Posted in friends, me

Kisah si Bayam

Hai semuanya. Kali ini saya mau bercerita. And to be honest, saya nggak tau mau mulai dari mana. Kisah ini sudah saya pendam agak lama, simply because I want to calm myself first dan mencoba menuliskannya di kemudian hari biar emosi saya juga agak mereda. Dan kebetulan pula ini Ramadan, jadi musti kalem :) Namun saya sungguh berharap bahwa pesan ini sampai kepada seseorang yang saya tuju.

Saya punya seorang teman, sebut saja namanya Bayam. Seorang wanita yang manis dan baik, walaupun di awal pertemanan kami pernah ada konflik, namun seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat dan semakin mengerti satu sama lain. Si Bayam ini banyak membantu saya dalam urusan sekolah dan pindah ke luar negeri. Kebetulan suami saya juga kenal baik si Bayam ini. Lalu Bayam menikah sekitar 1-2 tahun lalu dengan seorang lelaki, kita sebut saja Jeruk Purut. Namun baru-baru ini Bayam sedang mengalami musibah dan dia masih berduka.

Kemudian pada suatu hari suami saya dikontak teman lama kami. Seorang wanita yang kita sebut saja si Cabe. Dalam percakapan pertama itu, Cabe bertanya dan ingin mengkonfirmasi apakah kami kenal dengan Bayam dan apakah benar Bayam telah menikah dengan Jeruk Purut. Percakapan terjadi ketika si Jeruk Purut sedang ada tugas dinas di suatu pulau berdanau. #kode Dan ternyata selang berapa hari kemudian, Bayam menyusul kesana, dan foto mereka yang saya screenshot yang langsung kami tunjukkan sebagai bukti bahwa Bayam memang istrinya Jeruk Purut.

Dan inti dari percakapan antara Jeruk Purut dan Cabe selama beberapa hari itu adalah:

  1. Pada awal pembicaraan, Jeruk Purut mengaku bahwa dia jomblo selama 2 tahun terakhir.
  2. Jeruk Purut bilang tidak ada cincin nikah (dan tidak dipakai), kalau ada cincin dipake buat gaya-gayaan saja.
  3. Jeruk Purut menyarankan Cabe untuk punya pacar, biar ada yang support uang jajan dan beliin ini-itu.
  4. Setelah akhirnya Cabe mengetahui tentang Bayam, Jeruk Purut bilang kalau perempuan ga boleh mendouble laki, kalau laki boleh, karena begitu di agamanya.
  5. Padahal Jeruk Purut tahu bahwa Cabe sudah bersuami, dan Cabe menolak karena berarti dia menyalahi ajaran agama. Cabe bilang kalau Jeruk Purut mau cari pacar maka semestinya cari wanita single kalau memang akhirnya mau poligami.

Fyi, Jeruk Purut adalah lelaki terpelajar bertampang kutu buku yang nampak baik, sholeh, sukses, kaya raya, dan hidupnya nampak nyaris sempurna. Cincin berliannya aja mungkin karatnya lebih gede dari umur anak saya. Istrinya masih muda, berwajah manis, sholehah, punya pekerjaan yang mapan dan walaupun mereka belum dikaruniai anak, toh mereka juga belum lama menikah. They look good and happy together.

Waktu itu saya dan suami sudah berusaha positive thinking, oh mungkin Jeruk Purut sedang menjajal kelurusan dan kejujuran si Cabe karena mau ada urusan bisnis atau apalah itu yang menyangkut duit berM-M.

Iya, bisnis semata.

Bisnis mbahmu.

Absolutely nonsense.

