekolah) terakreditasi IPC di seluruh penjuru dunia
  • Kelas dibatasi jumlah murid no more than 20 children per kelasnya
  • IT facilities, termasuk digital board dan iPad
  • School library dan class library (buku-buku Oxford Reading Tree dan Phonics)
  • Everyone equal, everyone different, everyone special
  • Promote ‘intercultural understanding, tolerance and respect
  • Kelas gym (physical education), music, expressive art dan Dutch lessons
  • Homework dengan software bisa diakses dengan komputer/tablet/smartphone, latihan disubmit secara online untuk reading dan mathematics
  • Banyak workshop untuk orang tua
  • Parental involvement in school activities
  • School report 3 kali setahun dan parent/teacher conversation
  • School trips, field trips, workshop bagi anak
  • Extracurricular: gym, swimming, biodanza, breakdance, language, dll

IPC

Saya bahas sedikit mengenai IPC yang saya ketahui. Apa itu IPC? IPC adalah International Primary Curriculum yang merupakan kurikulum tematik, child-friendly, dengan target ajar spesifik mencakup subyek : Science, Information Technology, Design Technology, History, Geography, Music, Physical Education, Art and Society, dengan konsep ‘international mindedness‘.

ipc01
source

Karena tahun 2015-2016 ini saya ditunjuk menjadi parent teacher atau class mom untuk kelas anak saya, sehingga saya jadi ikut belajar tentang IPC. Kelas anak saya terdiri dari anak-anak usia 4-5 tahun (Kindergarten atau Reception atau Groep1 kalo Dutch) dan usia 5-6 tahun (Year 1 atau Groep2 kalau di sekolah Dutch).

Salah satu contoh tema IPC adalah Food. Maka anak-anak akan mulai entry point IPC Food dengan berdiskusi mengenai apa saja yang mereka ketahui mengenai Food. Pada saat itu saya terlibat untuk membuat restaurant/dining bernama Teddy’s Diner, lengkap dengan logo dan menunya🙂 Lalu anak-anak bisa berperan menjadi chef, pelayan, kasir dan pelanggan. Disini mereka juga belajar berhitung menggunakan mesin kasir. Mathematics, checked!😀

Lalu mereka juga ada workshop untuk mengelompokkan makanan berdasarkan jenisnya (meat, fruit, etc) dalam satu tim berisi dua orang, sehingga mereka belajar bekerja sama. Cooperation, checked!😀 Lalu mereka juga meniru untuk membuat makanan misalnya dalam bentuk gambar, atau berkreasi dengan playdoh, dll.

Setelah itu mereka belajar geografi dengan menggunakan peta. Anak-anak akan diminta untuk menunjuk negara asal mereka dan menjelaskan makanan di negaranya seperti apa. Dan yang paling menarik, ibu-ibu diminta terlibat untuk membuat workshop makanan dari negara masing-masing. Jadilah anak-anak belajar membuat sushi dari Jepang, pepernoten dan taai taai dari Belanda, French treats (semacam manisan dari Perancis), Kwark Dough dari Jerman, Nasi Goreng dari Indonesia, dan sebagainya😀

Dan mereka mengakhiri dengan evaluasi, apa saja yang telah mereka pelajari tentang tema Food. Jadi lewat tema, anak-anak belajar tentang what happens around them. Dan tema ini selalu berganti hampir setiap satu-dua bulan sekali. Asik kan! *emaknya hepi*

Phonics

Bagi saya, ini hal baru untuk dipelajari. Jaman dulu sekitar tahun 1990an waktu saya kelas 4 SD, di tempat les saya diajari spelling dengan metode abjad ABCDE, dibaca ‘A Be Ce De E‘ (Bahasa) atau ‘Ei Bi Si Di I‘ (English). Sekarang metodenya lain. Namanya Phonics ini, penjelasan lengkapnya silakan di googling sendiri ya. Panjang lebar soalnya.

Intinya bukan sistem abjad ABCDE, tapi berbasis pada phoneme yang digunakan dalam bahasa Inggris, mencakup 45 phonemes ini. Yang paling dasar, paling umum dipakai adalah S A T P I N, yang paling banyak digunakan English words. Misalnya kata SIT, anak-anak tidak diajari untuk spelling ‘Es Ai Ti‘ tapi ‘SSS IIH TTE‘. SSS nya diucapkan sambil mendesis seperti ular. Itu konsep suara. Kalau tertarik untuk mengajari anak di rumah, bisa digoogling atau di youtube juga banyak penjelasannya.

Dan waktu di briefing sama gurunya si bocah, saya malah ingat metode ibu saya ketika mengajari saya membaca. Metodenya sama, setiap malam sejak usia setahunan saya diajak ‘mengurai kata’ misalnya ‘SAPI itu apa deek?’ trus Ibu memberi contoh ‘Sss-aaaa-pppeh-iiiii’ tanpa mengenalkan bentuk abjad dulu. Dengan cara itu Ibu saya berhasil membuat saya mampu membaca di usia 3 tahun. Iya, dulu saya 3 tahun bisa baca koran Kedaulatan Rakyat, sampe diingat sama semua tetangga di kampung.😀

Anyway. Konsep phonics atau suara ini akan membentuk anak mengenali huruf dan memblending huruf menjadi kata. Jadi memang ketika anak sudah mengenal huruf, memahami phonics dan memblending menjadi satu kata, anak akan sendirinya bisa bicara, membaca, dan menuliskan kata tersebut. Langsung three in one gitu lah.😆

phonics01
source

Terus, ini buku latihannya. Ada levelnya, mesti dikerjain satu per satu.

phonics02
source: google

Itu, dan masih banyak lagi yang bisa saya share. Tapi karena udah panjang banget postingan ini, saya cukupkan sekian dulu aja, ya. Yang jelas setelah 2 tahun berada di International School, anak saya bisa memaksimalkan potensinya disini. Bukan berarti sekolah Dutch nggak bagus, ya! (No mocking please!) Menurut saya sekolah Dutch juga bagus sekali. It’s just that for my son, dia cocok bersekolah di sekolah internasional.

Apa saja perkembangan anak saya yang dieksplore di sekolah?

  1. Issue tentang hypermobility atau kelenturan tubuhnya. Diawali dengan awareness dari guru gym, guru sekolah, dokter (huisaarts), kinderphysiotherapie dan akhirnya sampailah kami ke podotherapie untuk anak saya. Dan kini anak saya sudah sangat baik kondisinya.
  2. Issue tentang social and emotional development-nya. Siapa sangka kalau bersosialisasi (yang nampaknya mudah) bisa jadi suatu tantangan bagi seorang anak? Disini kembali gurunya si bocah lah yang sangat concern dengan hal ini, dan kami bekerja bersama, guru, orangtua, dan lingkungan sekitar untuk membantu si anak mengatasi hal ini.
  3. Academic skills, terutama communication, literacy dan reading-nya yang alhamdulillah luar biasa diatas rata-rata, dan readingnya sudah mencapai ORT (Oxford Reading Tree) stage 6. Itu sekitar 2 tahun diatasnya si bocah.

Ini tugas anak-anak untuk menceritakan apa yang mereka lakukan saat weekend, dikerjakan di sekolah tanpa bantuan gurunya. He really tried to tell stories with his drawing and his writing. Kalau saya menilik ke belakang, dia berkembang sangat baik bukan hanya masalah menggambar dan menulis, namun juga tentang ingatannya saat weekend termasuk detail-detail kecil yang terjadi selama weekend. I am so proud. Alhamdulillah🙂

Sekian dulu. Nanti kalau ada yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, akan saya share di post selanjutnya. Sukses!

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

3 thoughts on “Memilih Sekolah Anak di Belanda (part 2)

    1. Oya? Syukurlah Arga nambah teman lagi, the more the merrier, seneng kalau komunitas Indonesia juga berkembang di IST.
      Iya nanti kalau udah daftar, gabung di grup whatsappnya IST Moms ya.
      Sebulan sekali ngupi cantik kita di La Place😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s