Menurut saya Jeruk Purut adalah lelaki OKB nggak bener yang iseng dan nakalnya telat dan telah kebacut mencemarkan nama baiknya kepada semua Cabe-cabean yang digodanya. Apalagi istrinya si Bayam masih dalam suasana berduka. Sungguh terlalu. *KZL*. Padahal di usia segini ini mestinya sudah dalam fase “sudahlah” ke semua impuls emosi dan dorongan untuk berbuat nakal, selingkuh dari pacar, dan semacamnya. [Fyi, saya sudah menyimpan semua screenshots percakapan antara Jeruk Purut dan Cabe. I will keep it for myself semisal kalau ada yang menuduh saya fitnah di kemudian hari.]

Ini jadi semacam warning buat saya dan suami juga. Suami saya bilang bahwa tidak ada alasan yang bisa dibenarkan dari perbuatan selingkuh dari pasangan. Saya bilang bahwa kita perlu berjanji lagi, walau dalam hati masing-masing, untuk selalu jujur dan mengkomunikasikan semuanya satu sama lain. [Bahkan untuk hal terkecilpun, seperti kalau saya masak nggak enak, bilang. Kalau saya nggak perhatian, bilang. Kalau saya asyik mengurusi diri saya sendiri, bilang.]

Suami bilang untuk jujur juga dimulai dari hal kecil. Seperti HP atau komputer yang tidak perlu di password (atau saling tau password satu sama lain). Bagi kami, buat apa di password? Tidak ada rahasia di antara kami. Teman dia, teman saya juga. Kolega dia, saya tau juga.

Saya sampaikan ke suami bahwa kalau dia ada urusan dengan teman/kolega perempuan, let me know first. Bukan mau kepo atau nggak percaya sama suami. Karena saya nggak mau dengar kabar seperti itu dari orang lain. [P.S. Bayangkan ketemu teman dan dia bilang, “Tadi siang saya lihat suamimu sama perempuan turun dari mobil di daerah XX.” Kalau saya sudah tau sebelumnya saya bisa tepis dengan bilang, “Oh iya, itu mbak X, teman kerjanya, mereka ada urusan mau ke percetakan di daerah XX.” Rampung masalahnya.]

Kami pun setuju bahwa kami mau jadi orang terdekat satu sama lain dalam hal apapun (and I wish he will do me the same thing!). Karena sayalah yang akan menjaga aib dan malunya di dunia (dan inshaAllah di akherat nanti). Kalau dia berbuat salah, saya juga akan turut memperbaikinya. Menjadi orang pertama yang mendengar kabar baik dan buruk darinya. Menemaninya di saat susah dan senang.

Pesan moral hari ini:

“Cinta yang membara ketika masih pacaran bisa saja hilang. Namun kasih sayang, respek dan hormat pada pasangan harus selalu dijaga. Wedding ceremony finished in one day, but marriage last forever. Selalu ingat kunci pernikahan: komitmen, kejujuran, komunikasi. Semoga kita bisa saling menjaga dengan pasangan masing-masing.”

Dan untuk kamu, yang sedang baca ini, sekali-kali cek lah whatsapp suamimu berilah perhatian lebih pada suamimu. Laki-laki tetaplah makhluk yang punya ego segede dosa dan butuh perhatian, dimanja, disanjung, disupport dari istrinya. Saya tidak mau bilang kepadamu, iya kamu, secara langsung simply because.. ini bukan urusan saya, karena saya tidak mau membahayakan rumah tangga seseorang, dan karir teman saya, dan mungkin apa yang saya tidak tahu lebih banyak daripada apa yang saya ketahui. But I do care about you, sister. So take care of yourself. And your marriage. 

Dan untuk Jeruk Purut, somehow, kalau kamu membaca ini.. well, this is a warning for you. You better treat your wife and keep your promise for your marriage. I have an Ace card in my hand now, so don’t you dare do this again to my friend.

Sekian dan terima kasih.

 

Author:

🇮🇩 in 🇳🇱 • wife&mom 👪 • parent teacher 🏫 • seasonal shopaholic 👜👠 • bookworm 📖 • dramafreak 🎬• bigeater 🍝🍣🍰 • aspiring blogger 📝

4 thoughts on “Kisah si Bayam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s